Xi Isyaratkan China akan Pertahankan Kebijakan terhadap Hong Kong, Taiwan

Berbicara pada pembukaan kongres partai yang diselenggarakan dua kali dalam satu dekade yang diharapkan memberinya masa jabatan lima tahun ketiga, Pemimpin China Xi Jinping mengatakan China akan melanjutkan kebijakannya terhadap Taiwan dan Hong Kong yang semi-otonom. Kebijakan itu telah dikecam keras oleh Amerika Serikat dan negara-negara demokrasi lainnya.

Pemerintahan Xi memberlakukan undang-undang keamanan nasional di Hong Kong yang telah membungkam suara-suara oposisi dan tuntutan untuk demokrasi.

“Kita akan memastikan pemerintah pusat menjalankan yurisdiksi keseluruhan atas Hong Kong dan Makau dan memastikan roda pemerintahan dijalankan oleh patriot,” kata Xi kepada kongres partai di Beijing.

Xi menegaskan kembali bahwa China tidak akan mengesampingkan penggunaan kekuatan untuk membawa pulau Taiwan yang berpemerintahan sendiri di bawah kendalinya.

“Kita akan terus mengusahakan reunifikasi damai dengan ketulusan terbesar dan upaya maksimal. Tapi kita tidak akan pernah berjanji untuk meninggalkan penggunaan kekuatan (militer), dan kita memiliki pilihan untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan,” tandasnya.

Taiwan dan China berpisah selama perang saudara pada tahun 1949 yang membawa komunis berkuasa di China.

Banyak orang Taiwan menolak istilah “penyatuan kembali.” Mereka mengatakan bahwa mereka tidak pernah menjadi bagian dari komunis China.

“Reunifikasi penuh tanah air kita harus diwujudkan dan tanpa ragu dapat diwujudkan,” kata Xi.

Sementara itu, orang-orang Tibet di pengasingan yang tinggal di kota Dharamsala, sebuah kota pegunungan di India utara menggelar protes pada hari Minggu (16/10) untuk mengutuk Kongres Nasional Partai Komunis China ke-20 di Beijing. Para pengunjuk rasa termasuk, biksu, mahasiswa, anggota parlemen Tibet di pengasingan. Mereka berjalan sambil memegang bendera, spanduk dan poster ketika mereka berteriak menentang Xi.

Namgyal Dolkar, anggota parlemen Tibet di pengasingan, adalah salah seorang demonstran. “Mereka tidak lain adalah rezim diktator, di mana semuanya didikte oleh Xi Jinping. Kita tahu bahwa dia akan dinyatakan sebagai pemimpin…pemimpin PKC lagi. Kami ingin mengungkapkan fakta tentang apa yang sebenarnya terjadi di dalam Tibet,” katanya.

Kongres Nasional Partai Komunis China ke-20 yang diikuti oleh sekitar 2.300 delegasi dari seluruh China itu dimulai di Aula Besar Rakyat yang luas di sisi barat Lapangan Tiananmen di Beijing. [lt/jm]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.