Menjelajahi Ka’bah Hingga Tembok Ratapan Lewat Teknologi Realitas Maya

Apa jadinya jika Anda bisa merasakan pengalaman spiritual yang Anda dambakan ketika mengunjungi situs-situs suci keagamaan tanpa perlu merogoh kocek sepeser pun? Hal itu kini semakin bisa dilakukan berkat teknologi virtual reality atau realitas maya. Beberapa pengembang platform VR fokus mereka ulang suasana Ka’bah di Mekah hingga Tembok Ratapan di Yerusalem untuk dinikmati para pengguna teknologi realitas maya.

Dari tur kota suci Yerusalem dan Masjid Al-Aqsa, hingga ziarah ke Tembok Ratapan dan Ka’bah di Mekah, jemaah dan wisatawan dari seluruh dunia bisa bisa bergabung dalam perjalanan spiritual dalam realitas maya, alias virtual reality, ke beberapa situs paling suci di Bumi.

Eksplorasi realitas maya dengan tema keagamaan merupakan satu di antara banyak ruang virtual yang berkembang dalam dunia virtual yang disebut metaverse.

Umat Muslim Palestina melaksanakan salat tarawih di depan Masjid Kubah Batu, di kompleks Masjid Al Aqsa di Kota Tua Yerusalem, Rabu, 27 April 2022. (Foto: AP)

“Kami percaya realitas maya adalah bentuk internet yang baru, cara baru orang-orang untuk tidak hanya menonton layar secara pasif dan hanya mengklik foto dan video, tetapi juga untuk benar-benar menteleportasi diri mereka dan menjalani elemen telekolektivisme dan telepresence, di mana mereka bisa bepergian, menjelajah dan merasakan perbedaan ritual, budaya, arsitektur… mencicipi dunia tanpa benar-benar harus mengeluarkan uang,” ujar Nimrod Shanit, produser dan direktur platform realitas maya The Holy City virtual reality.

Telepresence adalah sistem komunikasi interaktif audio-video dalam ruangan virtual, seolah-olah seluruh peserta berada di ruangan yang sama.

Pada tahun 2015, Shanit mulai membangun The Holy City, platform realitas maya yang memungkinkan orang-orang ‘mengunjungi’ situs-situs paling suci di Yerusalem. Peziarah virtual dapat mengikuti ulama Ortodoks secara virtual ketika mereka muncul dari Gereja Makam Suci dalam upacara Api Kudus, menyelipkan catatan doa ke celah Tembok Ratapan, atau mengikuti langkah ribuan jemaah di Masjid Al-Aqsa saat bulan Ramadan.

Masjid Kubah Batu di kompleks Masjid Al Aqsa, dan Tembok Barat, situs paling suci tempat orang Yahudi dapat berdoa, terlihat di Kota Tua Yerusalem, Jumat, 10 April 2020. (Foto: AP)

Masjid Kubah Batu di kompleks Masjid Al Aqsa, dan Tembok Barat, situs paling suci tempat orang Yahudi dapat berdoa, terlihat di Kota Tua Yerusalem, Jumat, 10 April 2020. (Foto: AP)

“Kami menangkap suasana tempat-tempat ini, sehingga ketika Anda mengenakan headset, Anda bisa benar-benar merasa seperti sedang ada di sana.” “Anda bisa berjalan-jalan jika Anda berada di tempat yang besar, seolah-olah Anda sedang berada di dalam Makam Suci atau di halaman Tembok Ratapan atau halaman Masjid Al-Aqsa,” kata Nimrod Shanit.

Pada tahun yang sama, Ehab Fares, kepala eksekutif agensi digital BSocial, mulai menciptakan pengalaman virtual yang memungkinkan pengunjung realitas maya, alias VR, untuk berziarah dan menjelajahi beberapa situs paling suci dalam agama Islam, termasuk Mekah. Ia menyebut platformnya Experience Makkah.

“Generasi muda terpaku pada gawai. Saya ingin menjangkau generasi itu dan memperkenalkan Islam melalui teknologi,” kata Ehab Fares.

Meski demikian, Fares mengatakan, pengalaman dalam realitas maya tidak serta-merta menghilangkan ritual keagamaan di dunia nyata.

“Dalam hal pengalaman spiritual, teknologi ini membuat Anda hampir merasakan pengalaman yang sesungguhnya. Tapi ia tidak menggantikan pengalaman tersebut,” katanya.

Versi terbaru platform VR itu bisa dijelajahi dengan menggunakan Google Cardboard, alat peneropong realitas maya yang terbuat dari kardus dengan harga terjangkau, yang mengubah telepon pintar menjadi medium untuk menyelami dunia VR.

Proyek realitas maya berbasis agama juga membuat terobosan di dunia akademis.

Pada musim semi lalu di Universitas Miami, para mahasiswa mencoba mengenakan headset VR untuk menyaksikan video 360 derajat upacara Voodoo Haiti, upacara pemakaman Hindu dan pembaptisan Kristen, dalam mata kuliah Agama dan Ruang Suci di Era Realitas Maya dan Kecerdasan Buatan. Para mahasiswa juga dapat menciptakan ruang sakral virtual mereka sendiri.

“Di titik tertentu, agama melibatkan pikiran sekaligus raga Anda, dan Anda tidak bisa melakukannya dalam format dua dimensi. Meski demikian, Anda bisa melakukannya dalam metaverse,” kata William Green, dosen Studi Keagamaan di Universitas Miami. [rd/jm]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.