Payback Period: Definisi, Cara Hitung, dan Keunggulannya

portalutama.com – Pengertian, cara menghitung, keunggulan dan kelemahan, serta segala hal yang perlu kamu ketahui tentang payback period!

Agar informasi yang kamu dapatkan tidak setengah-setengah, cari tahu selengkapnya di artikel Finansialku satu ini!

Summary:

    Dalam Bahasa Indonesia, istilah payback period adalah periode pengembalian modal.
    Payback period bisa menjadi salah satu metode analisis yang bisa kita manfaatkan untuk mengetahui apakah layak untuk dilakukan atau tidak.

Pengertian Payback Period

Payback period adalah suatu hal yang berkaitan dengan investasi, mengacu pada jumlah waktu yang investor butuhkan untuk memulihkan biaya investasi.

Istilah Payback period dalam Bahasa Indonesia adalah periode pengembalian modal.

Istilah ini, bisa kita pahami sebagai periode atau lamanya waktu investasi untuk mencapai titik impas.

Lebih lengkap, Dian Wijayanto, dalam bukunya Pengantar Manajemen (2004), mendefinisikan payback period sebagai:

“Suatu periode yang diperlukan untuk menutup kembali pengeluaran investasi (initial cash investment).”

Sementara itu, Bambang Riyanto dalam buku Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, mendefinisikan payback period sebagai:

“Suatu periode yang diperlukan untuk dapat menutup kembali pengeluaran investasi dengan menggunakan proceeds atau aliran kas netto (net cash flows).”

Seyogyanya, Payback Period adalah metode yang biasa investor hingga profesional keuangan gunakan untuk menghitung hasil investasi.

Perhitungan periode pengembalian modal ini sangat berguna buat para investor untuk membuat keputusan apa pun.

Terlebih ketika investor berhadapan dengan keadaan di mana dia harus membuat penilaian cepat terhadap satu usaha investasi.

Semakin pendek jangka waktu pengembalian modal, maka semakin tinggi ketertarikan investor pada bisnis tersebut.

Sebaliknya, semakin panjang jangka waktu pengembalian modal, maka semakin rendah tingkat ketertarikan investor pada bisnis tersebut.

Terdapat dua hal yang perlu kita perhatikan ketika menggunakan metode ini, yaitu:

    Berapa lama investor harus membiayai proyek tersebut.
    Kapan investor dapat mendapatkan manfaat dari usaha atau proyek tersebut.

Cara Menghitung dan Rumus Payback Period

Sebelum mengetahui cara menghitung dan rumusnya, terdapat tiga indikator perhitungan yang terdiri dari:

    Jika alternatif proyek investasi lebih dari satu, maka periode pengembalian yang investor ambil adalah yang lebih cepat.
    Jika periode pengembalian lebih cepat dari waktu yang ditentukan, maka Layak/Diterima untuk melakukan investasi.
    Jika periode pengembalian lebih lama atau melebihi waktu yang telah ditentukan, maka Tidak layak/Ditolak untuk melakukan investasi.

Setelah mengetahui indikatornya, mari kita cari tahu tentang cara menghitungnya.

Adapun, rumus dari metode ini adalah:

PP = Investasi : Kas netto

Melalui rumus tersebut, dapat kita simpulkan bahwa perhitungannya melibatkan jumlah kas netto atau aliran dana bersih dari perusahaan.

Uang yang ada di dalam kas tersebut sudah terbebas dari kewajiban pembiayaan perusahaan seperti pajak, kompensasi, utang, bunga, dan kewajiban lainnya.

Keunggulan dan Kelemahan Payback Period

Berikut ini adalah beberapa keunggulan dan kelemahan payback period. Mari terlebih dulu mencari tahu keunggulannya!

#1 Keunggulan

Keunggulan dari payback period di antaranya adalah:

    Metode perhitungannya cukup sederhana dan bisa kita gunakan untuk memilih beberapa alternatif investasi.
    Analisis metodenya mudah dan sederhana, sehingga bisa dihitung untuk menentukan lamanya waktu pengembalian dana yang investor investasikan akan kembali.
    Metode ini bisa kita gunakan sebagai alat pertimbangan risiko karena semakin pendek payback period, semakin pendek pula risiko kerugiannya.
    Metode ini bisa kita gunakan untuk mengetahui jangka waktu yang kita perusahaan perlukan untuk pengembalian investasi dengan risiko yang besar dan sulit.
    Memungkinkan kita untuk mendapatkan informasi mengenai lamanya Break Even Point (BEP) proyek.
    Metode ini dapat kita gunakan untuk menilai dua proyek investasi yang memiliki rate of return dan risiko yang sama, sehingga investor bisa memilih investasi yang jangka waktu pengembaliannya cepat.

#2 Kekurangan

Setelah mengetahui kelebihan metode payback period, mari kita ketahui kekurangannya berikut ini:

    Metode ini tidak menggunakan biaya yang kita gunakan untuk mendukung investasi, bahkan selama payback period.
    Metode ini tidak mengindahkan penerimaan investasi atau proceeds yang investor dapatkan setelah payback period tercapai.
    Metode ini tidak mengindahkan Time Value of Money (Nilai Waktu Uang).
    Metode ini tidak mengindahkan nilai sisa dari investasi
    Metode ini tidak membedakan antara proyek yang membutuhkan investasi kas yang berbeda
    Metode ini tidak bisa memberikan informasi mengenai tambahan value untuk perusahaan.
    Metode ini tidak mengindahkan tingkat likuiditas perusahaan secara keseluruhan.
    Metode ini menggunakan payback period untuk mengukur kecepatan kembalinya dana saja tanpa mengukur keuntungan proyek pembangunan yang telah direncanakan.

[Baca Juga: Hadapi Resesi 2023, Jangan Asal Memilih Instrumen Investasi!]

Contoh Payback Period

Setelah mengetahui pengertian, kekurangan dan kelebihannya, mari kita cari tahu contoh payback period berdasarkan beberapa sumber berikut ini.

Contoh 1

Perusahaan Z mengajukan usulan proyek investasi dengan dana Rp900 juta dengan target penerimaan dana investasi setiap tahunnya adalah Rp90 juta. Maka, payback period-nya adalah:

PP = Investasi : Kas netto

Maka, PP = Rp 900 juta – Rp 90 juta = 10 tahun.

Dengan begitu, payback period dari proyek ini adalah 10 tahun.

[Baca Juga: 5 Tips Sukses Memulai Investasi Kostan untuk Masa Depan yang Cerah]

Contoh 2

Perusahaan A mempertimbangkan pembelian mesin produksi kopi berskala besar dengan total harga Rp 250 juta, dan pendapatan bersih yang akan perusahaan dapatkan dari pembelian ini adalah sekira Rp 90 juta per tahun.

Maka, payback period-nya adalah:

PP = Investasi : Kas netto

Maka, PP = Rp 250 juta : Rp 90 juta = 2,78.

Dengan perhitungan ini, maka payback period dari proyek ini adalah sekira 2 tahun 8 bulan.

Manfaatkan dengan Maksimal

Melalui penjelasan di atas, dapat kita ketahui bahwa payback period adalah metode analisis yang bisa kita manfaatkan jika kita merasa bingung apakah layak untuk dilakukan atau tidak.

Hal yang perlu kita ingat adalah untuk tidak mencampurkan dana investasi dengan dana modal usahamu sendiri.

Selain itu, kamu juga perlu melakukan penganggaran dengan tepat agar usahamu tidak berakhir sia-sia.

Jika belum tahu bagaimana cara yang tepat untuk mengelola dana usahamu, mulailah untuk mempertimbangkan konsultasi dengan perencana keuangan dari Finansialku.

Bersama perencana keuangan dari Finansialku, kamu bisa mendapatkan bimbingan serta arahan strategi mengatur keuangan yang cocok untuk usahamu.

Tidak perlu ragu, lebih baik mulai terlebih dahulu. Kamu bisa segera hubungi mereka lewat WhatsApp Customer Advisory Finansialku di nomor: 0851 5698 8473.

Selain menghubungi melalui WhatsApp, kamu bisa menekan banner ini untuk mulai konsultasi!

Apakah ada pertanyaan yang belum terjawab terkait topik ini? Jika ada, sampaikan pertanyaanmu melalui kolom komentar, ya!

Editor: Ratna Sri H.

Sumber Referensi:

    Dini N. Rizeki. 01 Agustus 2022. Payback Perid Adalah: Dari Rumus Sampai Contohnya. Majoo.id – https://bit.ly/3Ff9sLm
    Admin. 27 Oktober 2021. Paybck Period Adalah: Begini Rumus untuk Menghitungnya. Prospeku.com – https://bit.ly/3TC5T6i
    Piti Hanifah. 25 Maret 2022. Payback Period: Pengertian, Rumus, Keunggulan, dan Kelemahannya. Rumah.com – https://bit.ly/3FbxgiW
error: Content is protected !!