Rencanakan Serangan Teror di Rusia, Agen Intelijen Ukraina Ditangkap

portalutama.com – Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) menangkap seorang agen intelijen Ukraina di wilayah Kaukasus Utara. Agen intelijen yang berkewarganegaraan Rusia itu diduga merencanakan serangan teror terhadap polisi di wilayah tersebut.

Seperti dilansir kantor berita TASS, Selasa (24/1/2023), agen intelijen Ukraina itu memberikan pengakuannya dalam video interogasi yang dirilis FSB pada Senin (23/1) waktu setempat. Identitas agen intelijen yang ditangkap itu tidak diungkap ke publik.

“Saya adalah seorang agen dinas intelijen Ukraina dengan nama panggilan Alehandro. Dalam tugas dari mereka, saya bermaksud datang ke Distrik Federal Kaukasus Utara dan melakukan aksi teror terhadap personel kepolisian,” ucap agen intelijen Ukraina yang kini dalam tahanan FSB itu.

“Saya menyesali kesalahan saya dan mengaku bersalah,” tuturnya.

Kantor pers FSB melaporkan pada Senin (23/1) waktu setempat bahwa pasukan keamanan Rusia itu telah menggagalkan serangan teror yang direncanakan seorang pendukung ideologi Nazi atas tugas dari intelijen Ukraina di Kaukasus Utara.

Dalam penggeledahan rumah tersangka, agen-agen FSB menyita alat teror yang siap digunakan.

Para penyidik Rusia menyelidiki kasus ini berdasarkan pasal 30 ayat 1 dan pasal 205 ayat 2 pada Undang-undang Pidana Rusia — aksi teror yang direncanakan oleh kelompok individu dalam konspirasi atau sebuah kelompok terorganisir.

Lihat juga video ‘Rusia Rudal Apartemen di Dnipro, Belasan Orang Tewas’:

Simak berita selengkapnya di halaman berikutnya.

Sebelumnya, Rusia dilaporkan mengirimkan puluhan ribu tentara tambahan untuk memperkuat posisi pasukannya di garis depan pertempuran yang ada di Ukraina. Seperti dilansir CNN, informasi itu diungkapkan oleh seorang pejabat militer senior Amerika Serikat (AS), yang enggan disebut namanya.

Menurut pejabat senior AS itu, tentara-tentara tambahan Rusia itu hanya memberikan sedikit perbedaan dalam konflik yang terus berlanjut di Ukraina.

Pejabat senior AS itu juga menyebutkan bahwa tentara-tentara tambahan itu tiba di garis depan pertempuran dalam kondisi ‘kurang perlengkapan, kurang terlatih’ dan ‘terburu-buru ke medan perang’.

Rusia diketahui telah mengirimkan tentara-tentara tambahan itu sebagai pengganti atau penguatan bagi unit-unit militer yang sudah ada, bukan unit baru yang terorganisir dan kohesif.

Tentara-tentara Rusia itu, menurut pejabat senior AS itu, mulai berdatangan ke medan perang menyusul pengerahan mobilisasi 300.000 personel militer baru yang dilakukan Kremlin pada Oktober tahun lalu.

error: Content is protected !!