Sri Mulyani Peringatkan Negara G20: Dunia Dalam Bahaya

portalutama.com – Menteri Keuangan Sri Mulyani kembali menyinggung soal kondisi ekonomi dunia yang kini dalam bahaya dan semakin meningkatnya risiko resesi global. Hal itu disampaikannya dalam pembukaan pertemuan keempat menteri keuangan dan gubernur bank sentral G20 di Washington DC, Kamis (13/10).

“Kita kembali bertemu di tengah situasi ekonomi global yang menjadi lebih menantang, dan saya pikir tidak berlebih untuk mengatakan bahwa dunia sekarang dalam bahaya,” kata Sri Mulyani.

Ia mengatakan, pertemuan kali ini diwarnai dengan berbagai risiko yang semakin meningkat. Tantangan inflasi di banyak negara, prospek pertumbuhan ekonomi yang melambat, ancaman krisis energi dan pangan, masalah perubahan iklim, hingga fragmentasi geopolitik.

Perang di Ukraina yang tak kunjung usai makin memperburuk krisis ketangan pangan dunia. Harga energi masih bergejolak, termasuk harga pangan dan pupuk yang juga masih tinggi. Hal ini diperparah oleh kebijakan proteksi perdagangan oleh sejumlah negara yang mengganggu rantai pasok global.

BACA JUGA

Butuh Dana Besar, Sri Mulyani Minta IMF Bantu Biayai Transisi Energi

Sri Mulyani mengatakan, situasi pangan dunia masih tetap buruk sekalipun perdagangan pangan, seperti ekspor biji-bijian kembali dibuka. Banyak masyarakat yang masih belum bisa menjangkaunya. Sri Mulyani memperingatkan harga pangan kemungkinan masih bisa bertahan tinggi kedepannya sebagai imbas dampak pandemi dan perubahan iklim, serta diperparah oleh masalah suplai pupuk.

“Lanskap energi global juga telah dibentuk kembali secara radikal, pandemi dan perang di Ukraina telah membuat harga energi melonjak, mengakibatkan kekurangan energi dan masalah krisis energi,” kata Sri Mulyani.

Lonjakan harga energi telah mempengaruhi sebagian besar negara. Namun negara berkembang yang menjadi pengimpor energi akan menanggung beban yang lebih berat.

BACA JUGA

The Fed Berpotensi Masih Agresif Menaikkan Suku Bunga

Dalam situasi inflasi meningkat, bank sentral di banyak negara mulai bereaksi. Suku bunga telah dikerek naik. Pengetatan moneter global disebut bahkan lebih cepat dari yang diantisipasi sebelumnya. Hal ini menimbulkan risiko efek rembesan ke seluruh dunia dan menciptakan ancaman bagi pemulihan yang disebut ‘sangat rapuh’.

Berbagai situasi yang menantang tersebut telah membebani bukan hanya negara miskin, tetapi juga negara berpenghasilan menengah hingga negara maju. Stabilitas sosial, khususnya bagi rumah tangga miskin dan rentang makin rentang dengan potensi penurunan standar hidup.

“Kita dapat memperkirakan bahwa situasi global tetap sulit pada tahun 2022 dan mungkin dapat berlanjut hingga tahun 2023. Kristalina (Direktur Pelaksana IMF) akan membagikan kepada kita proyeksi terbaru mereka, kita tidak boleh mengabaikan kemungkinan peningkatan risiko resesi,” kata Sri Mulyani.

error: Content is protected !!