Serangan Udara Hantam Ibu Kota Kawasan Tigray Ethiopia

Serangan udara Selasa (13/9) menghantam Mekelle, ibu kota wilayah Tigray, Ethiopia Utara, mencederai sedikitnya satu orang, kata seorang pejabat rumah sakit setempat.

Serangan udara itu terjadi dua hari setelah pemerintah regional Tigray mengatakan siap melakukan gencatan senjata tanpa prasyarat dan akan menerima proses perdamaian pimpinan Uni Afrika dalam upaya mengakhiri perangnya dengan pemerintah pusat, yang mulai berkobar pada November 2020.

Pemerintah Ethiopia belum memberikan tanggapan resmi mengenai tawaran pembicaraan dan gencatan senjata yang diajukan Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF), partai yang berkuasa di Tigray.

Kibrom Gebreselassie, CEO Rumah Sakit Ayder di Mekelle, mengatakan, rumah sakit itu telah menerima satu orang yang cedera akibat serangan udara hari Selasa.

Ia mengatakan orang yang membawa korban luka ke rumah sakit itu mengemukakan serangan tersebut menghantam kampus bisnis Mekelle University dan stasiun TV Dimitsi Woyane, yang dikelola pemerintah regional.

Getachew Reda, juru bicara pemerintah regional, mencuit di Twitter bahwa kampus bisnis itu diserang oleh drone.

Juru bicara militer Ethiopia Kolonel Getnet Adane dan juru bicara pemerintah Legesse Tulu tidak segera menanggapi permintaan komentar.
Serangan udara ini adalah yang ketiga yang menghantam Mekelle sejak konflik berkobar kembali akhir bulan lalu, mengakhiri suasana tenang selama lima bulan ini. Masing-masing pihak menyalahkan pihak lain sebagai penyulut dimulainya kembali pertempuran.

Pernyataan pemerintah daerah Tigrayan hari Minggu yang mendukung proses perdamaian pimpinan Uni Afrika itu disebut oleh negara-negara berpengaruh dunia sebagai terobosan potensial.

Mantan presiden Nigeria Olusegun Obasanjo, yang ditugaskan oleh Uni Afrika untuk memediasi kedua pihak, bertemu dengan utusan Amerika untuk kawasan Tanduk Afrika, Mike Hammer, pada hari Senin, menurut cuitan mantan duta besar Djibouti untuk Ethiopia, Mohamed Idriss Farah, yang juga menghadiri pertemuan tersebut.

TPLF mendominasi politik nasional selama hampir tiga dekade hingga PM Abiy Ahmed berkuasa pada tahun 2018.

TPLF menuduh Abiy memusatkan kekuasaan dengan mengorbankan wilayah-wilayah Ethiopia. Abiy membantah hal ini dan menuduh pasukan Tigrayan berusaha merebut kembali kekuasaan – hal yang dibantah mereka. [uh/ab]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.