Ribuan Perempuan Hamil Berjuang untuk Mendapatkan Perawatan setelah Banjir Melanda Pakistan

Dalam lima bulan pertama kehamilannya, Shakeela Bibi tidak merasakan kendala berarti. Dia memilih nama untuk bayinya, Utsman, dan membuat pakaian dan perabotannya. Dia melakukan pemeriksaan rutin di rumah dan memiliki akses ke pengobatan. USG mengungkapkan bahwa bayi itu berada dalam posisi sungsang. Dokter lalu menyuruh Bibi untuk lebih berhati-hati dan beristirahat.

Kemudian datanglah banjir besar di musim panas pada tahun ini. Rumah Bibi di kota Rajanpur, Pakistan selatan, terendam air.

Ketika Bibi berbicara kepada The Associated Press bulan lalu, dia tinggal di sebuah kamp untuk keluarga pengungsi. Dengan tanggal kelahirannya yang semakin dekat, dia takut dengan kemungkinan bahwa bayinya akan terlahir sungsang dengan hampir tidak adanya perawatan kesehatan yang dapat diakses.

“Apa yang terjadi jika kesehatan saya tiba-tiba memburuk?” kata Shakeela. Dia kekurangan darah dan terkadang tekanan darah rendah, tetapi dia mengatakan tidak bisa makan dengan benar di kamp. “Saya sudah berada di kamp selama dua bulan, tidur di tanah, dan ini memperburuk situasi saya.”

Perempuan hamil berjuang untuk mendapatkan perawatan setelah banjir dengan tingkat keparahan yang belum pernah terjadi sebelumnya melanda Pakistan. Sepertiga wilayah negara itu tergenang dan jutaan orang terpaksa mengungsi akibat bencana tersebut. Setidaknya terdapat 610.000 perempuan hamil yang terkena dampak banjir, menurut Population Council, sebuah organisasi kesehatan reproduksi yang berbasis di Amerika Serikat.

Kemungkinan Kematian, Cacat, dan Penyakit

Banyak warga yang kini tinggal di tenda-tenda pengungsi atau mencoba membuat tempat tinggalnya sendiri bersama keluarga mereka di desa-desa dan kota-kota yang dilanda banjir. Menurut PBB, banjir di Pakistan telah membuat perempuan kehilangan akses ke layanan kesehatan setelah lebih dari 1.500 fasilitas kesehatan dan sebagian besar jalanan rusak. Lebih dari 130.000 perempuan hamil membutuhkan perawatan segera, dengan sekitar 2.000 di antaranya melahirkan setiap harinya di mana sebagian besar menjalani proses melahirkan dalam kondisi tidak aman.

Para ahli mengkhawatirkan akan terjadi peningkatan kematian bayi atau komplikasi kesehatan bagi ibu atau anak di negara yang sebelumnya sudah menjadi salah satu negara dengan tingkat kematian ibu tertinggi di Asia. Mereka juga memperingatkan dampak jangka panjang yang berbahaya bagi perempuan, seperti peningkatan pernikahan anak dan kehamilan yang tidak diinginkan karena gangguan dalam kehidupan dan mata pencaharian keluarga.

Rasheed Ahmed, seorang analis kemanusiaan di Dana Kependudukan PBB, mengatakan sistem kesehatan sudah buruk sebelumnya, dan dia memperingatkan “kematian, kecacatan, dan penyakit” akan timbul jika kesehatan perempuan hamil diabaikan.

Seorang anak perempuan menggunakan ranjang bayi untuk melewati jalanan yang terendam banjir di Sohbatpur, distrik Jaffarabad, provinsi Balochistan, Pakistan, pada 4 Oktober 2022. (Foto: AFP/Fida Hussain)

Seorang anak perempuan menggunakan ranjang bayi untuk melewati jalanan yang terendam banjir di Sohbatpur, distrik Jaffarabad, provinsi Balochistan, Pakistan, pada 4 Oktober 2022. (Foto: AFP/Fida Hussain)

“Kekurangan terbesar adalah tenaga kesehatan perempuan, pasokan alat medis, dan obat-obatan,” kata Ahmed. “Sumber daya adalah tantangan lain. Apa prioritas pemerintah? Apakah mereka bersedia menghabiskan uangnya?”

Di kamp-kamp pengungsi yang terletak di Kota Fazilpur dan Rajanpur yang dilanda banjir, seorang perempuan hamil mengatakan kepada AP bahwa mereka tidak menerima perawatan atau layanan untuk kehamilan mereka sejak tiba di kamp hampir dua bulan lalu. Klinik membagikan obat-obatan untuk penyakit ringan, tetapi tidak untuk calon ibu. Keesokan harinya, setelah AP mengunjungi pusat medis setempat untuk memperingatkan keadaan mereka, petugas kesehatan pergi untuk memeriksa para perempuan dan membagikan kalsium sasetan dan suplemen zat besi.

Shakeela Bibi dan keluarganya akhirnya meninggalkan kamp, membawa tenda mereka dan memasangnya di dekat rumah mereka yang hancur. Pihak berwenang memberi mereka tepung, ghee, dan lentil selama sebulan. Dia sekarang melewati tanggal jatuh tempo, tetapi dokter telah meyakinkannya bahwa bayinya baik-baik saja dan tidak akan membutuhkan operasi caesar.

Perveen Bibi, seorang perempuan berusia 18 tahun yang sedang hamil lima bulan, mengatakan kurangnya fasilitas kesehatan di kamp memaksanya untuk pergi ke klinik swasta dan membayar untuk USG dan pemeriksaan. Tetapi dia diberikan resep obat yang tidak mampu dibeli.

“Dulu saya memiliki pola makan yang baik, dengan produk susu dari ternak kami,” kata Bibi. Keluarga tersebut harus menjual ternaknya setelah banjir karena mereka tidak punya tempat untuk memelihara dan tidak ada cara untuk memberi mereka makan.

“Kami membutuhkan dokter perempuan, perawat perempuan, dan dokter kandungan,” kata Bibi, yang memiliki satu anak perempuan dan sedang mengandung anak laki-laki. Dia memiliki seorang putra sekitar setahun yang lalu, tetapi dia meninggal beberapa hari setelah kelahirannya. “Kami tidak mampu membayar USG atau IV. Kami baru saja melewatinya.”

Organisasi Maupun Individu Tawarkan Dukungan

Di kamp, keluarga yang terdiri dari lima sampai tujuh orang, atau lebih makan, tidur, dan menghabiskan siang dan malam mereka di dalam sebuah tenda, terkadang hanya berbagi satu tempat tidur. Sebagian besar tidur di atas tikar. Beberapa penyintas hanya memiliki pakaian yang sempat mereka selamatkan ketika melarikan diri dan mengandalkan sumbangan.

Keran luar digunakan untuk mencuci pakaian, mencuci piring, dan mandi. Para ibu hamil mengatakan mereka kekurangan air bersih dan sabun. Mereka takut akan infeksi karena buang air besar sembarangan di kamp. Sebuah kamar mandi didirikan, tetapi tidak memiliki atap dan tenda di sekelilingnya.

Di tengah kemalangan yang melanda, organisasi dan individu melakukan apa yang mereka bisa — United Nations Population Fund (UNFPA) mengirimkan persediaan untuk bayi yang baru lahir dan peralatan persalinan yang aman di empat provinsi yang dilanda banjir.

Sebuah organisasi nonpemerintah yang berbasis di Karachi, Mama Baby Fund, telah menyediakan 9.000 alat persalinan yang aman, mencakup barang-barang untuk bayi baru lahir, di seluruh provinsi Sindh dan Baluchistan, serta pemeriksaan antenatal dan postnatal untuk 1.000 perempuan. Asosiasi untuk Ibu dan Bayi Baru Lahir, yang juga berbasis di Karachi, telah menyediakan lebih dari 1.500 alat persalinan yang aman, sebagian besar didistribusikan di provinsi Sindh.

Ahmed, seorang Koordinator Kemanusiaan dari UNFPA, mengatakan perempuan hamil memiliki kebutuhan yang berbeda dengan sejumlah pengungsi lainnya, dan kebutuhan tersebut tidak dipenuhi oleh negara.

Seorang anak perempuan membawa galon berisi air minum ke area kamp pengungsi yang terdampak oleh banjir di Sehwan, Pakistan, pada 30 September 2022. (Foto: Reuters/Akhtar Soomro)

Seorang anak perempuan membawa galon berisi air minum ke area kamp pengungsi yang terdampak oleh banjir di Sehwan, Pakistan, pada 30 September 2022. (Foto: Reuters/Akhtar Soomro)

“Respons pemerintah sangat umum, ini untuk massa. Ini tentang tempat tinggal, dan relokasi,” kata Ahmed. “Saya pernah mendengar tentang perempuan yang keguguran karena tekanan mental dan tekanan fisik akibat dari perpindahan dan relokasi.”

Efek Jangka Panjang

Krisis kesehatan yang dipicu oleh banjir akan memeiliki efek janka panjang di kalangan perempuan karena akan memakan waktu lebih lama untuk membangun kembali fasilitas kesehatan dan memulihkan program keluarga berencana, menurut Saima Bashir dari Institut Ekonomi Pembangunan Pakistan.

“Perempuan dan gadis muda sangat rentan dalam situasi ini,” kata Bashir. Dia menunjuk pada meningkatnya laporan pernikahan anak.

Bahkan sebelum banjir, 21 persen perempuan Pakistan sudah menikah sebelum usia 18 tahun, dan 4 persen di antaranya bahkan menikah sebelum usia 15 tahun, menurut data yang dimiliki oleh PBB.

Peningkatan jumlah tersebut terjadi karena berbagai alasan. Beberapa orang tua menikahkan anak gadis mereka untuk menerima bantuan keuangan dari keluarga anak laki-laki, sehingga dapat membangun kembali rumah mereka.

Sementara yang lainnya takut akan keselamatan gadis mereka di kamp pengungsian dan percaya bahwa menikahkan mereka akan mengamankannya dari pelecehan atau masa depan mereka. Selain itu, rusaknya sejumlah bangunan sekolah akibat banjir menutupi pilihan lain yang dimiliki oleh para anak perempuan; beberapa anak perempuan yang akan mendapatkan pendidikan atau mungkin pergi bekerja akan tinggal di rumah sebagai gantinya.

Dalam beberapa tahun ke depan, gadis-gadis itu akan hamil, terutama mengingat akses kontrasepsi yang terbatas, kata Bashir.

“Akan ada lebih banyak kehamilan yang tidak diinginkan,” kata Bashir. “Ini … memperparah krisis ini, dan menambah jumlah populasi.” [ss/rs]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.