Perempuan Ukraina Berjuang untuk Mencari Jenazah Kekasihnya yang Ditahan Rusia

Dalam percakapan singkat terakhir antara Viktoria Skliar dengan kekasihnya yang ditahan Oleksii Kisilishin, tawanan perang asal Ukraina itu berujar soal apa yang mungkin ia lakukan setelah pembebasannya nanti dalam pertukaran tahanan yang akan datang dengan Rusia.

Namun sayang, di waktu berikutnya Skliar melihat Kisilishin, kekasihnya itu telah tewas. Jenazah Kisilishin menjadi salah satu dari beberapa mayat dalam foto berisi jenazah yang menurut otoritas setempat adalah korban tewas ketika ledakan menghancurkan sebuah penjara di bagian wilayah Donetsk Ukraina yang dikendalikan oleh kelompok separatis yang didukung Moskow.

Selama berbulan-bulan, Skliar telah mengulurkan harapan bahwa dia akan bersatu kembali dengan kekasihnya, yang telah menjadi bagian dari kelompok pasukan yang mempertahankan pabrik baja Azovstal, pertahanan terakhir para pejuang Ukraina di kota Mariupol yang terkepung.

Sekarang, Skliar telah mengendalikan fokusnya untuk mendapatkan jenazah pasangannya kembali. Setelah melewati rintangan yang sangat besar, Ukraina kini telah menerima sisa-sisa dari belasan jenazah tahanan yang ditahan di penjara Olenivka. Tetapi dengan para ahli yang masih membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mengidentifikasi semua mayat dan tidak ada jaminan bahwa Kisilishin ada di antara mereka, pencarian Skliar masih jauh dari kata usai.

Fakta bahwa dia bahkan tahu pacarnya telah tewas saja sudah merupakan hal yang luar biasa. Dia mengenali tatonya dalam sebuah foto yang dibagikan di media sosial setelah ledakan terjadi di penjara tersebut pada 29 Juli lalu. Foto itu menunjukkan pasangannya berbaring, setengah telanjang, di tanah sejajar dengan delapan mayat lainnya.

“Ketika saya melihat foto itu, mata saya tidak melihat tubuh Oleksii,” kata Skliar kepada The Associated Press. “Saya tidak punya waktu untuk menangis. Saya menghabiskan semua air mata saya ketika mereka berada di Azovstal. Yang pertama kali saya pikirkan adalah untuk mendapatkan tubuhnya kembali entah bagaimana caranya.”

Skliar mengatakan dia menghubungi perwakilan Komite Internasional Palang Merah, memberi tahu mereka tentang foto itu dan memberi nama pasangannya dengan harapan Kisilishin dapat dipulangkan ke rumah. Organisasi kemanusiaan tidak bisa memberi tahu banyak karena mereka harus menuggu daftar resmi tahanan dan persetujuan dari politisi sebelum dapat membantu memulangkan mayat siapapun.

Sementara dia menunggu, Skliar takut orang yang dicintainya akan berakhir di kuburan massal.

Kisilishin, yang meninggal pada usia 26 tahun, sempat dipanggil kembali ke Resimen Azov, bagian dari Garda Nasional Ukraina, tempat di mana dia bertugas hingga tahun 2016, dua minggu sebelum invasi Rusia ke Ukraina pada bulan Februari. Kisilishin, yang merupakan seorang penjaga hewan dan aktivis, telah memilih kembali untuk membela kampung halamannya di Mariupol, daripada tinggal di Kyiv, tempat dia bertemu Skliar di klub berkuda setahun sebelumnya.

Ketika Kisilishin bersembunyi di pabrik baja Azovstal saat pengepungan Kota Mariupol yang berlangsung selama tiga bulan, ia dan Skliar berbicara setiap hari sampai pasukan Rusia mengepung pabrik tersebut.

Viktoria Skliar bersama sang kekasih Oleksii Kisilishin berpose untuk sebuah foto pada 24 Agustus 2021. (Foto: Courtesy of Viktoria Skliar via AP)

Viktoria Skliar bersama sang kekasih Oleksii Kisilishin berpose untuk sebuah foto pada 24 Agustus 2021. (Foto: Courtesy of Viktoria Skliar via AP)

Pada bulan Mei, Kisilishin ditangkap ketika pembela Azovstal terakhir diberitahu oleh militer Ukraina untuk menyerahkan diri kepada pasukan Rusia.

Dari balik tahanan, Skliar terus menerima panggilan telepon dari Kisilishin, meskipun tidak pernah berlangsung lebih dari satu menit. Pacarnya tidak banyak bicara tentang dirinya, hanya menjawab “tidak apa-apa” atau “semuanya terkendali” ketika Skliar bertanya soal kabarnya.

Kemudian, Skliar mengatakan dia menerima telepon dari Kisilishin dan suaranya ceria. “Dia bilang akan dibawa ke suatu tempat. Dia berharap bisa ditukar,” katanya.

Skliar yakin Kisilishin dibawa ke Olenivka pada hari itu atau segera setelahnya. Kemudian, Skliar mengatakan dia mendengar dari Palang Merah bahwa Kisilishin akan menjadi bagian dari pertukaran tahanan yang akan datang. Tapi tiga minggu setelah itu, Kisilishin meninggal.

Pihak berwenang di penjara dan pejabat Rusia mengatakan 53 tawanan perang Ukraina tewas dalam ledakan itu dan 75 lainnya mengalami luka-luka. Dalam daftar korban yang dirilis oleh Moskow dan dipublikasikan di media Rusia, Kisilishin berada di urutan ke-43.

Apa yang sebenarnya terjadi di Olenivka masih belum diketahui.

Rusia mengklaim militer Ukraina menyerang penjara dengan roket. Militer Ukraina membantah melancarkan serangan dan menuduh Rusia meledakkan penjara itu dengan ranjau. Kyiv menuduh bahwa pasukan Kremlin menyiksa para tahanan Olenivka dan ledakan itu dimaksudkan untuk menutupi bukti kejahatan tersebut.

Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia baru-baru ini menyuarakan keprihatinan tentang laporan bahwa para tahanan di Olenivka dan di tempat lainnya telah menjadi sasaran pemukulan, sengatan listrik, dan pelecehan lainnya.

Kementerian Pertahanan Rusia tidak menanggapi permintaan komentar atas tuduhan Ukraina tentang apa yang terjadi di Olenivka.

Rusia dan Ukraina pada bulan Agustus menyetujui misi pencarian fakta PBB, tetapi wakil juru bicara PBB Farhan Haq mengatakan lebih dari seminggu yang lalu bahwa “jaminan keamanan yang sesuai” tidak tersedia untuk memulai proses investigasi.

Ketika tawanan perang Ukraina lainnya kembali pada bulan September, foto-foto itu menunjukkan wajah-wajah yang kurus kering tetapi tersenyum. Skliar percaya Kisilishin seharusnya ada di antara mereka.

Sebaliknya, Kisilishin mungkin kembali ke Ukraina dalam kantong jenazah berlabel “Olenivka” dengan 62 mayat lainnya yang ditukarkan pada 11 Oktober. Kerabat tentara telah memberikan sampel DNA, dan para ahli sekarang bekerja untuk mengidentifikasi jenazah, kata perwakilan Dinas Perlindungan Resimen Azov, Natalia Bahrii.

Tidak jelas mengapa ada lebih dari 60 mayat dalam pertukaran, meskipun pihak berwenang menyebutkan jumlah korban tewas akibat ledakan hanya berkisar 50 orang.

Ayah Kisilishin, Oleksandr yang ditangkap sebagai tawanan perang dan dibebaskan telah memberikan sampel.

Untuk menghormati putranya, sang ayah yang bekerja dengan lembaga swadaya UAnimals, berencana mengatur hibah untuk tempat penampungan hewan melanjutkan pekerjaan yang Kisilishin dedikasikan untuk hidupnya.

Ayah Kisilishin dan Skliar tidak banyak bicara tentang orang yang mereka cintai. “Lagi pula, kita tidak bisa mendapatkannya kembali,” Skliar mengingat apa yang dikatakan Oleksandr kepadanya.

Tetap saja, Skliar berharap suatu hari dia bisa menguburkan Kisilishin.

“Dia berjuang untuk orang-orang bebas dari negara bebas; dia membela kotanya, Mariupol,” kata Viktoria. “Dia adalah seorang pejuang. Dan dia berhak dikuburkan di tanah yang dia bela.” [ss/rs]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.