Kebakaran Lalap Penjara Tapol di Iran Saat Demonstrasi Meluas

Api dan asap membubung dari penjara Evin di Teheran. Belum ada rincian tentang bagaimana lembaga pemasyarakatan yang dikenal sebagai tempat menahan para tahanan politik itu terbakar. Kebakaran itu dibayangi demonstrasi jalanan yang sesekali disertai aksi kekerasan di Republik Islam itu, dan kini sudah memasuki bulan kedua.

Hal ini dimulai dari kematian Mahsa Amini, seorang perempuan berusia 22 tahun, di tahanan polisi setelah sebelumnya ditangkap polisi moral karena tidak mengenakan jilbab secara benar. Pihak berwenang merilis video yang mengklaim bahwa Amini pingsan di pos polisi dan memicu serangan jantung yang fatal. Tetapi pihak keluarga membantah pernyataan itu, dan kepada VOA mengatakan Amini tidak pernah punya masalah jantung sebelum ditangkap polisi moral pada 13 September lalu.

Kabar kematian Amini memicu demonstrasi dan kemarahan dunia. Dalam demonstrasi di Chile, sebagian warga Iran bahkan membakar paspor mereka di depan Kedutaan Besar Iran di negara itu. Kemarahan itu memicu gerakan di seluruh dunia menentang pemerintah teokrasi Iran.

Berbicara di Irvine Valley Community College di California, Presiden Joe Biden mengatakan, “Iran harus mengakhiri kekerasan terhadap warga negaranya sendiri yang semata-mata hanya menjalankan hak-hak dasar mereka. Saya telah mendalami isu kebijakan luar negeri sejak lama, saya terperangah melihat kebangkitan warga Iran. Suatu hal yang saya kira tidak akan bisa dipadamkan untuk waktu yang sangat lama.”

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang sebelumnya mengatakan berduka dengan kematian Amini, kini berbalik menyalahkan Amerika dan Israel karena menabur perbedaan pendapat di Republik Islam itu. Ia mengatakan demonstrasi-demonstrasi itu tidak akan menghancurkan dasar negara itu.

Tetapi warga Iran secara terus menerus mengirim video kepada VOA yang menunjukkan demonstrasi yang semakin meluas, yang sebagian diwarnai dengan pembakaran spanduk para pejabat Iran. Salah satu video menunjukkan nyanyian dari atap-atap gedung “mati lah diktator,” sebutan bagi pemimpin tertinggi Iran.

Sebagian demonstran yang ditahan di penjara Evin diketahui memiliki dwi-kewarganegaraan dengan negara-negara afiliasi Barat. Departemen Luar Negeri Amerika mengatakan bekerjasama dengan mitra-mitranya di Swiss untuk mengupayakan pembebasan para aktivis. [em/jm]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.