Semakin Banyak Perempuan Berperan sebagai Pahlawan di Hollywood

Pemeran utama perempuan yang garang dulu jarang ditemukan di film-film aksi AS. Baru belakangan ini, berbagai franchise blockbuster dan platform streaming menempatkan perempuan sebagai pusat sorotan dalam film aksi, menjadi pahlawan penyelamat berkat kekuatan dan kecerdikan mereka. Para pahlawan perempuan ini juga semakin beragam etnisnya sehingga memikat pemirsa yang lebih luas.

Film franchise The Alien, yang diluncurkan pada tahun 1979, sangat revolusioner. Sigourney Weaver menjadi tokoh utamanya, Ellen Ripley, yang dengan tegas memerangi makhluk-makhluk luar angkasa yang mematikan dan juga perusahaan antariksa yang korup. The American Film Institute menganggap peran Weaver itu sebagai salah satu yang paling signifikan dalam sejarah sinematik.

Pahlawan-pahlawan perempuan dalam film aksi yang lebih baru juga begitu banyak, mulai dari Jennifer Lawrence sebagai Katniss Everdeen di The Hunger Games, hingga Gal Gadot dalam Wonder Woman, dan Scarlett Johansson yang berperan sebagai penjahat yang kemudian beralih menjadi superhero dalam Black Widow.

Viola Davis dalam "The Woman King." (Sony Pictures via AP)

Viola Davis dalam “The Woman King.” (Sony Pictures via AP)

Pahlawan perempuan kini juga beragam secara etnis. Aktor pribumi Amerika Amber Midthunder memperdaya pemburu alien dalam film aksi produksi tahun 2022, Prey. Sementara itu Viola Davis memimpin satu unit pejuang Afrika dalam meraih kemenangan di The Woman King.

Ditampilkannya tokoh utama perempuan dalam film-film aksi Hollywood digerakkan oleh permintaan populer, kata produser peraih Academy Award Cathy Schulman, yang mendukung kesetaraan gender dalam industri perfilman. Ia mengatakan, “Perempuan adalah pembeli utama konten – film, televisi, maupun streaming. Dan yang mereka benar-benar minta adalah membuat film untuk mayoritas, bukan minoritas.”

Sementara itu, film-film dengan pemeran yang beragam etnisnya kerap meraih penerimaan global yang lebih tinggi, menurut laporan tahunan mengenai keberagaman di Hollywood yang dirilis University of California di Los Angeles.

Sophia Panchal yang berusia sebelas tahun mengatakan ia dan kakaknya Jasmine, menyukai miniseri aksi di TV, Ms. Marvel, yang menampilkan seorang remaja Amerika keturunan Pakistan sebagai pahlawan super.
Sophia mengatakan,“Terutama jika mereka perempuan. Saya merasa senang karena saya tahu mereka, Hollywood, mengakui kami. Mereka memberi perhatian pada agama lain, beragam tipe orang lainnya.”

Perubahan di Hollywood tidak luput dari perhatian ibu Sophia, Vicki Panchal. Ia mengatakan,“Ini dunia yang berbeda dengan ketika kami tumbuh dewasa, ketika hanya ada sedikit sekali pemeran utama perempuan yang kuat di layar.”

Pemberdayaan perempuan di layar dan di luar layar saling berkaitan, kata Viola Davis, mengenai perkembangan karirnya di dunia perfilman. Ia mengatakan, “Dan tiba-tiba saja saya dalam posisi untuk membuat pilihan, tetapi pilihan yang berpengaruh seperti pada The Woman King, dan materi itu datang ke saya karena segala sesuatu dalam bisnis ini adalah mengenai pengaruh.”[uh/ab]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.