Waw! Tak Ada ‘Durian Runtuh’, Ekspor RI Diramal Tetap Moncer

portalutama.com – Bank Indonesia (BI) memperkirakan tren surplus neraca perdagangan Indonesia akan berlanjut hingga 2023. Optimisme ini menguat meskipun ekonomi global mereka akui akan melambat dan cenderung mengarah ke stagflasi.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo menjelaskan, tren surplus neraca perdagangan yang terus terjadi sejak 2021 hingga tahun ini, akan berlanjut pada tahun depan karena dipengaruhi kebijakan hilirisasi produk-produk pertambangan mineral yang konsisten dilakukan pemerintah.

“Memang bisa saja harga komoditas turun, permintaan terpengaruh, tapi kita lihat apa yang dilakukan pemerintah dengan restrukturisasi di sektor riil itu sebetulnya bagian dari kita bangun optimisme,” kata Dody dalam acara Siniar Prospek Perekonomian dan Arah Bauran Kebijakan Bank Indonesia 2022, Jumat (2/11/2022)

Proses hilirisasi ini menurutnya konsisten dilakukan dengan cara membangun smelter untuk komoditas pertambangan seperti nikel, bauksit, hingga tembaga. Pengolahan sumber daya alam di dalam negeri dan tidak mengekspor mentahannya ini menurutnya bentuk keberhasilan membuat nilai tambah pada perekonomian domestik.

“Artinya kalau kita ekspor kemarin nilainya hanya US$ 10-50, mungkin ini bisa 20-30 kali lipat dengan suatu nilai tambah yang diberikan dari produk-produk yang di smelting di domestik, itu sebetulnya suatu terobosan yang harus diakui,” ujar Dody.

Dengan adanya nilai tambah dari produk ekspor ini, Dody menekankan BI semakin optimistis pertumbuhan ekonomi pada 2023 akan terjaga di kisaran 4,5-5,3%. Pada 2024, BI pun memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan kembali tumbuh di kisaran 4,7-5,5%.

“Itu yang membuat saya yakin meski permintaan dunia bisa saja terpengaruh tapi dalam hal beberapa komoditi kita yang smelting, nilai tambah dari bauksit dan nikel itu sangat dibutuhkan oleh industri di luar meski kondisi di luar tidak secerah tahun-tahun sebelumnya,” ujar Dody.

error: Content is protected !!