Kumpulkan Sampah Elektronik Tukarkan dengan Investasi Digital, Caranya?

Merdeka.com – Indonesia berpotensi menghasilkan sampah elektronik dalam jumlah yang signifikan. Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), tahun 2021 timbunan sampah elektronik telah mencapai 2.000.000 ton, 56 persen limbah elektronik ada di pulau Jawa, dominasi sampah elektronik datang dari rumah tangga seperti televisi, lemari es, dan mesin cuci.

Moehammad Ichsan, Chief Executive Officer dan Co-Founder Octopus Indonesia mengatakan, pihaknya mengajak masyarakat Indonesia untuk membuang sampah elektronik dengan menukarkannya ke aset investasi digital berharga seperti emas dan bitcoin melalui Octopus.

“Kami berharap dengan adanya kampanye ini masyarakat dapat memiliki pengetahuan lebih lanjut mengenai limbah elektronik sehingga tidak terjadi penumpukan sampah yang dapat merusak lingkungan,” ujar dia melalui keterangannya, Senin (17/10).

Melalui aplikasi Octopus, masyarakat dapat memilah dan membuang peralatan elektronik yang sudah tidak terpakai seperti, smartphone/tablet, televisi, dispenser, kipas angin, air purifier, CD player/DVD player, PC/laptop, vacuum cleaner, kulkas, mesin cuci, hingga AC.

Dengan memilah dan membuang sampah elektronik melalui aplikasi Octopus, masyarakat ikut serta mendukung daur ulang limbah elektronik, serta mendapatkan poin yang dapat ditukarkan dengan emas atau bitcoin. Adapun 20.000 poin setara dengan 0,02 gram emas dan 51.000 poin setara dengan sekitar 0,00016 bitcoin (per 14 Oktober 2022).

Yosua Tanuwiria, VP Marketing – CEO Office Pluang juga menyampaikan bahwa pihaknya bangga menjadi bagian dari kampanye #UbahSampahJadiInvestasiDigital yang juga mengajak masyarakat Indonesia untuk mendiversifikasi asetnya di platform investasi multi-aset.

“Kami berharap aksi mengolah sampah oleh Octopus Indonesia ini bisa memulai kebiasaan baik untuk lingkungan yang lebih berkelanjutan sekaligus membuka peluang masyarakat mencapai kemandirian finansial,” terang Yosua.

Untuk pengelolaannya, Octopus akan mengurai sampah-sampah elektronik berdasarkan komponen kelistrikan (PCB, kabel dan motherboard) dan komponen body (plastik dan campuran logam). Kemudian Octopus mendaur ulang komponen tersebut dan mengubahnya menjadi bahan baku mentah seperti bijih logam atau bijih plastik.

Octopus juga menawarkan pengelolaan sampah elektronik yang aman dan sesuai dengan standar, terutama sampah yang memiliki data atau memori penyimpanan seperti hard drives. Hal ini dilakukan melalui proses penghapusan berstandar yang fokus pada keamanan data, guna menghindari terjadinya kebocoran data pribadi yang merugikan pengguna barang elektronik.

Octopus meyakini proses pengelolaan sampah elektronik yang tepat akan memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan industri, karena dapat menjadi bahan baku mentah untuk produk lain secara berkelanjutan. Selain itu, pengelolaan sampah elektronik di Indonesia dapat lebih dioptimalisasi dengan sinergi berbagai pihak, salah satunya pemerintah daerah.

Oleh karena itu peluncuran kampanye #JakartaSadarSampah Octopus juga bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang menyediakan 10 titik waste drop station Octopoint di ruang-ruang publik seperti taman kota, RPTRA, Puskesmas dan kantor Kelurahan serta Kecamatan.

Selama kampanye #UbahSampahJadiInvestasiDigital, Octopus menargetkan pengumpulan sampah elektronik sebesar 10 ton. Saat ini, pelayanan penjemputan sampah elektronik oleh Octopus baru tersedia di wilayah DKI Jakarta dan Tangerang Selatan.

[faz]


Artikel ini bersumber dari www.merdeka.com.