PM Malaysia Serukan Pemilu Dini

Perdana Menteri Malaysia Ismail Sabri Yaakob menyerukan pemilu dini, Senin (10/10), dalam usaha meraih mandat yang lebih kuat untuk partainya dan menstabilkan lanskap politik yang bergejolak yang telah melanda negara itu selama empat tahun terakhir.

Seruan partai yang berkuasa untuk melangsungkan pemilu, muncul sementara ekonomi, yang masih belum pulih dari pandemi COVID-19, mulai merasakan dampak kenaikan harga-harga dan perlambatan global.

Pemilu sebetulnya telah dijadwalkan pada September 2023, tetapi Ismail berada di bawah tekanan yang meningkat dari beberapa faksi dalam koalisi yang berkuasa untuk mengadakan pemungutan suara lebih awal karena pertikaian.

Dalam pidato yang disiarkan televisi, Ismail mengatakan raja negara itu telah menyetujui permintaannya untuk membubarkan parlemen pada Senin, dan tanggal pemilihan akan diumumkan oleh komisi pemilu.

Bendera nasional Malaysia berkibar di depan Menara Petronas di Kuala Lumpur, Malaysia, 10 April 2018. (Foto: AP)

Bendera nasional Malaysia berkibar di depan Menara Petronas di Kuala Lumpur, Malaysia, 10 April 2018. (Foto: AP)

Pemungutan suara harus diadakan dalam waktu 60 hari setelah pembubaran parlemen. Jumlah pemilih kemungkinan akan berkurang jika tanggal yang dipilih jatuh selama musim hujan akhir tahun.

Ismail mengatakan ia menyerukan pemilu dini untuk mengakhiri pertanyaan tentang legitimasi pemerintahannya dan mengembalikan mandat kepada rakyat. Amanat rakyat merupakan penangkal ampuh bagi negara untuk mewujudkan stabilitas politik dan menciptakan pemerintahan yang kuat, stabil dan dihormati setelah pemilihan umum, kata Ismail.

Komisi pemilu belum mengeluarkan pernyataan.

Malaysia telah terperosok dalam ketidakpastian politik sejak pemilu terakhir pada 2018 — pemungutan suara bersejarah di mana oposisi menggulingkan partai Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO), yang telah memerintah selama lebih dari 60 tahun sejak kemerdekaan, karena tuduhan korupsi yang meluas.

Namun koalisi pemenang runtuh dalam dua tahun karena perebutan kekuasaan, dan mengembalikan UMNO ke tampuk kekuasaan dalam aliansi baru.

Malaysia telah memiliki tiga perdana menteri sejak pemilu 2018.

Dengan pembubaran parlemen, Ismail, yang berkuasa pada Agustus 2021, menjadi perdana menteri dengan masa berkuasa terpendek dalam sejarah Malaysia.

Partai UMNO-nya mendesak pemilu awal untuk mengambil keuntungan dari apa yang mereka lihat sebagai sentimen yang menguntungkan terhadap mereka, dan membentuk koalisi penguasa yang lebih stabil.

UMNO telah memenangkan pemilu yang diadakan di tingkat negara bagian baru-baru ini pada bulan Maret, ketika merebut kembali kendali negara bagian Johor dari oposisi yang memenangkannya pada tahun 2018.

Pada bulan April, Ismail diangkat sebagai kandidat perdana menteri dari UMNO, meskipun tidak jelas apakah ia masih mendapat dukungan itu. [ab/ka]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.