Mayoritas Mata Uang di Asia Nanjak, Eh Rupiah Kok Lesu Lagi?

portalutama.comJakarta, CNBC Indonesia – Kurs rupiah sempat menguat di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) sebelum akhirnya terkoreksi pada pertengahan perdagangan Kamis (22/12/2022), berlawanan arah dengan mayoritas mata uang di Asia.

Mengacu pada data Refinitiv, pada pembukaan perdagangan rupiah terapresiasi 0,1% ke Rp 15.570/US$. Sayangnya, rupiah kembali terkoreksi 0,03% ke Rp 15.590/US$ pada pukul 11:00 WIB.

Mata Uang Garuda belum mampu mempertahankan penguatannya di tengah indeks dolar AS terkoreksi. Pukul 11:00 WIB, indeks dolar AS terpantau melemah 0,21% ke posisi 103,93.

Hari ini, investor domestik patut menantikan rilis kebijakan moneter terbaru dari Bank Indonesia (BI) pada pukul 14:00 WIB.

Konsensus analis Trading Economics memprediksikan bahwa BI akan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 bps dan mengirim tingkat suku bunga BI menjadi 5,5%.

Senada, jajak pendapat Reuters menilai bahwa mendinginnya angka inflasi dan mata uang rupiah yang lebih tangguh diperkirakan akan memberikan BI kenyamanan yang cukup untuk menaikkan seperempat poin pada pekan ini.

Sebanyak 90% analis memprediksikan bahwa BI hanya akan menaikkan suku bunga sebesar 25 bps.

Namun, konsensus pasar yang dihimpun oleh CNBC Indonesia terbelah menjadi dua yakni memprediksikan BI akan agresif dan akan moderat bulan ini.

Dari 14 institusi yang terlibat dalam pembentukan konsensus tersebut, 12 lembaga/institusi memperkirakan bank sentral akan mengerek BI7DRR sebesar 25 basis points (bps) menjadi 5,50%.

Sementara itu, dua lembaga/institusi memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 bps menjadi 5,75%.

Jika BI memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuannya, maka ada peluang jika rupiah akan menguat hari ini.

Kemarin, Presiden Jokowi bersama jajaran Menteri ekonomi, Gubernur Bank Indonesia dan Ketua Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengadakan kumpul bareng membahas proyeksi perekonomian Indonesia pada 2023.

Hasil dari pembicaraan ini secara garis besar memperlihatkan pemerintah optimistis ekonomi Indonesia tetap kuat meski ekonomi global tahun depan masih diliputi ketidakpastian.

Gubenur BI Perry Warjiyo memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2023 masih akan bisa tumbuh di kisaran 4,5-5,3%. Terutama didukung oleh tingkat konsumsi masyarakat yang terjaga, masih berlanjutnya dukungan fiskal pemerintah, investasi yang masih terus masuk hingga kinerja ekspor yang masih akan terjaga tumbuh.

“Jadi kurang lebih mendekati 5%. Persis sama yang disampaikan Menteri Keuangan, dukungan fiskal, konsumsi, investasi, di samping juga ekspor,” ujarnya.

Dari sisi inflasi menurutnya juga akan kembali ke level sasaran 3 plus minus 1 persen karena upaya pengendalian harga-harga yang terus gencar dilakukan pemerintah baik di pusat maupun daerah.

“Semester II 2023 inflasinya IHK (Indeks Harga Konsumen) akan di bawah 4%, akhir tahun depan inflasi kita perkirakan ada di sekitar 3%, IHK ya, kalau core Indonesia sudah di bawah 4% di semester I karena ada dampak base, tapi kalau IHK itu sekitar 3%,” ucapnya.

Ia juga memperkirakan, nilai tukar rupiah ke depannya pada tahun itu akan kembali menguat sesuai dengan fundamental ekonomi Indonesia karena terjaganya keseimbangan neraca pembayaran. Dengan demikian, dia memastikan kebijakan suku bunga acuan akan bisa lebih terukur dan tidak agresif.

Namun, meski fundamental ekonomi Tanah Air ciamik tahun ini, nyatanya masih belum berhasil membuat rupiah menguat hari ini.

Di Asia, mayoritas mata uang sukses menguat terhadap dolar AS. Yen Jepang memimpin penguatan mata uang di Asia sebesar 0,56%, kemudian disusul oleh dolar Singapura yang terapresiasi sebesar 0,28%.

Hanya rupiah dan baht Thailand yang terkoreksi masing-masing sebesar 0,03% di hadapan dolar AS.

TIM RISET CNBC INDONESIA

error: Content is protected !!