Silicon Valley Sepi Peminat, Giliran 4 Wilayah Ini jadi Incaran

portalutama.com – JAKARTA – Silicon Valley yang dulu sangat fenomenal dan prestisius, kini mulai ditinggalkan oleh banyak perusahaan teknologi.

Menurut penelitian oleh Hoover Institution di Stanford University, ada beberapa faktor yang membuat wilayah itu mulai ditinggalkan.

Tarif pajak yang tinggi, harga properti yang melejit, serta kenyataan bahwa di zaman internet ini semua bisa dilakukan di mana saja, membuat Silicon Valley tidak lagi menjadi tempat istimewa.

Silicon Valley merupakan istilah yang merujuk markas bagi para perusahaan teknologi bermukim.

Tentu, dengan adanya perkembangan di sejumlah wilayah, membuat beberapa perusahaan teknologi besar di Amerika Serikat pun memutuskan untuk memindahkan kantor pusat mereka dari Silicon Valley atau Bay Area menuju California, ke negara bagian lain di AS.

Kini, Texas sendiri menjadi negara bagian paling populer bagi beberapa perusahaan teknologi, seperti Oracle Corp dan Hewlett Packard (HP), serta Tesla.

Sementara itu, Arizona juga dijuluki “Silicon Desert”, yang menjadi sarang start-up, di mana wilayah ini diisi oleh banyak kantor seperti Uber, Yelp, dan Shutterfly.

Di sisi lain, Atlanta, Georgia telah menjadi tempat raksasa seperti Apple dan Microsoft untuk terus mengembangkan teknologi dalam beberapa tahun terakhir.

Lantas, mana saja daerah yang kini diminati oleh sejumlah perusahaan teknologi dunia? Berikut ulasan Bisnis selengkapnya,

1. Atlanta, Georgia

Christa Huffstickler , dari Engel & Völkers Atlanta, mengatakan keterjangkauan merupakan faktor utama dalam tren yang muncul ini. Faktor-faktor lain yang membuat kota tertentu menjadi populer, salah satunya karena iklim yang lebih sejuk dan peraturan yang lebih longgar.

“Di Atlanta, banyak hal yang secara kolektif berkontribusi untuk kami bisa memperluas pasar kami,” katanya.

Baginya, negara bagian yakni Atlanta menghadirkan kawasan yang punya keberagaman budaya dan sumber daya manusia yang berkualitas dari banyak perguruan tinggi. Biaya hidupnya pun lebih rendah dan dengan adanya bandara tersibuk di dunia (Bandara Internasional Hartsfield-Jackson Atlanta) ini kian memungkinkan konektivitas yang mudah ke wilayah global.

Microsoft datang secara bertahap, membawa 15.000 pekerjaan ke Atlanta, sementara Google telah menyewakan 500.000 kaki persegi untuk dijadikan ruang kantor

Bahkan, beberapa pihak menyebutkan bahwa pemimpin global dan regional perusahaan akan pindah ke Atlanta untuk mendukung basis karyawan yang diharapkan tumbuh menjadi sekitar 1.000 selama beberapa tahun ke depan.

Huffstickler mengatakan pengembangan tersebut telah menarik banyak talenta teknologi untuk membeli. “Mereka tertarik dengan 40 West 12th karena lokasinya yang prima di jantung lingkungan Atlanta yang paling diinginkan bagi para pembelot Silicon Valley,” katanya.

Pembeli yang memilih kondonium 40 West 12th ini memang punya tujuan untuk terus dekat dengan wilayah strategis, kemudahan akses jalan, denah lantai yang luas, dan pemandangan yang indah.

Adapun, harga untuk tiap bangunan di Atlanta, berkisar dari US$1,1 juta atau setara dengan Rp16,4 miliar hingga US$2,6 juta atau setara dengan Rp38,9 juta.

2. Dallas dan Houston, Texas

Cindi Caudle, dari Realty Internasional Briggs Freeman Sotheby, telah melihat tren serupa di Texas. “Masuknya penduduk dari California dan kota-kota gerbang lainnya ke Dallas Fort Worth (DFW) sebagian besar disebabkan oleh relokasi perusahaan ke wilayah tersebut, karena perusahaan telah tertarik pada iklim pro-bisnis DFW, lokasi sentral, dan biaya hidup yang menarik bagi karyawan mereka.

Menurutnya, saat ini Texas melihat beberapa industri teknologi melakukan relokasi, termasuk Tesla, HP, dan Oracle.

Hall Arts Residences, menjadi proyek yang ditawarkan Texas untuk pada eksekutif yang pindah ke sana. 48 rumah mulai dari 1.600 meter persegi menghubungkan langsung ke penthouse dua lantai penuh berukuran lebih dari 11.000 kaki persegi.

“Kondominium mewah ini menarik bagi banyak eksekutif yang pindah ke DFW yang terbiasa dengan gaya hidup mewah bertingkat tinggi, setelah pindah dari California, Chicago, New York, dan area metro utama lainnya,”

Tidak hanya itu, mereka juga menawarkan hunian dengan kolam renang, ruang makan pribadi dengan anggur yang dikontrol iklim dan dapur katering lengkap, taman anjing pribadi dan stasiun perawatan, hingga pelayanan yang bisa melayani secara 24 jam.

3. Phoenix, Arizona

Di Arizona, pengembang Banyan Residential sedang membangun Scottsdale Entrada, salah satu pengembangan penggunaan campuran terbesar di area Phoenix, menghasilkan 250.000 kaki per segi untuk ruang kantor, 8.000 kaki persegi untuk ritel dan 735 flat ke lahan seluas 13,35 hektar.

Max Friedman, mitra di Banyan Residential, mengatakan bahwa, bagi perusahaan teknologi yang ingin bersaing untuk mendapatkan bakat, Scottsdale Entrada memberikan “gaya hidup hidup/kerja yang sesungguhnya”.

Selain menawarkan akses langsung ke tempat kerja kantor mereka, fasilitas yang disediakan untuk penghuni termasuk kolam bergaya resor, pusat kebugaran , area ruang kerja bergerak, ruang permainan, dan ruang dek dengan pemandangan Papago Buttes dan Pegunungan McDowell yang luas. Juga akan ada banyak ruang pertemuan publik termasuk halaman hijau desa yang luas, taman anjing, jalur joging, dan akses langsung ke Arizona Crosscut Canal.

Flat Scottsdale Entrada terdiri dari unit studio, satu, dua, dan tiga kamar tidur ini disewakan mulai dari US$2.500 atau setara dengan Rp37 juta per bulan

4. Tampa, Florida

Akhirnya, untuk talenta teknologi yang berbondong-bondong ke Florida, di mana populasi milenial tumbuh 13 persen lebih cepat daripada di AS secara keseluruhan, dan perusahaan seperti Rapid7, Fast, dan ReliaQuest telah pindah ke sini.

Distrik seluas 22,66 hektar ini mencakup 1.300 rumah baru yang melayani berbagai gaya hidup hunian – mulai dari kondominium, flat sewaan yang sangat nyaman hingga pilihan hotel dengan masa inap yang diperpanjang .

error: Content is protected !!