Warga Sambut Baik Kemungkinan Sunak Jadi PM Inggris Mendatang

Warga London hari Senin (24/10) menyambut baik kabar bahwa mantan menteri keuangan Rishi Sunak tampaknya akan menjadi perdana menteri Inggris yang berikutnya setelah pesaingnya, mantan perdana menteri Boris Johnson, mundur dari persaingan.

Johnson, yang disingkirkan pada Juli lalu di tengah-tengah skandal etika, secara luas diperkirakan akan mencalonkan diri sebagai pemimpin Partai Konservatif yang berkuasa untuk menggantikan Liz Truss. Truss pekan lalu mengundurkan diri setelah paket ekonominya yang memangkas pajak menimbulkan gejolak di pasar keuangan dan melenyapkan kewenangannya di dalam partai yang berkuasa.

Johnson menghabiskan akhir pekan lalu untuk berupaya menggalang dukungan dari sesama anggota parlemen setelah ia kembali dari liburan di Karibia.

Pada Minggu malam ia mengatakan ia telah mengumpulkan lebih dari 100 nama, ambang batas untuk mencalonkan diri.

Tetapi Sunak mengumpulkan dukungan terbuka lebih dari 100 anggota parlemen dari partai Konservatif melebihi Johnson dan mantan menteri kabinet Penny Mordaunt.

Johnson mengemukakan dalam sebuah pernyataan bahwa ia menyimpulkan “kita tidak dapat memerintah secara efektif kecuali jika kita memiliki partai yang bersatu di parlemen.” Sunak dapat diangkat sebagai pemimpin baru partai paling cepat Senin siang.

Seorang warga London yang tidak menyebutkan namanya mengatakan sama sekali tidak sedih atas mundurnya Boris Johnson dalam persaingan.

Ia menambahkan, “Saya pikir Rishi kelihatan lebih cerdik, tetapi pada saat bersamaan, saya pikir ada hal-hal besar yang akan langsung ia hadapi. Jadi dia punya pekerjaan besar, tapi kita lihat saja nanti.”

Sunak akan menjadi perdana menteri ketiga Inggris dalam waktu kurang dari dua bulan, setelah kalah dari Truss dalam pemilihan pemimpin partai pada musim panas lalu setelah Johnson mengundurkan diri.

Sunak, yang menjadi menteri keuangan dari 2020 hingga musim panas ini, memimpin ekonomi Inggris yang melemah dalam melalui pandemi virus corona. Ia berhenti pada Juli lalu sebagai protes atas kepemimpinan Johnson.

Mantan jutawan pemilik perusahaan dana lindung nilai ini akan mendapat tugas membangun kembali reputasi fiskal Inggris melalui pengurangan pengeluaran yang damai sementara negara itu tergelincir ke resesi, yang terseret makin dalam karena melonjaknya harga energi, bahan makanan dan hipotek.

Ia juga akan memimpin Partai Konservatif yang telah bangkit dari satu krisis ke krisis lainnya dalam beberapa bulan ini dan sangat terpecah sesuai garis ideologi, serta negara yang warganya semakin marah pada perilaku politisinya. [uh/ab]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.