Biara Abad Pertengahan Masih Penting bagi Warga Serbia di Kosovo

Biara Banjska, seperti kebanyakan peninggalan Kristen Ortodoks Serbia dari abad pertengahan, masih berdiri di Kosovo yang mayoritas penduduknya Muslim. Orang Serbia memandang Kosovo sebagai jantung negara mereka dan melacak keberadaan mereka ke ratusan biara Gereja Ortodoks Serbia abad pertengahan yang tersebar di sana.

Bagi banyak orang Serbia, kisah Biara Banjska yang panjang dan kompleks mencerminkan sejarah mereka di Kosovo. Dibangun pada tahun 1313, biara ini berulang kali diserbu pasukan Turki Ottoman sewaktu mereka menaklukkan kawasan Balkan.

Tempat ini dianggap sebagai peristirahatan terakhir penguasa kekaisaran Ortodoks Serbia, yang pada Abad Pertengahan membentang di sebagian besar Balkan, termasuk wilayah Kosovo sekarang ini. Kompleks biara dihancurkan semasa Ottoman berkuasa di Serbia (1459-1878) dan gerejanya diubah menjadi masjid.

Dragoljub Todorovic adalah arsitek Serbia yang selama tiga dekade terlibat dalam penggalian dan konservasi berbagai situs warisan Gereja Ortodoks Serbia di Kosovo.
Pada pergantian abad ke-20, “gereja biara berupa reruntuhan, sementara bagian lain kompleks abad pertengahan ini terkubur di bawah tanah dan tidak terlihat,” jelas Todorovic.

Reruntuhan itu terkubur hingga 1990, ketika Biara Banjska muncul kembali sebagai situs arkeologi serta konservasi penting dan berada di bawah perlindungan pemerintah.

Ketika itu, Serbia adalah satu dari enam republik federasi sosialis Yugoslavia. Kosovo, dengan populasinya yang mayoritas keturunan Albania, adalah provinsi otonomnya di bagian utara.

Todorovic menjelaskan,”Dalam proses penggalian arkeologi, sisa-sisa dari hampir semua bagian kompleks asli biara ditemukan, dan pada saat konstruksinya, ini ditetapkan sebagai biara terbesar di Serbia abad pertengahan.”

Tempat ibadah ini direstorasi dan dikembalikan lagi ke fungsi lamanya serta diserahkan ke Gereja Ortodoks Serbia. Tetapi sebelum akhir dekade itu, Yugoslavia terpecah melalui serangkaian perang antaretnis yang brutal.

Kosovo mengalami konflik separatis tahun 1998-1999 di mana lebih dari 10 ribu orang, sebagian besar etnis Albania, tewas dan satu juta lainnya terusir dari rumah mereka.

Konflik ini akhirnya berujung pada pemisahan Kosovo dari Serbia, suatu langkah yang masih diperdebatkan oleh Beograd tetapi diakui oleh lebih dari 100 negara, termasuk AS dan sebagian besar negara Uni Eropa.

Kurang dari separuh dari 230 ribu orang Serbia, populasinya sebelum perang Kosovo masih berada di wilayah itu setelah deklarasi kemerdekaan, berikut ratusan biara Gereja Ortodoks Serbia abad pertengahan yang terpencar di negara itu.

Serbia masih belum mengakui pernyataan kemerdekaan Kosovo tahun 2008 dan mempertahankan pengaruh kuat di daerah-daerah berpopulasi etnis Serbia, kebanyakan di bagian utara.

Serbia terus mengklaim Kosovo sebagai jantung negara mereka dan pertempuran tahun 1389 di sana, di mana mereka kalah dari Turki Ottoman, merupakan momen penting dalam sejarah kolektif mereka.

Perundingan pascakemerdekaan yang dimediasi Barat dan masih terus berlangsung ini mendorong pembentukan zona-zona perlindungan khusus di sekitar biara dan gereja Ortodoks Serbia di Kosovo.

Pihak berwenang Kosovo menerima kewajiban mereka untuk melestarikan situs-situs itu dan mengidentifikasi situs lainnya yang memerlukan penggalian, pelestarian dan perlindungan.

Di kalangan etnis Serbia di Kosovo sendiri, gereja itu terus dianggap sebagai satu-satunya institusi yang layak dipercaya. Dalam kata-katanya, Valentina Bitulic, profesor ilmu sosial dan seorang etnis Serbia di Kosovo, menjelaskan, “Berlanjutnya kehadiran Gereja Ortodoks Serbia di sini sangatlah penting karena ini adalah jaminan keberlangsungan hidup orang Serbia di Kosovo dan Metohija. Perannya selama berabad-abad adalah melalui Ekaristi, mendukung pembaptisan, pernikahan dan ritual suci lainnya, orang-orang Serbia yang harus hidup di bawah penguasa Turki selama hampir 500 tahun.”

Bitulic menambahkan bahwa orang Serbia di Kosovo kembali terpecah, kali ini antara negara mereka yang kini merdeka serta didominasi oleh etnis Albania dan Serbia yang menolak mengakui pemisahan bekas provinsi mereka itu secara resmi.
Banyak orang yang berpaling ke gereja untuk meminta bimbingan. Bitulic menambahkan bahwa satu-satunya harapan dan pedoman mereka adalah berpaling ke Gereja Ortodoks Serbia dan pendeta yang memberitahu umat dalam setiap liturgi bahwa mereka harus tetap berada sana.

Meskipun Gereja Ortodoks Serbia secara terbuka dan lantang mendukung klaim Serbia atas wilayah seluas lebih dari 10.887 kilometer persegi yang membentuk Kosovo, wakil-wakil dan para jemaatnya di negara tersebut menegaskan bahwa gereja ortodoks benar-benar merupakan organisasi sosial dan keagamaan. [uh/ab]


Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.