Kisah Mbah Abu, 43 Tahun Jualan Bakso dan Soto untuk Layani Santri

portalutama.com – Berkunjung ke Pondok Pesantren An-Nawawi di Berjan Purworejo, Jawa Tengah belum lengkap rasanya jika belum mencicipi bakso dan soto Mbah Abu.

Apalagi bagi lulusan Ponpes An-Nawawi, pasti tidak asing lagi dengan bakso dan soto di kaki lima samping pondok pesantren. Dengan gerobak dan terpal sebagai atapnya, warung kaki lima ini sangat mudah dikenali.

Warung kaki lima yang berada di samping Ponpes An-Nawawi ini sudah ada lebih dari 40 tahun yang lalu. Saat kepemimpinan Ponpes An-Nawawi masih dipegang oleh KH. Nawawi Shidiq, ayah dari KH Achmad Chalwani Nawawi, Pengasuh Pondok An-Nawawi saat ini.

Ya, pemilik warung kaki lima tersebut adalah Mbah abu (75), seorang warga Desa Gintungan Kecamatan Gebang, Purworejo. Letaknya tak jauh dari Pondok Pesantren hanya sekitar 300 meter.

Sejak tahun 1978, Mbah Abu yang bermukim tidak jauh dari lingkungan pondok memulai berjualan bakso dan soto untuk melayani para santri Hal itu dilakukan karena saat malam hari, para santri kesulitan mencari makan malam.

“Sejak tahun 1978, saya didawuhi (disuruh) Mbah Nawawi untuk ikut berjualan makanan untuk santri, dan tempatnya di sini,” ungkap mbah abu.

Uniknya, tempat berjualan bakso dan soto miliknya tak pernah berpindah-pindah. Tempat tersebut adalah tempat KH Nawawi Shidiq meminta Mbah Abu untuk berjualan dan melayani santri.

Ketaatannya kepada sang guru, membawa berkah tersendiri bagi Mbah Abu. Berkat jualan bakso dan soto atas perintah KH Nawawi Shidi, ia mampu menyekolahkan anak-anaknya dan mencukupi kebutuhan sehari-hari.

“Kamu kalau jualan yang istiqomah dan ikhlas melayani santri Insya Allah barokah,” kata Mbah Abu menirukan perintah gurunya KH Nawawi Shidiq.

Selain bakso dan soto, warung Mbah Abu juga menyediakan beberapa camilan dan minuman, seperti gorengan tempe, tahu, kerupuk, es teh, dan es lilin. Harga yang ditawarkan sangat murah sekali dan sangat jauh berbeda dengan harga pada umumnya.

Satu porsi bakso misalnya, hanya dijual seharga Rp4.000, soto seharga Rp2.000-Rp5.000. Sementara itu gorengan dan kerupuk masih dihargai Rp500.

“Es teh seribu saja, kalau es lilin lima ratus, dibikin murah ya karena santri kebanyakan uang sakunya pas-pasan. Niat utama kan melayani santri supaya berkah,” kata Mbah Abu.

Warung yang bergerobag hijau itu mulai buka pukul 17.00 WIB sampai menjelang subuh. Saat malam hari setelah santri pulang madrasah sekitar pukul 22.15 WIB, warung sederhana ini selalu dibanjiri oleh santri-santri.

Ratusan porsi bakso dan soto habis dalam semalam. Apalagi saat awal bulan, santri biasanya mendapatkan kiriman uang jajan. Warung Mbah Abu tak pernah sepi dari santri dari sore hingga menjelang subuh.

“Menu yang menjadi favorit santri adalah soto campur bakso,” tambah Mbah Abu.

Satu lagi yang ikonik di warung ini, radio kuno berantena disambung kabel selalu menyala saat Mbah Abu melayani pembeli. Suara dalang memainkan wayang menjadi teman setia Mbah Abu untuk melewati malam.

“Biasanya dibantu anak-anak dan istri, wong santri ya banyak yang beli kalau sudah pulang madrasah,” ujar Mbah Abu.