PBB Desak Uni Eropa Hindari Bahan Bakar Fosil untuk Atasi Krisis Energi

PBB mendesak negara-negara Uni Eropa, Senin (12/9) untuk terus memerangi perubahan iklim dan tidak menggunakan lebih banyak bahan bakar fosil sebagai tanggapan mereka terhadap melonjaknya harga energi dan kekhawatiran akan kekurangan energi pada musim dingin.

Rusia telah mengurangi pasokan gas ke Eropa sejak invasinya ke Ukraina, sehingga membuat harga bahan bakar melonjak. “Tidak ada ruang untuk mundur dalam menghadapi krisis iklim yang sedang berlangsung,” kata wakil kepala urusan HAM PBB Nada Al Nashif kepada Dewan HAM PBB.

Ia merujuk pada banjir dahsyat yang memengaruhi lebih dari 33 juta orang di Pakistan sebagai contoh dari apa yang terjadi ketika dunia gagal bertindak atas perubahan iklim. Ia bertanya, “Berapa banyak lagi tragedi semacam ini harus terjadi sebelum menyentak kita untuk bertindak?.”

Nada al-Nashif.

Berbicara pada pembukaan sesi ke-51 Dewan di Jenewa, Al Nashif mengakui bahwa harga energi yang melonjak di Eropa “mengancam akan berdampak pada kelompok-kelompok yang paling rentan saat musim dingin mendekat”.

Invasi Moskow ke Ukraina telah membuat harga gas alam mencapai rekor tertinggi, dan menjerumuskan ekonomi Uni Eropa ke ketidakpastian yang mendalam.

Semua mata sekarang tertuju pada apakah Presiden Rusia Vladimir Putin akan memutuskan aliran energi sepenuhnya.

Pekan lalu Rusia menyebar ketakutan ketika menghentikan pengiriman gas ke Jerman melalui pipa utama Nord Stream untuk jangka waktu yang tidak ditentukan, sebuah langkah yang menurut Kremlin diambil untuk menanggapi sanksi-sanksi Barat.

Sebelum perang, 40 persen impor gas Uni Eropa berasal dari Rusia. Sekarang Jerman dan negara-negara lainnya berjuang untuk menemukan cara baru untuk menghangatkan rumah dan mengoperasikan pabrik-pabrik.

Al Nashif, yang saat ini menjadi penjabat Komisaris Tinggi Urusan HAM sampai Volker Turk secara resmi menggantikan Michelle Bachelet, mengungkapkan bahwa “beberapa negara anggota Uni Eropa kini beralih ke investasi dalam infrastruktur dan pasokan bahan bakar fosil”.

“Meskipun dorongan itu dapat dimengerti, saya mendesak Uni Eropa dan negara-negara anggotanya untuk mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang akibat membangun infrastruktur bahan bakar fosil,” katanya. “Sangat penting untuk mempercepat pengembangan proyek efisiensi energi dan energi terbarukan.”

Al Nashif mendesak semua negara “untuk mengupayakan target yang ambisius” pada konferensi iklim PBB berikutnya di Mesir pada bulan November. Mereka harus berusaha untuk “mengatasi kerugian dan kerusakan serta memenuhi dan meningkatkan komitmen pendanaan iklim,” katanya.

Pada 30 Agustus, ilmuwan sistem Bumi terkemuka Johan Rockstrom mengatakan krisis biaya hidup yang mendorong jutaan orang Eropa menuju kemiskinan didorong oleh bahan bakar fosil.

“Ini adalah inflasi yang didorong oleh bahan bakar fosil, didorong oleh pasokan,” kata direktur Institut Potsdam untuk Penelitian Dampak Iklim itu kepada AFP. “Kami telah mengatakan sejak 1990 bahwa kami perlu menghentikan ekonomi yang digerakkan oleh bahan bakar fosil menuju ekonomi yang didorong oleh energi terbarukan. Dan sekarang di sinilah kita berada sekarang, kita sedang menghadapinya.” [ab/uh]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.