Banyak Warga Pakistan Beralih ke Energi Terbarukan untuk Atasi Biaya Listrik

Di Pakistan, beberapa rumah tangga mengalami kenaikan tagihan listrik tiga kali lipat dalam dua tahun terakhir. Banyak keluarga akhirnya memutuskan memasang panel surya untuk mengatasinya. Ternyata, meski harus membayar biaya alat dan pemasangan yang tidak murah, mereka dapat mencapai titik impas hanya dalam dua hingga tiga tahun.

Kabir Hussain, seorang warga Karachi, seringkali kesal dengan suplai listrik ke rumahnya. Kekurangan listrik yang kronis di kota itu, tak jarang membuat daerah tempatnya tinggal mengalami pemadaman listrik pada bulan-bulan musim panas, ketika banyak orang menyalakan AC. Ia juga mengeluhkan tagihan listrik yang melambung.

“Beberapa tahun yang lalu, tagihan per bulan sekitar $45-54. Tahun lalu naik menjadi $68-81. Tahun ini, saya baru menerima tagihan bulan lalu sebesar $135. Saya tidak tahu kapan akan berakhir, jadi saya harus memutuskan untuk menyingkirkan tagihan besar ini dan berinvestasi di panel surya,” jelasnya.

Panel surya yang dipasang di atas rumahnya mampu menghasilkan lima kilowatt listrik, yang bisa digunakan secara bersama untuk menyalakan dua AC, satu mesin cuci, satu TV dan empat lampu dan kipas. Ia sendiri menghabiskan $5000 untuk semua itu. Hussain berharap, ia bisa kembali modal dalam empat tahun dan setelah itu selalu mendapatkan listrik gratis.

Arsalan Shabbir, pendiri perusahaan SESCO Energy Solutions, mengatakan investasi energi surya untuk penggunaan pribadi atau industri masih relatif murah di Pakistan, di mana rumah tangga dapat mencapai titik impas dengan cukup cepat.

“Dibanding pada 2018, pendapatan kami meningkat hingga di atas 200 persen. Dalam riset kami, meningkatnya minat orang ke energi surya dikarenakan titik impasnya bisa dicapai dalam waktu dua sampai tiga tahun,” jelasnya.

Ilustrasi - Pekerja memasang panel surya di pembangkit listrik fotovoltaik di Hami di Daerah Otonomi Uyghur Xinjiang China barat laut Senin 22 Agustus 2011.

Ilustrasi – Pekerja memasang panel surya di pembangkit listrik fotovoltaik di Hami di Daerah Otonomi Uyghur Xinjiang China barat laut Senin 22 Agustus 2011.

Nabil Bari, seorang konsultan energi di Karachi, mengatakan Pakistan sangat bergantung pada tenaga panas untuk menghasilkan listrik.

“Saat ini, sebagian besar pembangkit kami dioperasikan dengan tenaga panas. Kami menghasilkan sekitar 60 persen listrik kami dari pembangkit listrik termal dan Anda dapat mengatakan hanya sekitar 15 persen atau kurang dari 15 persen yang dihasilkan dari sumber daya terbarukan,” terangnya

Pembangkit listrik termal membutuhkan bahan bakar fosil untuk dibakar yang kemudian diubah menjadi listrik. Dengan kenaikan harga bahan bakar global baru-baru ini, rumah tangga, swasta dan industri di Pakistan tentunya menghadapi tagihan listrik yang meroket.

Bari mengatakan bahwa Pakistan perlu mengalihkan fokusnya ke sumber energi terbarukan. Menurut laporan Bank Dunia yang diterbitkan pada Juni 2020, Pakistan memiliki potensi sumber daya surya yang sangat besar. Dengan menggunakan kurang dari satu persen wilayah negara itu untuk pembangkit energi surya, Pakistan bisa memenuhi kebutuhan listriknya saat ini. [ab/ka]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.