Pasokan Berkurang, Harga Beras Meningkat

portalutama.com – INDRAMAYU – Harga beras terus merangkak naik menjelang akhir tahun 2022, seiring siklus pasokan yang berkurang dan meningkatnya permintaan. Pasokan diperkirakan kembali bertambah setelah panen raya padi tahun depan, yang mencapai puncak Maret mendatang.

Di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, kenaikan harga beras bukan hanya terjadi di tingkat pedagang pasar, namun mulai dari petani dan penggilingan. Harga gabah di petani yang biasanya dalam 2 bulan terakhir Rp 6.300 per kg, dalam 2 pekan melonjak 11% ke sekitar Rp 7.000, dan harga di penggilingan sudah Rp 7.200 per kg.

“Harga beras di tingkat pedagang sudah menjadi sekitar Rp 11.000 per kg. Naiknya bertahap, tiap kali naik Rp 100, dan dalam dua pekan sudah naik Rp 1.000 per kg. Kenaikan harga karena musim, stok dari petani mulai menipis dan permintaan meningkat,” kata salah satu pedagang beras bernama Hadi Riadi kepada BTV, di Pasar Baru, Indramayu, Selasa (6/12/2022).

Hadi menjual beras eceran paling murah Rp 10.500 per kg dan paling tinggi Rp 12.000 per kg. Para pedagang di Pasar Baru tetap bertahan membeli beras dari para petani meski harga di petani meningkat.

Para pedagang tidak berminat mengambil beras dari Bulog yang harganya lebih murah dibandingkan dari petani. “Bulog juga ngeluarin beras, cuma kualitasnya kurang bagus dibandingkan beras dari petani. Kalau dari Bulog itu suka bau, mungkin gara-gara terlalu lama disimpan di gudang,” ucapnya.

Hadi menjelaskan, hampir semua jenis beras mengalami kenaikan, baik medium maupun premium. Ia berharap pemerintah segera mencari solusi untuk menekan harga beras yang terus meningkat.

BACA : Petani Hanya Cukup untuk Hidup 4 Bulan, Penduduk Miskin Jabar Bertambah

OP BulogPimpinan Bulog Cabang Indramayu Dandy Arianto mengatakan, untuk meredam kenaikan harga dan mengatasi menipisnya stok beras di pasaran, pihaknya telah menyalurkan beras kemasan 5 kg dan 50 kg kepada ritel dan distributor dengan harga lebih murah. “Harganya Rp 8.300 per kg untuk kualitas medium,” katanya kepada BTV pada 6 Desember 2022.

Indramayu merupakan penyumbang utama produksi padi/beras Jawa Barat, yang merupakan salah satu sentra produksi terbesar di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Jabar, total produksi padi di provinsi yang dipimpin Ridwan Kamil ini mencapai 9,11 juta ton gabah kering giling (GKG) tahun 2021, dengan total luas panen 1,60 juta hektare (ha).

Produksi padi tertinggi tahun 2021 terjadi pada Maret mencapai 1,34 juta ton, dan berikutnya di Juli sebanyak 1,19 juta ton. Bulan berikutnya panen padi terus menurun hingga akhir tahun, yakni sebanyak 523 ribu ton pada Desember.

Produksi padi Jabar setelah dikonversi menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk sekitar 5,26 juta ton. Produksi Indramayu sebanyak 762,06 ribu ton tahun lalu atau rata-rata per bulan 63,50 ribu ton. Produksi turun dibanding tahun sebelumnya yang sebanyak 787,29 ribu ton.

Dandy mengatakan, saat ini, Bulog Cabang Indramayu masih memiliki stok beras hingga akhir tahun sebanyak 20 ribu ton, yang cukup untuk memenuhi kebutuhan program Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga (KPSH) atau operasi pasar (OP), guna meredam kenaikan harga beras di masyarakat. Setiap bulan, Bulog Indramayu hanya beras butuh 500 hingga 1.000 ton ton untuk keperluan penugasan pemerintah.

“Kalau di puncak panen, kebutuhan (pengeluaran beras) kami sedikit, di bawah 500 ton setiap bulannya, dan kami lebih ke melakukan pengadaan untuk memenuhi stok pemerintah. Selama 3 bulan ke depan, stok beras Bulog Indramayu aman, karena pada Januari 2023, Jawa Tengah sudah mulai panen, sehingga bisa kami manfaatkan untuk pengisian stok kembali,” katanya.

Indramayu ini mayoritas warganya petani, sehingga kebutuhan beras di pasar tidak terlalu besar. Sebagian besar petani masih menyimpan gabah atau beras dari hasil panennya.

Bulog Indramayu ditargetkan menyediakan 30 ribu ton beras setiap tahunnya, dan realisasi pembelian dari produksi lokal sudah 100% tahun ini. Bulog di wilayah pantai utara Jawa (pantura) itu sebenarnya masih bisa menambah dari yang ditargetkan, karena kapasitas gudang bisa menampung 40 ribu ton.

Panen Mulai HabisSementara itu, dari data yang dihimpun BTV di berbagai daerah, harga beras sudah naik signifikan. Di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, sudah sejak September lalu, harga beras medium dan premium merangkak naik.

Berdasarkan keterangan sejumlah pedagang beras, kenaikan harga disebabkan oleh masa panen padi yang sudah selesai dan hasil panen di beberapa daerah tidak sebanyak tahun lalu, karena faktor gangguan cuaca dan musim hujan. “Jadi, bukan karena faktor hari raya Natal dan Tahun Baru. Kenaikan harga karena masa panennya sudah mulai habis, ditambah supply dari beberapa daerah kurang,” kata produsen beras Leonardi Wijaya yang berjualan secara grosir, kepada BTV, di Pasar Kemayoran Lama, Selasa (6/12/2022).

Kenaikan harga beras sudah pasti terjadi pada September setiap tahun di pasar tersebut. Sedangkan dari sisi persediaan beras, stoknya saat ini cukup sampai masa panen mendatang.

Sedangkan menurut penjual beras eceran bernama Sugi, kenaikan harga beras medium dan premium sudah terjadi sejak akhir Agustus lalu. Harga beras medium kini Rp 10.500-11.000 per kg, dari sebelumnya sekitar Rp 9.000. Sedangkan untuk harga beras premium kini sekitar Rp 11.500 per kg.

Kenaikan harga beras ini menurunkan daya beli masyarakat. Apalagi, harga telur, cabai, serta bahan pokok yang lain juga naik.

Bulog Beli yang WajarPada kesempatan terpisah, Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengatakan pihaknya masih menambah stok dari pembelian dalam negeri. “Kementerian Pertanian menyampaikan data ketersediaan 600 ribu ton beras yang bisa dibeli untuk memenuhi stok cadangan beras Bulog. Dari penggilingan-penggilingan itu, ada 166 ribu ton yang mungkin dapat kami serap (beli) hingga Desember tahun ini,” kata pria yang akrab dipanggil Buwas seusai Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi IV DPR, di Jakarta, belum lama ini.

Bulog bersama dengan Satgas Pangan, TNI, dan Polri mengecek langsung ke lapangan untuk mengonfirmasi data ketersediaan beras yang disampaikan oleh Kementan, yang bisa diserap Bulog. Dari pengecekan tersebut, banyak data yang disampaikan oleh Kementan tidak sesuai dengan fakta di lapangan.“Sejumlah laporan hasil pengecekan di lapangan berbeda dari data yang disampaikan oleh Kementan. Sebagai contoh, data yang diberikan Kementan untuk penggilingan CV Lumbung Padi di Karawang, Jawa Barat, disebutkan memiliki stok 50 ribu ton. Namun saat dicek oleh Bulog hanya memiliki 20 ton gabah di gudangnya,” kata Direktur Supply Chain dan Pelayanan Publik Perum Bulog Suyamto.

Contoh lain, lanjut dia, Kementan menyampaikan terdapat 45 ribu ton beras di penggilingan UD Makmur Barokah, namun fakta di lapangan hanya terdapat 1.000 ton beras, yang dijual ke Bulog dengan harga Rp 11.000 per kg. Bulog tidak bisa membeli dengan harga tersebut, karena harga acuan beras di penggilingan berdasarkan data BPS sekitar Rp 10.000 per kg.”Bulog tidak bisa membelinya, karena harganya tidak wajar. Selain itu, terdapat juga kesalahan penyampaian informasi yang disampaikan Kementan terhadap penggilingan di Bolaang Mongondow Selatan, Sulawesi Utara, yang disebut memiliki 15.410 ton beras, namun ternyata hanya 15.410 kg,” papar dia.Surplus 1,7 Juta TonKepala Badan Pangan Nasional (NFA) Arief Prasetyo Adi mengatakan, pihaknya bersama Kementan dan BPS telah sepakat melakukan sinkronisasi data dengan menggunakan satu data beras dari BPS. Data ini mengenai produksi, kebutuhan beras rumah tangga dan luar rumah tangga, serta perhitungan surplus dan defisit produksi nasional tahun 2022, yang sangat menentukan mitigasi dan arah kebijakan beras di pengujung tahun.

“Langkah tersebut dalam rangka memastikan dan menjaga akurasi arah kebijakan beras nasional di akhir tahun ini dan 2023. Berdasarkan data BPS pengamatan Januari-Oktober 2022, proyeksi produksi beras di November dan Desember berjumlah sekitar 3,2 juta ton, dengan rata-rata konsumsi beras sekitar 2,5 juta ton per bulan. Di akhir tahun ini, kita masih akan surplus 1,7 juta ton,” ujarnya di DPR, belum lama ini.Sebelumnya saat RDP DPR 28 November 2022, terdapat perbedaan angka produksi, lantaran Kementan menggunakan pengamatan Januari-September 2022 sedangkan NFA menggunakan Januari-Oktober. Kemudian, disepakati angka produksi beras nasional 2,2 juta ton di November dan 1,06 juta ton di Desember ini.Selain itu, koordinasi sinkronisasi data kebutuhan beras pada 28 November tersebut menyepakati penghitungan konsumsi beras di November dan Desember. Sebelumnya, terdapat perbedaan data antara prognosa NFA dengan BPS, lantaran perbedaan data jumlah penduduk yang digunakan dalam perhitungan.Arief juga mengungkapkan, keputusan pemerintah melalui Bulog untuk mengimpor beras 500 ribu ton tidak akan merugikan petani. Pasalnya, impor dilakukan secara terukur, jumlahnya tidak banyak, dan beras impor dikirim ke Bulog.Menurut Arief, saat ini, stok cadangan beras pemerintah (CBP) di Bulog tinggal tersisa 290 ribu ton. Oleh karena itu, Bulog sangat memerlukan stok tambahan untuk mengantisipasi kejadian luar biasa, seperti bencana alam.”Khusus CBP di Bulog itu sekarang stoknya 290 ribu ton, kalau digabungkan dengan beras komersialnya sekitar 490 ribu ton. Saya mau mengajukan yang stoknya komersial menjadi CBP, kalau CBP artinya bisa untuk operasi pasar, untuk kegiatan intervensi harga. Di luar itu, masih perlu stok tambahan di Bulog,” papar Arief.Arief menuturkan, impor beras juga ada kendala. Ini akibat kebijakan di setiap negara untuk mengamankan stok pangannya terlebih dahulu.Pantauan PIBC CipinangSementara itu, berdasarkan pantauan Investor Daily pada 12 Desember 2022, stok beras di Pasar Induk Beras Cipinang normal, sebanyak 30 ribu ton. “Stok beras yang mencapai 30 ribu ton bisa dikatakan normal,” ujar Direktur Operasional Bisnis dan Operasional Food Station Tjipinang Raya Andre Maulana.

Ia mengatakan, truk yang masuk dan keluar mengantar beras juga cukup normal, angkutannya setara 2.500 ton beras per hari. Jika ada panen raya, biasanya naik menjadi 3.000 ton per hari.Untuk harga beras, lanjut dia, memang terjadi kenaikan terutama untuk beras medium, yang semula Rp 8.000 per kg sekarang sudah menyentuh Rp 9.000. Sedangkan harga beras premium kini mencapai Rp 11.000 per kg.

error: Content is protected !!