Kuasa Hukum PC Dorong Penyelesaian Kasus dengan Cepat dan Transparan

Jakarta: Tim kuasa hukum istri Irjen Ferdy Sambo, Putri Candrawathi (PC), berharap kepolisian memberi keadilan terhadap kliennya dengan mengusut kasus dugaan tindak pidana kekerasan seksual secara terbuka dan transparan. Apalagi, Putri telah memberikan keterangan kepada penyidik dan didukung keterangan ahli yang mengonfirmasi kesaksian korban. 
 
“Tim kuasa hukum Ibu PC mengapresiasi tindak lanjut oleh pihak penyidik demi keadilan bagi klien kami dan seluruh korban TPSK yang sampai saat ini masih berjuang, dan berharap proses hukum dapat berlangsung secara cepat dan transparan,” kata Arman Hanis kepada wartawan di Jakarta, Senin, 8 Agustus 2022.
 
Arman mengatakan Putri sejauh ini sudah empat kali diperiksa sebagai saksi korban tindak pidana kekerasan seksual. Pemeriksaan terakhir dilakukan pada Jumat, 5 Agustus 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia menjelaskan pemeriksaan itu berlangsung kurang lebih 6 jam. Arman memastikan Putri secara kooperatif mengikuti seluruh proses penyidikan serta menjawab sebanyak lebih dari 45 pertanyaan dari penyidik. 
 
“Kami tim kuasa hukum menjamim kepatuhan Ibu PC dalam menjalani seluruh proses hukum yang sedang berlangsung. Kami pastikan seluruh pertanyaan dari penyidik telah dijawab Ibu PC dengan berlandaskan fakta, jujur, dan konsisten,” ujar Arman.
 

Tim hukum Putri telah membuat Laporan Polisi (LP) pada 9 Juli 2022 di Polres Metro Jakarta Selatan atas dugaan kekerasan seksual dan pencabulan sebagaimana diatur dalam Pasal 289 KUHP dan Pasal 4 jo Pasal 6 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS).
 
Arman mengatakan tim psikolog yang ditugaskan untuk mendampingi Putri juga telah melakukan penilaian secara profesional dan independen atas kesiapan untuk dapat menjalani proses pemeriksaan dan memberikan keterangan kepada penyidik secara akurat.
 
Sementara itu, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung (Unisba) Vici Sofianna Putera meminta semua pihak tidak termakan opini yang beredar terkait kematian Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat (Brigadir J). Sebab, opini yang berkembang, terutama di sosial media dianggap netizen lebih logis dibandingkan penyampaian resmi dari aparat kepolisian.
 
Terlebih, isu yang berkembang di media masa adalah tentang motif perselingkuhan yang notabene akan memberikan dampak psikologis yang buruk bagi perempuan. “Hold your opinion, ini bisa persekusi! Jangan terjebak perangkap ilusi kebenaran, kenapa persekusi? Karena narasi-narasi alternatif yang muncul di luar versi kepolisian juga belum berdasarkan fakta ilmiah, ini baru opini tanpa data,” kata Vici dihubungi terpisah.
 

 

Halaman Selanjutnya

Vici meminta publik bisa menahan…

Artikel ini bersumber dari www.medcom.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *