Mengenal PSHT, Sejarah Singkat dan Tujuan Berdirinya

Jakarta: Istilah PSHT baru-baru ini ramai diperbincangkan warganet karena menggelar konvoi yang dinilai meresahkan. Ternyata, banyak juga yang penasaran dengan istilah PSHT yang memiliki kepanjangan Persaudaraan Setia Hati Terate dan mencari tahu sejarah di baliknya.
 
PSHT disorot saat sejumlah anggotanya melakukan konvoi saat pengesahan warga baru dalam rangka memperingati satu abad organisasi. Aksi konvoi tersebut sempat berunjuk bentrok dengan warga di Sukun, Kota Malang.
 

Bentrok mengakibatkan tiga orang luka-luka dan bangunan di sekitar lokasi kejadian hancur. Namun, apa sebenarnya PSHT itu sendiri?

Apa itu PSHT

Dilansir dari psht.or.id, organisasi ini adalah sebuah perguruan silat yang berorientasi kepada pengajaran budi luhur dan menggunakan pencak silat sebagai pelajaran pada tingkat pertama. Karena di dalam pencak silat terkandung unsur-unsur persaudaraan, olahraga, bela diri, seni budaya, dan kerohanian (ajaran budi luhur).
 
PSHT terbuka dalam menerima anggota. Setiap warga negara Indonesia dapat menjadi bagian dari PSHT tanpa melihat suku, ras, agama, warna kulit, gender, golongan, dan usia. Bahkan, keanggotaan PSHT juga terbuka untuk bangsa lain.

Sejarah berdirinya PSHT

PSHT didirikan di Madiun pada 1922 oleh Ki Hajar Hardjo Oetomo, pahlawan Perintis Kemerdekaan RI. PSHT semula bernama Setia Hati Pemuda Sport Club dan berbentuk organisasi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


PSHT kemudian membentuk sudah memiliki AD-ART, mendirikan sebuah yayasan, mengembangkan PSHT dengan membentuk banyak cabang dan membangun padepokan sebagai pusat kegiatan.
 
Padepokan dan cabang PSHT sudah tersebar se-Indonesia. Bahkan hingga kampus-kampus.
 
Tak hanya itu, PSHT juga mendirikan koperasi yang kini akan diperluas dengan melibatkan semua anggota di seluruh cabang. PSHT semakin dikenal karena tak jarang berprestasi melalui berbagai kejuaraan.
 

 

Tujuan PSHT

PSHT didirikan untuk mendidik manusia, khususnya para anggota, agar berbudi luhur, tahu mana yang benar dan salah, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta memayu hayuning bawana.
 
Menurut Suwardi Endraswara dalam bukunya yang berjudul Ilmu Jiwa Jawa, memayu hayuning bawana adalah upaya melindungi keselamatan dunia baik lahir maupun batin. Orang Jawa merasa berkewajiban untuk memegang filosofi ini untu memperindah keindahan dunia.
 
Dalam kata lain, manusia harus memelihara dan memperbaiki lingkungan fisiknya. Sedangkan di pihak lain secara abstrak, manusia juga harus memelihara dan memperbaiki lingkungan spiritualnya.
 

(SUR)

Artikel ini bersumber dari www.medcom.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *