Tama Florentina, Good Leader Itu Mendelegasikan

Tama Florentina, Founder & CEO Hesitada Group.

Tidak lahir dari keluarga pebisnis tak menghalangi Tama Florentina untuk sukses berbisnis dan membangun perusahaan. Setelah tamat kuliah S-2 di Selandia Baru dan bekerja delapan tahun di sana, tahun 2014 Tama balik ke Jakarta merintis usaha karpet (rug).

Rupanya, usaha yang dikibarkan melalui bendera Hesidata Group itu berkembang baik. Kini Hesitada merupakan market leader di bisnis penyediaan karpet eksklusif untuk kalangan menengah-atas.

“Saya awalnya hanya iseng-iseng. Kebetulan saya memang sangat suka desain. Saya jual melalui Instagram dari karpet yang mau saya pakai. Iseng saja saya jual di IG. Kalau tidak laku, ya bisa saya pakai sendiri saja,” kata Founder & CEO Hesitada Group ini mengenang.

Tak dinyana, setelah berjalan sekitar 1,5 tahun usaha coba-coba itu berjalan baik dan disambut positif oleh pelanggan. Karenanya, Tama memutuskan untuk full time menggeluti bisnis karpet.

Pada awal usaha, ia hanya punya keinginan sederhana: bisa mengurus anak sembari punya toko di mal. Namun, dalam perjalanannya bisnisnya makin berkembang.

Hesitada yang digawangi sekitar 50 karyawan sekarang fokus memproduksi karpet eksklusif bermutu internasional. Dalam hal ini, Tama mengusung dua brand utama, yaitu Rug House untuk segmen karpet yang fast moving dan value for money, serta Moire untuk kelas premium yang lebih customized dan personalized. Karpet buatan Hesitada pun makin eksis di kalangan pencinta dekorasi rumah dan desain interior.

Semua proses produksi dikerjakan oleh para pekerja asli Indonesia. Demikian pula dalam hal manajemen. Untuk promosi, sejak 2016 pihaknya membuka flagship store; awalnya di Mal Lippo Kemang lalu dipindah ke Jl. Ahmad Dahlan, Jakarta Selatan.

Selain itu, Tama juga aktif mengikuti pameran di bazar dan komunitas. Juga mengenalkan ke perusahaan furnitur, aksesori dekorasi rumah. Sejak 2018 ia memproduksi sendiri karpet yang ia jual, dengan merekrut para pengrajin yang diberi pelatihan. Para pekerjanya disediakan mes di daerah BSD.

Tahun 2021, seiring kenaikan penjualan yang signifikan, Hesitada pun memperluas pabrik menjadi sekitar 1.400 m2 di Sunter.

Dari sisi pemasaran, khusus untuk penjualan Rug House, Tama mulai aktif menjalankan pola pemasaran online dan e-commerce untuk mengejar pasar yang lebih masif. Namun, untuk pemasaran Moire berbeda polanya: lebih segmented dan lebih customized untuk kelas A Plus.

Pemasaran Moire dengan cara menyelenggarakan event, berkolaborasi dengan para desainer nasional dan internasional, seperti pernah dilakukan pada event Floor Fairy Tales 2 di Mal Ashta SCBD belum lama ini. Yang jelas, dengan hadirnya Moire, penjualan Hesitada selalu bisa tumbuh minimal 20% tiap tahun. Pelanggan karpetnya selama ini dari kalangan BUMN besar, beberapa hotel bintang 4 dan 5, juga personal kelas A Plus.

Sebagai entrepreneur dan business leader, bisa dikatakan kepemimpinan Tama dibangun secara learning by doing. Ia suka mengikuti webinar, mentoring, dan sharing ilmu bisnis.

Sebagai leader, ia menanamkan enam prinsip etos kerja di perusahaannya. Yakni, kepuasan pelanggan; kualitas dan inovasi; proyek sesuai standar mutu; pencarian laba; kesehatan, keamanan, dan lingkungan; serta peningkatan kualitas SDM.

“Soal kemampuan leadership, saya build up dari experience. Saya selalu percaya bahwa feedback dari karyawan saya itu sangat penting bagi perusahaan. Kami percaya bahwa sumber pembelajaran terbaik adalah feedback,” Tama menjelaskan.

Ia akui, kunci keberhasilan Moire juga karena kuatnya employee retention Hesidata sehingga bisa menjadikan setiap pegawai sebagai spesialis di bidangnya. “Turnover karyawan cukup rendah. Saya selalu percaya bahwa yang diperlukan itu karyawan yang tidak hanya pintar, tetapi memiliki karakter yang satu warna dengan visi-misi dan kultur perusahaan,” katanya tandas.

Tama percaya, perusahaannya bisa berjalan baik meski tanpa dirinya. Sebab, ia telah mendelegasikan dan punya tim yang dipercaya. Hal itu sudah terbukti karena ia pernah absen ke kantor selama setahun disebabkan sakit yang cukup serius yang membuatnya nyaris putus asa.

Beruntung, ketika itu ia sudah punya seorang general manager yang bisa mengawasi jalannya perusahaan sehari-hari. Ia hanya mengontrolnya dengan Zoom meeting tanpa hadir langsung ke kantor. Suaminya pun tak ikut campur mengelola bisnis.

Ia bersyukur sudah belajar bagaimana mendelegasikan pembuatan keputusan sehingga manajer pun bisa melakukannya. Yang jelas, di perusahaannya, untuk mengukur kinerja, telah dibuatkan KPI bulanan dan enam bulanan.

Saat ini omzet Hesitada sudah dua digit miliar. “Ketika baru ada Rug House kami belum terlalu besar, tapi ketika kami luncurkan Moire, market makin membesar. Saya juga tidak menyangka bahwa kelas A+ ini peminatnya lebih banyak,” ungkapnya.

Untuk pengembangan bisnis, ke depan brand Moire tetap akan fokus menggarap segmen karpet premium yang akan melayani pelanggan dengan customized. Adapun brand Rug House akan makin intensif melakukan massalisasi dengan memasarkan karpet yang lebih murah, dan akan menggarap berbagai item produk lain yang potensial, sembari mengembangkan basis penjualan online. (*)

Sudarmadi & Yosa Maulana

www.swa.co.id


Artikel ini bersumber dari swa.co.id.