Kunci Kebahagiaan di Sebuah Pekerjan

Oleh: Rahmaisyah Dwi Riztina, M.Psi., Psikolog – Human Capital Management Consultant & Corporate Communication Manager PPM Manajemen 

Kunci Kebahagiaan di Sebuah Pekerjan
Rahmaisyah Dwi Riztina, M.Psi., Psikolog – Human Capital Management Consultant & Corporate Communication Manager PPM Manajemen

Baru-baru ini kita sedang mengalami gelombang tren karyawan mengundurkan diri atau meletakkan jabatan. Apa yang membuat ini terjadi? Lantas, sebenarnya apa yang membuat kita bahagia dalam sebuah pekerjaan?

Menurut survei terbaru Randstad, lebih dari setengah responden generasi milenial dan Gen Z mengaku akan keluar dari pekerjaan yang melarang mereka menikmati hidup. Laporan juga menyebutkan 62% responden memilih untuk tidak bekerja sama sekali jika tak bermasalah dengan keuangan. Sementara 41% mengatakan mereka lebih suka menganggur daripada tidak bahagia dalam pekerjaan.

Hasil survei ini menarik, terutama terkait dengan pernyataan bahwa “lebih suka menganggur daripada tidak bahagia dalam pekerjaan”. Seperti yang diketahui bahwa pekerjaan memang menjadi bagian dalam hidup. Bagaimana tidak, kita berkutat dengan pekerjaan di hampir sebagian waktu yang kita punya, lalu apa ukuran bahagia dalam pekerjaan?

Setiap orang tentu punya perspektif bahagianya sendiri. Berbagai pertimbangan dan juga perbedaan prioritas akan memengaruhi seseorang di dalam mengambil sebuah sudut pandang mengenai arti sebuah kebahagiaan. Meski rasanya bahagia itu bersifat abstrak dan seperti tidak bisa diukur, namun banyak studi yang mencoba untuk mendefinisikan dan mencoba untuk mengukur kebahagiaan.

Sebuah studi dari Wulandari dan Widyaastuti menyebutkan ada lima faktor yang membuat seseorang bahagia di tempat kerja. Faktor-faktor tersebut adalah hubungan positif dengan orang lain, prestasi, lingkungan kerja fisik, kompensasi dan kesehatan.

Faktor yang pertama terkait hubungan positif dengan orang lain. Hal ini berkaitan dengan bagaimana dukungan rekan kerja dan juga dukungan dari atasan. Faktor ini menduduki angka sebesar 47%, artinya hampir separuh faktor ditentukan oleh faktor ini. Tidak bisa dipungkiri, manusia adalah makhluk sosial sehingga rekan kerja dan juga atasan punya pengaruh paling besar dalam hal ini.

Lalu bagaimana membuat kebahagiaan dari faktor ini? Tentu dengan saling membantu antar sesama rekan kerja terutama saat mengalami kendala. Sebagai atasan juga harus bisa menumbuhkan trust dalam tim, dan memberikan dukungan yang dibutuhkan sehingga akan lebih mudah menggerakkan angota tim dalam menjalani rencana-rencana kerja yang akan dilakukan.

Faktor yang kedua adalah prestasi. Hal ini terkait dengan keberhasilan menyelesaikan tugas, kesesuaian pekerjaan, dan mengembangkan diri. Faktor ini punya pengaruh sebanyak 22%. Bakat dan minat seseorang memang punya peran penting untuk menentukan apakah tugas dan juga pekerjaan mereka sudah sesuai dengan diri. Tentu banyak juga pekerja yang bisa berhasil dalam pekerjaannya meski tidak sesuai dengan bakat minatnya namun kesesuaian dengan bakat dan minat ini menumbuhkan rasa senang dalam bekerja. Hal lain yang dibutuhkan juga adalah aktualisasi diri, apakah di perusahaan memberikan kesempatan untuk mengeluarkan dan mengimplementasikan idenya dan juga memberikan ruang bagi pekerja untuk mengembangkan kemampuan diri.

Faktor ketiga adalah lingkungan fisik, yaitu segala sesuatu yang ada di sekitar para pekerja yang dapat memengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang dibebankan dengan peralatan pekerjaan yang memadai. Faktor ini mempunyai pengaruh sebanyak 17%. Saat ini banyak perusahaan memperhatikan employee experience, bagaimana karyawan bisa bekerja sama dengan membangun pengalaman kerja yang otentik dan dapat dipersonalisasi sehingga membangkitkan gairah semangat kerja, inovasi dan produktivitas guna memperkuat kinerja individu, tim, dan tentu saja organisasi.

Pegawai memandang organisasi mulai dari lingkungan fisik di mana ia bekerja dan juga perangkat kerja yang disediakan organisasi. Hal ini menyebabkan organisasi mulai berpikir untuk menemukan lokasi kantor yang memenuhi kualitasi hidup, kemudahan akses transportasi, komunitas sosial dan kesesuaian dengan budaya.

Faktor ke empat yang membuat seseorang bahagia di tempat kerja adalah kompensasi.  Hal ini mempunyai pengaruh sebanyak 12%. Kompensasi terdiri dari gaji dan insentif. Pada dasarnya orang yang akan bekerja akan menerima balas jasa dari pekerjaan yang dilakukan salah satunya gaji yang sesuai dengan apa yang telah dilakukan dan kemampuan yang dimiliki.

Tak jarang banyak pegawai hengkang ke perusahaan lain dikarenakan tawaran gaji yang lebih tinggi. Dari sisi lain, insentif juga merupakan hal yang mampu untuk membangkitkan gairah pegawai dalam bekerja karena semakin produktif mereka bekerja maka insentif yang diberikan juga biasanya akan makin meningkat.

Faktor terakhir adalah kesehatan. Faktor ini adalah keadaan sejahtera dari fisik, psikis, dan sosial yang memungkinkan para pekerja untuk bisa hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Faktor ini menduduki peran sebanyak 1,5%. Banyak berbagai pertimbangan dari karyawan mengenai apa saja asuransi yang akan diberikan oleh perusahaan ketika mengambil sebuah pekerjaan.

Sebenarnya dari kelima faktor di atas tadi, masih ada satu faktor lagi yang tidak kalah penting dalam memengaruhi kebahagiaan kita di tempat kerja, yaitu faktor diri sendiri. Ada istilah “we create our own happiness”. Kita bisa menjadi penentu dalam kebahagiaan kita. Kita bisa memilih apa yang kita pikirkan, kita bisa memilih apa yang kita rasakan.

Ketika kita bisa menjadi kontrol atas kebahagiaan kita sendiri maka apapun yang ada di luar dari diri kita menjadi tidak menganggu atau menjadi penentu utama dalam kebahagiaan.


Artikel ini bersumber dari swa.co.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *