Meski “Rusak”, Keputusan OPEC Pangkas Produksi Minyak Tak akan Putuskan Aliansi AS-Saudi

Tidak ada pihak yang mundur dalam pertempuran tekad Putra Mahkota Arab Saudi dan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden terkait keputusan OPEC+ untuk memangkas produksi minyak mentahnya. Keputusan tersebut membuat aliansi keamanan pasokan energi AS-Saudi berada di ambang perpecahan. Meski demikian, sejumlah sumber dari negara-negara Teluk dan para ahli mengatakan kerja sama antara dua negara besar tersebut tampaknya tidak akan runtuh secara keseluruhan.

Sebagai pemimpin de facto kelompok minyak OPEC+, Arab Saudi membuat AS berang ketika organisasi produsen minyak itu memutuskan untuk memangkas produksi bahkan setelah pemerintahan Biden berusaha untuk tetap sejalan dengan OPEC selama satu bulan dengan pertimbangan soal pemilihan paruh waktu AS (pemilu sela).

Langkah pemangkasan itu melambungkan harga minyak, dan pada Selasa Biden bersumpah “akan ada konsekuensi” untuk hubungan AS dengan Riyadh, setelah beberapa senator meminta Gedung Putih untuk membekukan semua kerja sama dengan Arab Saudi, termasuk penjualan senjata, menyusul keputusan OPEC+ tersebut.

Juru bicara Gedung Putih John Kirby menggunakan bahasa langsung yang tidak biasa tentang keretakan itu ketika memberikan tanggapan terkait hal tersebut.

Presiden AS Joe Biden (belakang) dan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman di kota pesisir Laut Merah Arab Saudi Jeddah pada 16 Juli, 2022. (Foto: AFP)

Presiden AS Joe Biden (belakang) dan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman di kota pesisir Laut Merah Arab Saudi Jeddah pada 16 Juli, 2022. (Foto: AFP)

Sementara itu, Riyadh sadar bahwa pihaknya tidak dapat dengan mudah mendiversifikasi pasokan senjata untuk militernya, yang telah dilengkapi dan dilatih secara besar-besaran oleh Amerika Serikat sejak kedua negara menjalin hubungan yang saling menguntungkan pada tahun 1945.

Hubungan keduanya sudah rusak oleh sikap Biden terkait pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi pada 2018 dan perang Yaman. Sikap AS yang menunda memberikan kekebalan kepada MBS terkait dalam gugatan AS atas pembunuhan Khashoggi, bahkan setelah ia diangkat sebagai perdana menteri, juga menjadi catatan tersendiri.

“Putra mahkota percaya bahwa pemerintah AS memiliki dia dalam targetnya dan oleh karena itu dia memutuskan untuk menantangnya dan membuktikan kekuatan posisinya di dalam kerajaan dan bahwa dia tidak peduli dengan sikap AS,” kata salah satu sumber Teluk, yang berbicara secara anonim karena alasan sensitivitas dari isu yang dibicarakan.

Kesalahan yang Mengerikan

“Mereka percaya Amerika tidak bisa bertindak jauh dalam menghukum Arab Saudi, jadi ini adalah pertempuran kehendak dan pengambilan keputusan yang berdaulat,” kata sumber itu, menambahkan bahwa Saudi memperkirakan mereka dapat menghadapi opsi pembalasan AS yang “terbatas” atas keputusan OPEC+.

“MBS adalah orang yang sangat bangga,” kata Ali Shihabi, seorang komentator Saudi yang dekat dengan kerajaan. “AS jelas merupakan mitra yang ingin tetap dekat dan bekerja sama dengan MBS, tetapi dia tidak akan membiarkan negara itu berada di bawah belas kasihan politisi AS.”

Logo Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) terlihat di kantor pusatnya di Wina, Austria, 21 Agustus 2015. (Foto: Reuters)

Logo Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) terlihat di kantor pusatnya di Wina, Austria, 21 Agustus 2015. (Foto: Reuters)

Namun, kelemahan Riyadh adalah keamanan. Mereka disebut menghadapi ancaman dari Iran dan proksinya, terutama setelah serangan 2019 yang untuk sementara memukul produksi minyak Saudi dan mengguncang pasar energi. Riyadh menyalahkan Teheran, yang membantah bertanggung jawab akn serangan tersebut.

Beberapa pejabat Saudi secara terbuka menekankan bahwa keputusan OPEC+ tidak ada hubungannya dengan politik, tetapi merupakan keputusan teknis yang didasarkan pada menjaga stabilitas pasar minyak dalam menghadapi pengetatan moneter dan fiskal global.

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.