KKP: Bisnis Budidaya Rumput Laut Lebih Untung, Banyak Pembudidaya Naik Haji

Merdeka.com – Direktur Perbenihan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Nono Hartanto mengatakan, usaha budidaya rumput laut lebih menguntungkan dari bisnis penanaman padi di sawah. Bahkan, banyak pembudidaya rumput laut beras menunaikan ibadah haji di Tanah Suci Mekkah, Arab Saudi.

“Jadi, kalau kita lihat potensi peluang pengembangan budidaya rumput laut di Indonesia sangat banyak,” ujarnya dalam webinar bertajuk Peluang Investasi Usaha Rumput Laut di Jakarta, Selasa (25/10).

Nono mencontohkan, potensi besar meraup untung daru usaha budidaya rumput laut ketimbang sawah tak lepas dari ketersediaan bahan baku. Di mana, Indonesia merupakan produsen rumput laut terbesar kedua di dunia setelah China.

“Kita itu bisa menghasilkan sekitar 9 juta ton (rumput laut), sedangkan China 18 juta ton,” ujarnya.

Kedua, lahan untuk budidaya rumput laut masih banyak tersedia. KKP mencatat, pemanfaatan lahan budidaya rumput laut baru mencapai 0,8 persen dari total luasan 12,3 juta hektare. “Artinya, masih terbuka peluang untuk bisa mengembangkan budidaya rumput laut,” tekannya.

Ketiga, penggunaan teknologi untuk kegiatan budidaya rumput laut tergolong sederhana, sehingga tidak dibutuhkan ketrampilan khusus untuk menjalankan usaha rumput laut. Keempat, waktu masa panen rumput laut lebih cepat dibandingkan padi. Nono menyebut, masa tanam hingga proses permanenan rumput laut hanya berkisar 35 hari sampai 40 hari.

“Bandingkan dengan usaha sawah (panen) harus sampai 90 hari, usaha rumput laut ini separuhnya. Jadi, sangat cepat untuk panen dan menghasilkan hasilnya,” kata Nono.

Kelima, permintaan pasar yang terus meningkat di setiap tahunnya. KKP mencatat, rata-rata permintaan terhadap komoditas rumput laut mencapai 4,8 persen per tahun.

Keenam, efektif menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat pesisir dan harga rumput laut cenderung mengalami tren peningkatan. Nono mencatat, saat ini harga rumput laut naik drastis mencapai Rp35.000 sampai Rp45.000 per kilogram dari sebelumnya hanya Rp15.000 per kilogram.

“Jadi, (budidaya rumput laut) ini menjadi mata pencaharian cukup banyak diminati dan mendatangkan kesejahteraan. Banyak yang naik haji gara-gara budidaya rumput laut,” pungkasnya. [azz]

Baca juga:
Upaya Pelestarian Alam di Laut dan Tujuannya, Perlu Diketahui
Ilmuwan Temukan Samudera Keenam di Bumi, Ini Lokasinya
Jokowi: Laut Adalah Anugerah Tuhan Harus Kita Jaga, Harus Dimuliakan
Menteri KKP Ajak Nelayan Tak Tangkap Ikan pada Oktober 2022, Ada Dana Kompensasi
Potensi Blue Economy Bisa Capai USD3 Triliun di 2030


Artikel ini bersumber dari www.merdeka.com.