Pertumbuhan Ekonomi Jateng Capai 5,66% di Triwulan II/2022

Pertumbuhan Ekonomi Jateng Capai 5,66% di Triwulan II/2022
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah Rahmat Dwi Saputra.

Perekonomian Jawa Tengah tercatat tumbuh 5,66% (YoY) pada Triwulan II/2022 ini atau meningkat dari triwulan sebelumnya sebesar 5,12% (YoY). Dari sisi pengeluaran, sumber pertumbuhan berasal dari konsumsi rumah tangga dan ekspor luar negeri.

Sementara dari sisi lapangan usaha (LU), sumber pertumbuhan terbesar PDRB Jawa Tengah berasal dari LU transportasi dan pergudangan, penyediaan akomodasi dan makan minum, serta pertanian.

“Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga (RT) dan ekspor luar negeri menjadi sumber pertumbuhan ekonomi di Triwulan II/2022, sementara konsumsi pemerintah dan investasi masih terkontraksi,” ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah Rahmat Dwi Saputra menjelaskan dalam rilisnya (09/08/2022).

Konsumsi rumah tangga tumbuh 6,14% (YoY). Perbaikan tersebut seiring dengan peningkatan konsumsi pada bulan puasa dan Idul Fitri, liburan sekolah, dan peningkatan mobilitas masyarakat paska pelonggaran PPKM. Kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia seperti relaksasi pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM), loan to value (LTV) properti dan kendaraan bermotor, serta Insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) juga ikut mendorong perbaikan konsumsi.

Sementara, ekspor luar negeri tumbuh 35,01% (YoY) yang didorong oleh naiknya ekspor migas 136,05% (YoY) sedangkan untuk ekspor non-migas tumbuh 22,94% (YoY) termoderasi dibandingkan triwulan sebelumnya 30,37% (YoY). Moderasi ini disebabkan oleh penurunan ekspor produk kayu dan furnitur akibat kendala sertifikat ecolabel Forest Stewardship Council (FSC), dan penurunan permintaan negara mitra dagang terutama Amerika Serikat.

Rahmat mengungkapkan tidak seperti konsumsi rumah tangga yang meningkat, konsumsi pemerintah malah mengalami kontraksi 3,55% (YoY), lebih dalam dari triwulan sebelumnya -1,16% (YoY). Kontraksi, kata dia, terjadi akibat dari penurunan belanja barang dan jasa sebagai dampak penyesuaian kontrak pengadaan barang dan jasa akibat kenaikan PPN 11%, serta keterbatasan ketersediaan barang pada e-catalog.

“Kinerja investasi juga terkontraksi 0,66% lebih dalam dibanding triwulan sebelumnya -0,24% (YoY). Dari sisi domestik, kontraksi investasi disebabkan oleh penundaan penyelesaian Proyek Strategis Nasional (PSN) diantaranya akibat perubahan desain, serta penerbitan izin Persetujuan Bangunan Gedung (PBG),” kata dia. Lebih jauh Rahmat mengatakan dari sisi eksternal, investor cenderung wait and see akibat ketidakpastian kondisi global paska normalisasi suku bunga kebijakan bank sentral Amerika Serikat.

Masih dalam sumber yang sama, sisi lapangan usaha (LU) pertumbuhan terbesar berasal dari LU transportasi dan pergudangan yang tumbuh 89,34% (YoY), serta LU penyediaan akomodasi dan makan minum dengan torehan 18,44% (YoY). LU pertanian juga dikatakan menjadi sumber pertumbuhan dengan angka 4,93% (YoY). Meskipun begitu, LU industri pengolahan sebagai LU utama Jawa Tengah melambat, dari 4,78% (yoy) pada triwulan lalu menjadi 4,06% (YoY) pada triwulan ini.

“Perlambatan tersebut disebabkan oleh permintaan global yang cenderung menurun akibat kenaikan inflasi pada negara mitra dagang Jawa Tengah terutama Amerika Serikat, serta sikap proteksionisme beberapa negara produsen pupuk dan pangan,” ujarnya. Ke depan, dia memprediksi pemulihan ekonomi Jawa Tengah akan terus melaju karena didukung oleh pengendalian covid-19 serta peningkatan mobilitas masyarakat. Namun perbaikan ekonomi diperkirakan tidak sekuat proyeksi sebelumnya karena disebabkan oleh ekspor yang masih tertahan, kenaikan harga energi dan pangan global, serta proteksionisme ekspor beberapa negara produsen pangan dan pupuk. Permintaan eksternal pun, kata Rahmat akan lebih rendah sehingga pemulihan akan banyak ditopang oleh permintaan domestik.

“Prospek Jawa Tengah yang memiliki kawasan industri terpadu diharapkan mampu menarik investor dalam merelokasi industri maupun investasi teknologi terkini. Selanjutnya, peran stimulus fiskal dan realisasi program pemerintah akan berkontribusi positif sebagai penyangga pemulihan ekonomi,” tutur Rahmat menutup pembicaraan.

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id


Artikel ini bersumber dari swa.co.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *