Pengungsi resmi Palestina yang mencapai lebih dari 1,5 juta tinggal di sejumlah kamp di negara-negara kawasan Timur Tengah itu seperti Yordania, Lebanon, Suriah, Jalur Gaza dan Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur.

Beban negara-negara penampung ini semakin hari dirasa semakin berat dan ingin penyelesaian bagi krisis kemanusian di sana.

Raja Abdullah II bin Al Hussain dari Yordania dalam pidatonya dihadapan sidang majelis umum PBB, Selasa (20/9) secara panjang lebar membahas mengenai pengungsi dan penyelesaian konflik Palestina-Israel serta pembaharuan mandat Badan Bantuan UNRWA dan mendesak masyarakat internasional untuk mengirim pesan dukungan yang kuat bagi hak-hak pengungsi Palestina dan solusi dua negara.

“Masyarakat Internasional harus mengirim pesan dukungan yang jelas, bagi hak-hak rakyat Palestina, memastikan agar anak-anak pengungsi Palestina bisa bersekolah dan mengakses layanan kesehatan kesehatan yang memadai,” ujarnya.

Badan PBB yang menangani pengungsi Palestina (UNRWA) mengelola kamp yang menampung para pengungsi ini dan menyediakan berbagai fasilitas untuk memenuhi kebutuhan mereka. Meski demikian badan ini juga mengelola pusat kesehatan, sekolah dan pusat distribusi di luar kamp-kamp resmi ini.

Ketika badan ini memulai operasinya pada tahun 1950, UNRWA hanya membantu kurang dari satu juta pengungsi namun sekarang menurut badan ini, mereka telah membantu lebih dari 6, juta warga Palestina.

Dalam pertemuan UNRWA Rabu (22/9) bersama 40 wakil negara dan organisasi bantuan, Ayman Safadi, Wakil Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Yordania menyampaikan upaya-upaya berkelanjutan untuk mendukung pengungsi Palestina.

Menlu Swedia Ann Linde

Ann Linde, Menteri Luar Negeri Swedia yang sangat berperan pada operasional badan ini mengatakan pertemuan telah menghasilkan dukungan yang diperlukan Palestina.

“Pertemuan hari ini telah menegaskan dukungan pada pengungsi Palestina dan dukungan kuat bagi UNWRA. UNWRA memberikan perlindungan yang menyelamatkan bagi pengungsi Palestina, dan juga menciptakan peran sangat penting bagi kestabilan kawasan,” katanya.

Philippe Lazzarini, Komisaris Jenderal UNRWA mengatakan pertemuan ini juga mempertemukan para donor dan mengingatkan pentingnya pendanaan. Ia mengatakan, “Mengakui bahwa kesulitan pendanaan (ini), jika tidak diatasi, akan lebih merugikan kawasan.”

UNWRA dan Indonesia yang turut menghadiri pertemuan ini, sejak lama memperjuangkan nasib warga Palestina dan mendukung pendirian negara Palestina yang merdeka dan solusi dua negara. [my]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.