Seorang Warga Gay Palestina Dibunuh, Teman dan Organisasi Gay Terguncang

Mayat Ahmad Abu Murkhiyeh, dengan kepala terpenggal, ditemukan di sisi jalan di Tepi Barat yang diduduki Israel Jumat lalu (7/10). Temuan ini awalnya dikira sebagai pembunuhan kejam terhadap warga Palestina. Tetapi informasi berikutnya – bahwa Murkhiyeh adalah seorang laki-laki gay yang takut dianiaya karena seksualitasnya dan kemudian mencari suaka ke Israel dua tahun lalu – membuat kasus ini berkelindan dengan isu sosial dan politik.

Belum jelas bagaimana mayat Murkhiyeh bisa berakhir di Hebron, suatu kota konservatif di Tepi Barat yang telah ditinggalkannya.

Al Bait Al Mokhtalef: Banyak Orang Gay Berupaya Cari Perlindungan di Luar Negeri

Rita Petrenko, pendiri Al Bait Al Mokhtalef, sebuah organisasi hak-hak gay Israel yang melayani komunitas Arab di kawasan itu, mengatakan ketika ia bertemu Murkhiyeh tahun 2020, ketakutan yang dirasakan laki-laki gay itu sangat jelas dan membuatnya ingin mencari perlindungan ke luar negeri. “Satu setengah tahun lalu kami mengajukan permintaan ke PBB untuk membantunya pergi ke negara lain, biasanya ke Kanada yang memang menerima pencari suaka kami. Murkhiyeh ada dalam daftar tunggu dan ia harus menunggu lama karena memang daftarnya sangat panjang,” ujar Petrenko.

Murkhiyeh terpental dari satu tempat perlindungan ke tempat perlindungan lain. Sesekali ia bekerja di restoran di Tel Aviv, sementara Petrenko membantunya mengajukan permohonan pemukiman kembali ke Kanada.

Kepada Associated Press, Petrenko menegaskan bahwa Murkhiyeh tidak memiliki prospek di Israel.

Dalam status menunggu itu Murkhiyeh sebenarnya dilarang bekerja. Namun Juli lalu Israel mulai memberikan izin bekerja kepada warga Palestina yang mencari perlindungan karena alasan kekerasan dan penganiayaan karena orientasi seksual mereka.

Israel Melakukan “Pink Washing?”

Israel kerap mempromosikan sikap toleransi pada isu-isu orientasi seksual, meskipun penolakan terhadap homoseksualitas di komunitas Yahudi ultra-Orthodoks juga tinggi. Tel Aviv bangga dengan reputasinya sebagai tujuan utama bagi wisatawan gay dan lesbian.

Para kritikus menuduh Israel melakukan “pink washing,” dengan menggunakan toleransi sebagai cara mengalihkan perhatian dari pendudukan terbuka di Tepi Barat yang kini memasuki tahun ke-56, dan kebijakan keras terhadap Palestina.

“Pink washing” adalah istilah kritis yang digunakan untuk merujuk pada praktik upaya mengambil manfaat dari dukungan pada hak-hak LGBTQ+ dan seringkali menjadi cara untuk mendapatkan keuntungan atau mengalihkan perhatian dari agenda tertentu. Istilah ini juga kerap digunakan dalam isu-isu lain, misalnya upaya meningkatkan kesadaran atas kanker payudara, yang berkelindan dengan memperkenalkan obat atau tokoh tertentu.

Warga dan aktivis LGBT mengikuti parade "Pride" tahunan di Yerusalem (foto: dok).

Warga dan aktivis LGBT mengikuti parade “Pride” tahunan di Yerusalem (foto: dok).

Hanya beberapa jam sebelum Ahmad Abu Murkhiyeh dibunuh, ia sempat berbicara dengan para sukarelawan di tempat penampungannya di Tel Aviv ketika ia check-in reguler, ujar Petrenko. Tidak ada yang berbeda karena ia memang biasa mendaftar untuk memastikan keberadaannya. Keesokan harinya kabar pemenggalannya mendominasi media.

Kesedihan tampak menyelimuti tempat penampungan di mana ia biasanya berada. Para staf menyalakan lilin baginya.

Petrenko mengatakan ia tidak tahu bagaimana mayat Murkhiyeh bisa berada di Hebron.

Kekerasan dan Pengucilan

Orang gay Palestina cenderung sangat hati-hati karena mereka takut menarik perhatian yang tidak diinginkan dari komunitas konservatif di sekitarnya dan mendapat reaksi balik dari pihak berwenang.

Polisi Otoritas Palestina pada tahun 2019 melarang kelompok-kelompok hak gay dan transgender melangsungkan acara di Tepi Barat, dan mengancam akan menangkap peserta.

Kekerasan dan pengucilan juga dirasakan orang gay dalam minoritas Arab-Israel.

Orang gay Palestina yang tinggal di Tepi Barat, seperti Murkhiyeh, telah menyebrang ke Israel agar dapat hidup secara terbuka.

Penulis naskah drama dan sutradara teater Tomer Aldubi, yang mulai meneliti komunitas LGBT Palestina sejak tahun 2019, bertemu Murkhiyeh di Haifa. Naskah drama “Sharif” didasarkan pada kisah Murkhiyeh dan cerita-cerita lain tentang “orang gay Palestina yang melarikan diri dari Tepi Barat ke Israel.” “Mereka tidak memilih menjadi gay, atau menjadi bagian dari komunitas itu. Mereka tidak memilih untuk lahir di wilayah Palestina. Oleh karena itu mereka membutuhkan bantuan kita,” ujarnya.

Polisi Telah Tangkap Tersangka, Tapi Tak Beri Rincian

Pejabat polisi Palestina Jumat lalu mengatakan kepada Associated Press bahwa kepala dan bagian dada Murkhiyeh ditemukan di dekat rumah keluarganya. Juru bicara polisi, Kolonel Loay Irzekat, mengatakan pihak berwenang menangkap seorang kenalan Murkhiyeh sebagai tersangka dalam pembunuhan itu, tetapi menolak menyebutkan motif atau menguraikan hubungan mereka.

Media sosial Palestina juga diselimuti berita pembunuhan mengerikan itu, tetapi tidak memaparkan atau mempertanyakan seksualitas Murkhiyeh.

Homoseksualitas merupakan hal yang sangat tabu di wilayah Palestina, di mana norma-norma tradisional memisahkan peran penting dalam kehidupan sosial dan politik.

Organisasi-organisasi dan tempat penampungan LGBTQ yang selama ini membantu para pencari suaka karena orientasi seksualitas mereka mengatakan mereka tahu Murkhiyeh adalah seorang gay yang putus asa untuk melarikan diri dari wilayah Palestina di mana ia menjadi target. [em/jm]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.