News  

Lestarikan budaya, lomba baca bahasa Melayu digelar di Pontianak

Karena kegiatan lombanya menggunakan bahasa Melayu Pontianak, kami mengambil tema “Bahasa Lestari, Keluarga Sadar Literasi”, artinya bahasa Melayu Pontianak akan terus ada

Pontianak (ANTARA) – Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak bekerja sama dengan Komunitas Read Aloud Kalimantan Barat menggelar lomba baca menggunakan bahasa Melayu dalam melestarikan budaya setempat.

Pegiat Read Aloud Kalbar, Widiantoro di Pontianak, Senin, mengatakan, sudah dua tahun pihaknya berdiri dan aktif di Kota Pontianak, salah satunya menggelar lomba baca menggunakan bahasa Melayu.

Ia menambahkan agenda “Bace Pontianak” diselenggarakan, selain karena memeriahkan Hari Jadi ke-251 Kota Pontianak, juga menyemarakkan bulan bahasa dan sastra 2022.

“Peserta lomba yang sebagian besar anak-anak bergantian membaca nyaring, kemudian direkam dalam bentuk video dan dimunculkan lewat Instagram. Lomba ini dimulai hari ini lalu pemenangnya diumumkan pada 23 Oktober mendatang secara daring,” katanya.

Menurut dia, praktik membaca nyaring tersebut memberikan banyak manfaat kepada tumbuh kembang psikologis anak.

“Karena kegiatan lombanya menggunakan bahasa Melayu Pontianak, kami mengambil tema ‘Bahasa Lestari, Keluarga Sadar Literasi’, artinya bahasa Melayu Pontianak akan terus ada,” kata  Widiantoro.

Sementara itu Wakil Wali (Wawali) Kota Pontianak, Bahasan mendukung setiap gerakan literasi di kota itu, karena sejalan dengan visi dan misi Kota Pontianak, yaitu “Pontianak Kota Khatulistiwa Berwawasan Lingkungan, Cerdas dan Bermartabat”, salah satunya seperti yang digencarkan oleh Komunitas Read Aloud Kalbar.

“Kami sangat mendukung dengan diselenggarakannya gerakan literasi, apalagi ini diadakan dalam rangka menuju Hari Jadi ke-251 Kota Pontianak,” katanya.

Baca juga: Penelitian: Bahasa Melayu di Brunei memudar

Baca juga: Negara serumpun berharap pada Indonesia soal bahasa Melayu

Baca juga: Singapura kagumi penerapan Bahasa Indonesia dalam keseharian

Secara statistik di tingkat nasional, kata dia, budaya membaca memang diakui masih lemah. Oleh sebab itu, menjadi fokus pihaknya agar generasi mendatang dididik untuk gemar bahkan memerlukan bacaan berkualitas.

Apalagi, saat ini banyak tantangan yang dihadapi untuk menjadikan anak-anak gemar membaca terutama di era digitalisasi saat ini.

“Tentu tantangannya adalah bagaimana kita selaku orangtua, pembimbing dan pendidik, membuat bacaan itu menarik sehingga anak-anak berminat untuk membaca, bahkan merasa perlu akan literasi,” katanya.

Wawali  berharap, melalui agenda ini tercipta kesadaran secara kolektif seluruh keluarga yang ada di Kota Pontianak. Meski perlahan, dirinya optimistis apabila masyarakat menanamkan kebiasaan membaca, Kota Pontianak mampu sejajar dengan kota-kota besar di Indonesia bahkan dunia.

“Semoga para penggerak ini senantiasa diberikan semangat, konsistensi serta komitmen dalam menjalankan cita-cita mulia. Karena saya paham, tidak mudah untuk memberikan pemahaman, apalagi kepada anak-anak yang berusia lima tahun ke bawah,” demikian Bahasan.

Baca juga: Bahasa Melayu Pontianak ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda

Baca juga: Delapan budaya Pontianak ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda

Baca juga: Badan Bahasa lakukan pengayaan kosakata dari bahasa Melayu Jambi

Baca juga: Ismail Sabri gunakan Bahasa Melayu saat lawatan ke lima negara

 

Pewarta: Andilala
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Artikel ini bersumber dari www.antaranews.com.