IMF: Prospek Ekonomi Global Suram, Asean Jadi Titik Terang

portalutama.com – Dana Moneter Internasional (IMF) kembali mengungkapkan sejumlah tantangan perekonomian global yang dapat memperburuk proyeksi pertumbuhan pada tahun depan.

Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional Kristalina Georgieva mengatakan peluang pertumbuhan global turun di bawah 2% pada 2023 meningkat akibat efek lanjutan dari perang di Ukraina dan perlambatan simultan di Eropa, China, dan Amerika Serikat (AS).

Georgieva mengatakan pada konferensi Reuters NEXT bahwa dia sangat prihatin dengan perlambatan di China karena ekonomi terbesar kedua di dunia itu telah menjadi mesin pertumbuhan global yang kuat.

IMF akan memperbarui prospek ekonominya pada Januari dan gambaran “baru-baru ini menjadi gelap berdasarkan apa yang kita lihat dalam sentimen konsumen, dalam sentimen investor,” katanya, dilansir Reuters, Jumat (2/12/2022).

Adapun, pada Oktober IMF memangkas perkiraan pertumbuhan globalnya untuk 2023 menjadi 2,7%, dibandingkan dengan perkiraan 2,9% pada Juli. IMF pun memperingatkan bahwa kondisi dapat memburuk secara signifikan tahun depan.

Pada saat itu, IMF menempatkan 25% kemungkinan pertumbuhan global jatuh di bawah 2% tahun depan, sebuah fenomena yang hanya terjadi lima kali sejak 1970, dan mengatakan ada lebih dari 10% kemungkinan kontraksi PDB global.

“Kami khawatir bahwa kemungkinan ini mungkin akan naik sedikit lebih jauh,” kata Georgieva.

Sementara itu, dalam International Monetary Fund at the ASEAN+3 Economic Cooperation and Financial Stability Forum, Georgieva mengatakan wilayah Asean menjadi titik terang bagi perekonomian global dengan proyeksi pertumbuhan sebesar 5% pada tahun ini dan sedikit moderat pada tahun depan.

“Prospek masih sangat tidak pasti dan didominasi oleh risiko. risiko dari perang, dari pengetatan keuangan global, dari perlambatan di Cina,” tuturnya dikutip dari akun YouTube AMRO-Asia, Jumat (2/12/022).

Dia juga menekankan perlunya meningkatkan kewaspadaan terhadap inflasi yang masih berada dalam tren peningkatan. Menurutnya, inflasi di Asean diperkirakan rata-rata ‘hanya’ 4% pada tahun ini, namun tekanannya terus meningkat seiring dengan pelemahan mata uang lokal terhadap dolar AS.

error: Content is protected !!