Death Café di Australia, Atasi Takut akan Kematian

Topik yang dibahas di ‘Kafe Kematian’ atau Death Café di kota Hobart, Tasmania, bukanlah sesuatu yang umum dibahas oleh orang-orang yang asing satu sama lain.

Mitchell Jansen, salah seorang pengunjung kafe itu, bertanya, “Pernahkah Anda bersama dengan seseorang yang sekarat? Bagaimana perasaan Anda?”

Topik itu bukan hal yang tabu dibahas di sana. Para pengunjungnya dengan bebas membahas saat-saat terakhir dengan orang-orang yang mereka cintai.

Salah seorang partisipan mengemukakan pengalamannya.”Ia berusia 87. Dan saya sangat mujur dan beruntung dapat pergi ke Jerman dan bersama dengannya,” jelasnya.

Kelompok itu juga membahas apa yang akan mereka lakukan dalam menghadapi penyakit yang tidak dapat disembuhkan lagi. Ketika didiagnosis dengan kanker yang serius, misalnya, peserta diminta membahas apakah mereka menginginkan dokter mengemukakannya secara langsung dan terus terang, atau hanya berfokus pada langkah-langkah berikutnya yang tidak membuat mereka sendiri kebingungan.

Inilah kesempatan bagi orang-orang untuk berkumpul bersama dan membahas topik yang kerap dianggap tabu. Salah seorang pendiri Tassie Death Café, Leigh Connell, mengatakan, “Ada orang-orang yang benar-benar ingin membicarakan masalah ini dan mereka mendapat penolakan di beberapa tempat.”

Setiap orang mengunjungi kafe itu dengan alasan pribadi yang berbeda-beda. Jansen, misalnya, menderita fibrosis kistik (cystic fibrosis) dan sejak awal menyadari tentang kematiannya karena penyakit itu. Ia merasa senang ketika tahu bahwa bukan hanya ia sendiri yang mengalami ketakutan akan kematian.

Pengunjung lainnya, Nikita Harris, awalnya bekerja di panti wreda. Ia merasa memiliki kesempatan istimewa berada bersama dengan orang-orang pada saat-saat terakhir hidup mereka. Hal tersebut membuat Harris mempertanyakan apa yang terjadi setelah orang itu meninggal dunia.

Gerakan Death Café dimulai di Inggris pada tahun 2011. Sejak itu, lebih dari 14 ribu pertemuan diperkirakan telah diselenggarakan di 81 negara.

Pendiri lain kafe itu, Lynn Redwig menambahkan, “Bukankah akan luar biasa jika ini menjadi bagian dari kurikulum, kurikulum Australia, yang mengajarkan anak-anak sedari awal untuk memahami tentang kematian.”

Dan meskipun topiknya mungkin menyeramkan, tetapi selalu saja ada kesempatan tertawa bersama sewaktu kelompok ini bertemu. [uh/ab]


Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.