Kontroversi Liputan di Tempat Penitipan Anak, Kru CNN Tinggalkan Thailand

Dua wartawan CNN hari Senin (10/10) meninggalkan Thailand setelah pihak berwenang menuduh mereka menggunakan visa kunjungan untuk memasuki negara itu dan meliput penembakan massal di sebuah tempat penitipan anak yang menewaskan hampir 40 orang pekan lalu.

Anna Coren, usia 47 tahun, dan Daniel Hodge, usia 34 tahun, dikecam luas karena merekam video di dalam pusat penitipan anak di timur laut Nong Bua Lam Phu, di mana puluhan anak dibunuh seorang mantan polisi dengan senjata api dan pisau.

Pihak berwenang mengatakan kedua wartawan itu secara tidak tepat memasuki lokasi kejadian tanpa izin, dan sempat diselidiki aparat atas tuduhan itu.

Wakil Kepala Kepolisian Nasional Thailand Surachate Hakparn mengatakan kedua wartawan telah dibebaskan dari tuduhan melakukan pelanggaran tetapi dikenai denda 5.000 baht, atau sekitar 133 dolar, dan setuju untuk meninggalkan negara itu.

Kedua wartawan itu dijadwalkan terbang ke Hong Kong.

PBS Thailand mengutip seorang sumber yang mengatakan keduanya tidak masuk dalam daftar hitam otoritas imigrasi Thailand.

Netizen Thailand Marah

Mantan polisi Panya Kamrab Kamis lalu (6/10) menewaskan sedikitnya 38 orang, termasuk 24 anak-anak, dalam serangan yang dimulai dari tempat penitipan anak di kota Uthai Sawan. Korban tewas mencakup anak-anak di bawah usia lima tahun dan seorang guru perempuan yang sedang hamil delapan bulan.

Pihak berwenang setempat mengatakan Kamrab telah dipecat dari kepolisian awal tahun ini dan sedang menghadapi sidang pengadilan atas tuduhan kepemilikan narkoba.

Setelah serangan itu laki-laki berusia 34 tahun itu membunuh istri dan anak tirinya, dan kemudian bunuh diri.

Meskipun penembakan massal jarang terjadi di Thailand, insiden minggu lalu adalah yang terburuk dalam sejarah Negeri Gajah Putih itu. Pembantaian itu menimbulkan kesedihan mendalam di seluruh Thailand, dan meskipun proses pemakaman telah dimulai, sebagian keluarga masih berupaya berdamai dengan diri sendiri dengan kehilangan orang-orang yang mereka cintai.

Peristiwa ini menjadi berita utama di seluruh dunia dan telah diliput oleh media lokal dan internasional.

Dalam kaitan dengan itu, di media sosial beredar sebuah foto yang menunjukkan wartawan CNN meninggalkan tempat penitipan anak itu, sementara salah seorang di antara mereka memanjat pagar yang ditutup. Foto itu memicu kemarahan lokal netizen Thailand dan memperingatkan pihak berwenang atas dugaan pelanggaran lokasi kejadian perkara kriminal oleh wartawan.

Foreign Correspondent Club Thailand FCCT merilisi pernyataan yang mengatakan mereka “kecewa” kedua wartawan itu memasuki lokasi kejadian tanpa izin. FCCT mengatakan kedua wartawan itu melakukan peliputan “dengan cara yang tidak professional” dan melakuka “pelanggaran serius terhadap etika jurnalistik dalam pelaporan berita kejahatan.”

Sebagai tanggapan, CNN mengatakan kedua wartawan telah mendapat izin dari seorang sukarelawan atau petugas kesehatan untuk memasuki tempat penitipan anak itu, tanpa menyadari bahwa orang tersebut tidak berwenang memberikan izin.

Kedua wartawan CNN itu kemudian dikawal ke kantor polisi setempat dan diinterogasi sebelum dikenai denda dan visa kunjungan mereka dicabut.

Anna Coren, wartawan Australia yang bergabung dengan CNN tahun 2008, lewat video yang diposting di Twitter minta maaf. Sementara Wakil Presiden Eksekutif CNN International Mike McCarthy merilis pernyataan bahwa pihaknya tidak pernah berniat melanggar aturan apapun dan jaringan televisi itu “sangat menyesal” atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan dari peliputan tersebut.

Segmen video yang diproduksi kedua wartawan di pusat penitipan anak itu telah ditarik dari penyiaran dan dihapus dari situs web CNN.

“Jurnalisme Parasut”

Bagian dari video CNN yang sekarang sudah dihapus itu menunjukkan tempat penitipan anak dalam kondisi awal setelah insiden penembakan, dengan lantai berlumuran darah. Penayangan video itu menuai kecaman luas karena ketidakpekaan stasiun televisi tersebut.

Pravit Rojanaphruk, veteran wartawan di Khaosod English – sebuah kantor media online – mengatakan foto-toto “mengerikan” yang diterbitkan media lokal Thailand pernah dianggap sebagai norma, tetapi kini praktiknya telah berubah. “Segalanya sudah berubah, dan kecenderungan yang ada sekarang adalah menghindari menayangkam foto korban kejahatan dan kecelakaan yang mengganggu,” ujarnya pada VOA.

Ini bukan pertama kalinya CNN mendapat kecaman di Asia Tenggara.

Pada April 2021, seorang kru CNN mewawancarai warga Myanmar saat puncak protes massal pasca kudeta militer 1 Februari 2021. Pihak berwenang setempat menangkap 11 orang sebagai hasil dari wawancara yang disiarkan CNN itu. [em/jm]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.