Saat Permukaan Air Laut dan Sungai Naik, Petani Bangladesh Hidupkan Kembali Pertanian Terapung

Permukaan air laut yang meningkat dan banjir hebat yang sering terjadi membuat banyak petani di delta-delta dataran rendah di bagian barat daya Bangladesh menghidupkan kembali praktik pertanian nenek moyang mereka. Mereka tidak lagi menanam sayuran dan buah di daratan, tapi di rakit-rakit terapung.

Permukaan air laut yang meningkat dan banjir hebat yang sering terjadi membuat banyak petani di delta-delta dataran rendah di bagian barat daya Bangladesh menghidupkan kembali praktik pertanian nenek moyang mereka. Mereka tidak lagi menanam sayuran dan buah di daratan, tapi di rakit-rakit terapung.

Mohammad Mostafa, seorang petani di delta dataran rendah di Bangladesh Barat Daya, menghidupkan kembali praktik pertanian yang dilakukan nenek moyangnya yaitu dengan bercocok tanam di atas rakit terapung, karena naiknya permukaan air laut semakin mengancam lahan pertanian.

Banjir yang berkepanjangan meningkatkan ancaman bagi warga yang menanam sendiri bahan makanan mereka. Mereka kini menggunakan rakit sebagai tempat untuk memulai pembibitan dan membudidayakan tanaman sayur dan buah, termasuk mentimun, lobak, labu, pepaya dan tomat.

Rakit yang dibuat dari anyaman eceng gondok itu menjadi penolong bagi warga selama musim monsun yang ekstrem, di mana lahan kering jarang didapati.

Mohammad Ibrahim, 48, mengairi lahan pertanian apungnya, di distrik Pirojpur, Bangladesh, 16 Agustus 2022.

Mohammad Ibrahim, 48, mengairi lahan pertanian apungnya, di distrik Pirojpur, Bangladesh, 16 Agustus 2022.

Mostafa, 42 tahun, satu-satunya pencari nafkah bagi enam anggota keluarganya mengatakan,”Ketika saya masih kecil, daerah ini merupakan lahan kering. Kami biasa bermain di lahan ini dan menanam padi. Namun dengan naiknya permukaan air laut dan sungai, air mulai menggenangi daerah ini, jadi kami tidak bisa bercocok tanam lagi. Saya telah melakukan pembibitan di atas rakit terapung selama lima tahun terakhir, menanam berbagai jenis sayuran.”

Mohammad Ferdaus, seorang petani yang berusia 60 tahun, juga melakukan teknik serupa.

“Kami membuat rakit terapung dan membuat persemaian di atasnya. Kemudian kami menjual bibit tersebut di pasar. Biasanya tanaman membutuhkan sekitar 15 hingga 20 hari untuk tumbuh sebelum kami dapat mengumpulkannya. Kami menggunakan enceng gondok untuk membuat rakit. Dengan cara ini, kami dapat panen lima kali selama setahun.”

Teknik pertanian berusia 200 tahun ini sebelumnya diadopsi oleh para petani di daerah itu selama musim banjir yang biasanya berlangsung sekitar lima bulan setiap tahun. Namun, saat ini banjir bisa bertahan hingga 10 bulan dan semakin banyak lahan pertanian yang tergenang.

Mohammad Ibrahim, 48, mengumpulkan bibit labu dari petak lahan terapungnya di distrik Pirojpur, Bangladesh, untuk dijual kepada tengkulak, 15 Agustus 2022. (REUTERS/Mohammad Ponir Hossain)

Mohammad Ibrahim, 48, mengumpulkan bibit labu dari petak lahan terapungnya di distrik Pirojpur, Bangladesh, untuk dijual kepada tengkulak, 15 Agustus 2022. (REUTERS/Mohammad Ponir Hossain)

Pertanian terapung kini mencakup luas sekitar 120 hektare, naik dari sekitar 80 hektare pada lima tahun lalu, menurut pejabat pertanian di Nazirpur.

Pendekatan itu, yang kini dilakukan oleh sekitar 6.000 petani, naik dari sekitar 4.500 orang lima tahun lalu, terbukti penting karena perubahan iklim membuat permukaan air laut naik dan musim hujan semakin ekstrem. Lebih dari seperempat dari 165 juta warga Bangladesh tinggal di kawasan pesisir.

Mostafa mengatakan, berkat penjualan bibitnya, ia kini mampu menghidupi keluarganya tanpa harus meminta bantuan. Namun margin keuntungan menurun akibat naiknya harga eceng gondok.

Tahun ini, ia menghabiskan sekitar 4.500 taka atau sekitar $44 untuk membeli sekitar 1,2 ton eceng gondok untuk membuat rakit-rakit baru. Tahun lalu, harganya hanya 1.000 taka.

Pembuatan rakit itu memakan waktu sekitar dua bulan. Panjang rakit biasanya sekitar enam meter dan lebar sekitar satu meter, tapi ukurannya bisa saja disesuaikan. Rakit itu perlu diganti dengan yang baru seusai panen.

Jumlah pertanian terapung kini meningkat begitu banyak sehingga otoritas lokal mengatakan mereka kini menawarkan dukungan kepada petani agar dapat menanam bibit yang berkualitas untuk menghasilkan panen yang baik. [lj/uh]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.