Tiga Tahun La Nina Bersambung, Banjir Mengepung Tanah Air di Tengah Kemarau

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan bahwa La Nina kembali menyambangi wilayah Indonesia pada tahun ini, merupakan yang ketiga secara berturut-turut sejak 2020 lalu.

Supari, Pelaksana Harian (Plh) Kepala Pusat Perubahan Iklim BMKG memaparkan, La Nina singgah di tanah air sejak Agustus atau September 2020, dan bertahan hingga saat ini. Padahal normalnya durasi La Nina hanya berlangsung satu tahun.

“Ini adalah kejadian yang cukup unik, karena dari catatan indikator La Nina yang di-publish oleh NOA, dari tahun 1950-an, ada delapan kali kasus La Nina yang kejadiannya dua kali berturut turut, tetapi hanya dua yang pernah berlangsung sampai tahun ketiga, yaitu tahun 1973, 1974, 1975 dan 1998, 1999 dan 2000,” kata Supari, dalam perbincangan mengenai cuaca oleh BMKG, pada Senin (12/9) malam.

“Tahun ini, kemungkinan menjadi event ketiga, yaitu sepanjang 2020, 2021 dan 2022 dimana tiga kali winter, statusnya La Nina terus,” tambahnya.

La Nina adalah fenomena alam yang membuat udara menjadi lebih dingin. La Nina terjadi, ketika suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah, mengalami pendinginan hingga di bawah suhu normal. Selain angin muson, La Nina dikenal sebagai faktor penyebab musim hujan di Indonesia.

BMKG mencatat sejak Januari hingga Agustus tahun ini, La Nina terus terjadi secara fluktuatif. Sebagai penyimpangan suhu muka laut di Samudra Pasifik, pola La Nina ternyata tidak pernah sama persis.

“Dampak La Nina ke hujan di Indonesia, nanti akan berinteraksi dengan faktor lain, misalnya monsoon (musim hujan di) Australia dan Asia,” tambah Supari.

Meski sering mengalami hujan, BMKG memastikan bahwa hingga akhir Agustus 2022, 78 persen zona musim Indonesia sedang mengalami musim kemarau. Sisanya sebanyak 22 persen telah memasuki musim hujan.

“Dari 22 persen itu, terbagi lagi. Sebagian mengalami musim hujan yang sebenarnya bersambung dengan musim hujan sebelumnya, artinya dia tidak mengalami kemarau. Itu ada beberapa wilayah, di sekitar Sumatra bagian tengah, sebagian di Kalimantan Barat dan sebagian Kalimantan Tengah. Ada daerah-daerah yang kita identifikasi tidak mengalami musim kemarau,” papar Supari.

Karena itu, meski saat ini sejumlah wilayah seperti Jakarta dan Bandung dilanda hujan dalam sepekan terakhir, sebagian besar wilayah di Indonesia umumnya tetap mengalami kemarau, meski dengan durasi yang lebih pendek. Musim kemarau juga tidak berarti bahwa hujan tidak turun sama sekali.

Sejak awal 2022, BMKG telah menyatakan bahwa musim kemarau pada tahun ini datang lebih lambat. Sebagian wilayah yang seharusnya sudah mengalami musim kemarau, masih mengalami musim hujan yang akan tetap turun sekitar satu hingga tiga bulan lebih panjang.

Seorang siswa berjalan melewati jembatan kayu yang rusak akibat luapan air sungai menyusul banjir yang terjadi di Desa Jaranih, Sungai Hulu Tengah, Kalimantan Selatan, pada 17 November 2021. (Foto: Antara via Reuters/Bayu Pratama)

Supari memberi contoh, Nusa Tenggara Timur biasanya mengalami kemarau hingga sembilan bulan, namun saat ini provinsi tersebut tercatat mengalami musim kemarau sekitar lima bulan.

“Itu menunjukkan, bahwa sebetulnya musim kemaraunya ada, tapi memang musim hujannya datang lebih cepat,” kata Supari.

Kalimantan Dikepung Banjir

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa banjir terus terjadi di tengah kemarau yang melanda pada tahun ini. Konsentrasi banjir terletak di sebagian wilayah Sumatra bagian tengah, Kalimantan dan Sulawesi. Abdul Muhari Ph D, Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, memaparkan data itu dalam penjelasan mingguan pada Senin (12/9).

“Fokus kita di minggu ini adalah Kalimantan dan Sulawesi. Kita lihat, dari sisi gambaran spasialnya saja, cuma Kalimantan Utara yang relatif tidak melaporkan kejadian bencana signifikan. Tapi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur itu semuanya terkena banjir,” kata Abdul Muhari.

Kondisi serupa juga terjadi di Sulawesi, meski intensitasnya tidak sebesar di Kalimantan.

“Di Sulawesi, provinsi Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan, semuanya melaporkan kejadian banjir,” tandasnya.

Abdul mengatakan akumulasi curah hujan menjadi faktor penyebab banjir di sejumlah wilayah tersebut. Banyak wilayah di kedua pulau tersebut mengalami akumulasi curah hujan yang lebih tinggi dari 30 milimeter (mm) dalam satu hari.

“Biasanya kalau sudah lebih dari 30 mm, apalagi kalau lebih dari 100 mm, itu sudah hampir dipastikan, kalau kondisi lingkungan tidak terlalu baik, pasti kita kena banjir,” tambahnya.

Curah hujan yang tinggi sudah terbaca sejak 4 September lalu, dengan hujan yang turun di wilayah utara Kalimantan dan Sulawesi. Sehari kemudian, hujan bergerak terus ke selatan menuju kawasan tengah dari kedua pulau tersebut.

“Tanggal 5 September, kita lihat hampir dari utara sampai selatan bagian timur Kalimantan itu luar biasa tinggi sekali curah hujannya. Terjadi banjir di Bontang, kemudian banjir juga terjadi di beberapa tempat lain,” kata Abdul.

Berbeda dengan Sulawesi, Kalimantan menerima curah hujan yang jauh lebih tinggi sehingga kejadian banjir lebih banyak dilaporkan. Hujan dalam beberapa hari itu telah membuat beberapa wilayah yang sebelumnya tidak pernah melaporkan terjadinya banjir, tahun ini turut terendam.

“Kita lihat di Murung Raya, kota Bontang, Balangan, Hulu Sungai Tengah, Barito Selatan, Kotawaringin Barat, dan ada lanjutan dari banjir minggu lalu di Sintang dan Katingan, di Kalimantan Barat,” ujar Abdul seraya merincikan daerah yang terdampak banjir.

Di Kalimantan Selatan, sebanyak 3.000 kepala keluarga terdampak banjir, sedangkan di Kalimantan Timur, jumlahnya mencapai mencapai 3.300 kepala keluarga. Total, terdapat 19 banjir di seluruh wilayah Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi, dengan jumlah total warga terdampak mencapai 24 ribu kepala keluarga.

Selain curah hujan, banjir Kalimantan juga dipengaruhi oleh kondisi wilayah yang mayoritas rawa. Selain itu, di sepanjang sungai, ketinggiannya tidak berbeda jauh antara kawasan hulu dan hilir.

Jika wilayah hulu mengalami curah hujan tinggi, sedangkan daerah hilir air sedang mengalami pasang, bisa dikatakan bahwa banjir dipastikan akan terjadi.

“Di Kalimantan Barat itu, panjang sungainya diatas 1.000 km kalau lekukannya kita luruskan. Kalau kita luruskan dari hulu sampai ke hilir, itu kemiringannya tidak lebih dari 20 meter, artinya itu lebih kurang bisa dibilang datar,” kata Abdul. [ns/rs]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.