Mengapa Kerumunan Massa Dapat Berujung Maut?

Kerumunan massa berujung maut terjadi di sebuah festival musik di Houston dan klub malam di Chicago, di stadion sepak bola di Inggris dan Indonesia, dan saat ibadah haji di Arab Saudi, serta di sejumlah acara yang tak terhitung jumlahnya. Kerumunan besar orang yang bergerak menuju ke pintu keluar, lari ke lapangan sepak bola atau mendorong ke arah panggung pertunjukkan dengan kekuatan begitu dahsyat dapat membuat orang-orang terjepit hingga meninggal dunia.

Hal ini kembali terjadi dalam perayaan Halloween di Itaewon, Seoul, Korea Selatan, Sabtu malam (29/10), ketika kerumunan massa bergerak di sebuah jalan yang sempit dan menyebabkan sedikitnya 153 orang meninggal dunia dan 130 lainnya luka-luka – termasuk sedikitnya 40 orang yang berada dalam kondisi kritis.

Risiko kecelakaan tragis semacam itu, yang surut ketika tempat-tempat itu ditutup dan orang-orang terpaksa tinggal di dalam rumah karena perebakan luas virus corona, kini terjadi lagi.

Yang pasti, sebagian besar acara di mana massa kerumunan tetap berlangsung aman, tanpa cedera atau kematian. Penggemar datang dan pergi tanpa insiden.

Mengapa Orang Bisa Meninggal dalam Kerumunan Massa Seperti di Seoul?

Meskipun di film-film digambarkan bahwa banyak orang yang tewas ketika berupaya keluar dari kerumunan massa dan menggambarkan bahwa saling dorong dan terinjak-injak sebagai penyebab kematian, kenyataan menunjukkan bahwa kebanyakan orang meninggal dalam kerumunan karena mati lemas akibat tidak dapat bernafas.

Apa yang tidak dapat dilihat mata adalah daya yang begitu kuat sehingga dapat membengkokkan baja. Ini berarti sesuatu yang sederhana – seperti menarik nafas – menjadi tidak mungkin. Orang-orang tewas dalam posisi berdiri, dan jatuh di atas tubuh orang lain yang justru memberi tekanan sedemikian rupa sehingga bernapas menjadi sesuatu yang mustahil dilakukan.

Setelah insiden dorong-dorongan dan terinjak-injak di Astroworld di Houston, November 2021, seorang profesor tamu yang menekuni studi kerumunan massa di Universitas Suffolk, Inggris, G. Keith Still mengatakan pada NPR bahwa “ketika orang-orang berjuang keras untuk berdiri, untuk bangkit, tangan dan kaki mereka terpelintir. Pasokan darah ke otak mulai berkurang. Hanya dibutuhkan 30 detik sebelum orang kehilangan kesadaran, dan sekitar enam menit sebelum orang mengalami asfiksia restriktif atau komprehensif. Ini umumnya penyebab kematian dalam insiden kerumunan massa seperti ini, bukan karena terinjak-injak, tetapi karena mati lemas (akibat kekurangan oksigen.red).”

Pengakuan para Penyintas

Orang-orang yang selamat dari insiden semacam itu menceritakan kondisi seperti terengah-engah, didorong lebih dalam pada apa yang terasa seperti longsoran tubuh manusia, ketika orang-orang yang putus asa berupaya keras keluar, memanjat di atas tubuh mereka karena terjepit di pintu yang tidak bisa terbuka, atau pagar yang tidak mau terbuka.

“Para penyintas menggambarkan kondisi yang secara bertahap diawali dari rasa tertekan, tidak dapat bergerak, kepala yang terkunci di antara lengan dan bahu, nafas yang terengah-engah dan panik,” menurut sebuah laporan setelah insiden kerumunan massa di stadion sepak bola Hillsborough di Sheffield, Inggris, tahun 1998. Lebih dari 100 fans Liverpool tewas dalam insiden itu. “Mereka sadar bahwa orang-orang di sekitar mereka sekarat dan mereka sendiri tidak berdaya untuk menyelamatkan diri,” tambah laporan itu.

Apa Pemicunya?

Di sebuah klum malam di Chicago tahun 2003, kerumunan massa terjadi tidak lama setelah penjaga keamanan menggunakan semprotan merica untuk membubarkan sebuah perkelahian. Dua puluh satu orang tewas dalam gelombang kerumunan massa yang panik.

Hal senada terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Indonesia, ketika massa yang berupaya menghindari tembakan gas air mata berebut keluar pintu stadion yang berukuran kecil. Sedikitnya 131 orang meregang nyawa dan ratusan lainnya luka-luka.

Di Nepal, hujan yang turun secara tiba-tiba membuat para penggemar sepak bola bergegas menuju ke pintu keluar stadion yang ternyata terkunci. Sembilan puluh tiga orang tewas dalam insiden tahun 1988 itu.

Dalam insiden terbaru di Korea Selatan, beberapa kantor berita melaporkan aksi saling dorong terjadi ketika sejumlah besar orang bergegas ingin mencapai sebuah bar, setelah beredar kabar bahwa seorang selebriti sedang berada di sana.

Tetapi G. Keith Still, pakar Inggris yang telah menjadi saksi ahli di pengadilan dalam beberapa kasus yang melibatkan kerumunan massa, menunjukkan adanya variasi contoh sejak zaman kuno, ketika ada seseorang yang meneriakkan kata “api” di bioskop yang ramai.

Tahun 2021 lalu ia mengatakan pada Associated Press, dibandingkan di negara lain, ada hal sederhana di Amerika yang dapat memicu kerumunan massa bergegas menyelamatkan diri dan berpotensi menimbulkan insiden saling dorong, yaitu ketika seseorang berteriak “ia punya pistol!”

Pandemi Virus Corona

Anda tentu ingat apa yang dilakukan pihak penyelenggara pertandingan atau kompetisi untuk menunjukkan seakan-akan stadion penuh terisi saat perebakan luas virus corona antara tahun 2020-2021? Sejumlah tim mengambil langkah kreatif untuk membuat segalanya terlihat normal dengan menempelkan sosok penggemar dalam karton berukuran besar di beberapa kursi, dan memasang suara-suara yang menunjukkan keriuhan massa, seperti suara tawa atau teriakan pengunjung.

Tetapi kini kerumunan sesungguhnya sudah kembali, dan potensi bahaya pun mengintai.

Steve Allen di Crowd Safety mengatakan “begitu orang-orang kembali, ada selalu ada risiko seperti ini.” Crowd Safety adalah badan konsultan yang berkantor di Inggris dan kerap terlibat menangani acara-acara besar di seluruh dunia. [em/jm]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.