Kisah Kesuksesan Netflix, Berawal dari Denda Sewa DVD, Meluas ke Ratusan Negara

portalutama.com – JAKARTA – Netflix sempat menjadi salah satu perusahaan yang mengalami kenaikan, terutama di masa lockdown keika pandemi Covid-19. Pasalnya, platform streaming film berbayar ini berhasil menyediakan berbagai macam genre, mulai dari film sampai series yang berkualitas.

Bahkan, dengan beragam popularitas serial originalnya di skala global rupanya ikut mengerek pendapatan Netflix, hingga membuat per 2022 total pelanggannya menjadi lebih dari 213,6 juta secara global.

Adapun, separuh dari jumlah pelanggan baru disebut berasal dari kawasan Asia Pasifik, sementara pelanggan dari AS dan Kanada bertambah sekitar 700.000 pelanggan, tetapi sebagai platform streaming yang mendominasi pasar global, nyatanya perjalanan dari perusahaan ini tidaklah mudah.

Sebelum menjadi layanan streaming video teratas di dunia, Netflix memulai cara dengan mengirimkan DVD ke pelanggan melalui pos.

Lantas, seperti apa perjalanan Netflix hingga bisa mencapai kesuksesan yang luar biasa? Berikut ulasan Bisnis selengkapnya.

Perkembangan Awal Netflix

Netflix didirikan pada tahun 1997 oleh Reed Hastings dan Marc Randolph di kota kecil California bernama Scotts Valley di wilayah Santa Cruz.

Jika sebelumnya banyak media yang mengatakan bahwa penciptaan Netflix didasari oleh denda sebesar US$40 yang Reed Hastings dapatkan karena terlambat mengembalikan sewaan kaset Appolo 13 yang dirinya pinjam selama enam minggu.

Namun, menurut Marc Randolph, cerita itu tidak benar dan hanya lelucon pemasaran.

Sebaliknya, dilansir dari Make Use Of, Rabu (21/12/2022) awal mula Netflix tercipta ketika Reed yang seorang software developer mendirikan sebuah perusahaan dan menjadi CEO dari Pure Atria, sebuah perusahaan yang mengembangkan alat debugging untuk para insinyur. Bersama Reed, Marc sebagai Wakil Presiden Pemasaran Korporat, perusahaan ini terus mengalami peningkatan pendapatan yang sangat signifikan.

Hingga akhirnya, berkat prospek yang sangat cemerlang, menjadikan Pure Atria memutuskan go public di tahun 1995 dan Rational Software melakukan akuisisi pada perusahaan mereka berdua.

Karena adanya merger dengan perusahaan lain, Marc dan Reed berpikir bahwa cepat atau lambat posisi mereka berdua akan tergeser sampai akhirnya kehilangan pekerjaan.

Dari sana, Reed mengajak Marc untuk membuat ide bisnis bagi mereka berdua, di mana Reed akan mendanainya. Pasalnya, dia telah mengantongi uang sebesar US$750 juta dari hasil akuisisi.

Terobsesi dengan Amazon

Awalnya, Marc terobsesi untuk menjadi seperti Amazon.com dan mulai mengajukan segala macam ide e-niaga, mulai dari papan selancar, tongkat bisbol yang dibuat khusus, hingga sampo pengiriman rumah. Sayangnya, Reed menolak dan mengatakan bahwa hal itu tidak akan pernah berhasil.

Meski idenya ditolak, Marc tidak menyerah. Beberapa waktu kemudian, Marc mendengar tentang produk baru yang ditemukan di Jepang yang bernama DVD. Dia menyadari DVD akan segera menggantikan Kaset VHS sebagai standar tontonan di rumah.

Dia pun akhirnya mendiskusikan kepada Reed soal gagasan itu. Alhasil, Reed pun setuju untuk menyediakan layanan penyewaan DVD. Penyewaan ini bertujuan agar setiap orang dapat menonton film sepuasnya dan DVD akan langsung dikirim ke rumah melalui pos. Mereka menguji konsep ini dengan mengirim sekeping DVD ke alamat mereka sendiri. DVD diterima secara utuh, dan lahirlah gagasan untuk mendirikan Netflix.

Setelah beberapa iterasi dalam beberapa tahun pertama, Netflix akhirnya membuat model bisnis yang sukses, di mana pada tahun 1998 diluncurkan Netflix.com, situs penyewaan dan penjualan DVD pertama.

Kemudian, pada tahun 1999, layanan langganan Netflix memulai debutnya. Dengan pengguna yang makin besar, membuat Netflix memperkenalkan fitur antrian yang digunakan pelanggan untuk menentukan urutan pengiriman DVD kepada mereka dan sistem pengiriman yang secara otomatis mengirimkan DVD segera setelah DVD sebelumnya dikembalikan.

Pada awalnya, Netflix akan mengemas DVD dalam amplop putih, dan baru pada tahun 2000 Netflix mengubahnya menjadi amplop kuning. DVD tiba dalam paket tipis dengan sampul pengembalian berbayar di dalamnya, dan Netflix menanggung semua biaya pengiriman.

Formula ini terbukti sukses, dan Netflix terus menambah pelanggan. Dalam lima tahun peluncuran, Netflix mengirimkan jutaan DVD setiap hari.

Timeline Perjalanan Netflix

29 Agustus 1997 : Netflix terdaftar di Scotts Valley, California. Reed Hastings dan Marc Randolph mendapat ide untuk menyewakan DVD lewat pos. Mereka menguji konsep ini dengan mengirim sekeping DVD ke alamat mereka sendiri. DVD diterima secara utuh, dan lahirlah gagasan untuk mendirikan Netflix.

14 April 1998 : Netflix.com, situs penyewaan dan penjualan DVD pertama, telah diluncurkan dan memiliki sekitar 900 judul film.

1999 : 239.000 pelanggan mendaftar. Situs Netflix kian menambah koleksi hingga 3.100 judul film. Sayangnya, hubungan antara Marc dan Sony memburuk, alhasil membuat pertumbuhan Netflix menjadi lamban, Reed akhirnya memutus hubungan kerja bersama Marc yang saat itu menjadi Presiden dan mengambil alih sebagai CEO.

2000 : Reed Hastings mendekati mantan CEO Blockbuster John Antioco dan memintanya untuk membeli Netflix seharga US$50 juta. Namun, John menolak. Sementara itu, Netflix terus melakukan pengembangan sistem berupa rekomendasi film yang dipersonalisasikan menggunakan nilai yang diberikan anggota Netflix untuk memprediksi pilihan berikutnya secara akurat.

2001 : Netflix mencapai satu juta pelanggan dan terus berkembang.

2002 : Netflix membuat penawaran umum perdana (IPO) dengan harga jual US$1 per lembar saham di NASDAQ di bawah ticker NFLX. Netflix membuka gudang regional, menghadirkan pengiriman semalam sebagai tanggapan atas keluhan pelanggan bahwa terlalu lama untuk mendapatkan DVD mereka.

2003 : Marc Randolph meninggalkan Netflix dan menjual sahamnya.

2205 : Fitur Profil diluncurkan agar para anggota bisa membuat berbagai daftar untuk pengguna yang berbeda-beda dan/atau suasana hati yang berbeda.

2006 : Netflix akhirnya menjadi menguntungkan, menghasilkan lebih dari US$80 juta. Pelanggan naik menjadi 6,3 juta.

2007 : Lalu diperkenalkanlah streaming agar para anggota bisa langsung menonton serial dan film.

2008 : Netflix bermitra dengan perusahaan elektronik konsumen untuk melakukan streaming di Xbox 360, pemutar Blu-ray, dan dekoder TV.

2009 : Setelah hampir tiga tahun dan 40.000 pengiriman, Penghargaan Netflix senilai US$1 juta diberikan kepada tim Bellkor’s Pragmatic Chaos atas peningkatan akurasi rekomendasi sebesar 10 persen. Kemitraan streaming berkembang ke TV yang terhubung dengan Internet ketika keanggotaan melampaui 10 juta. Lalu, diterbitkanlah Netflix Culture Deck.

2010 : Netflix masuk ke Kanada dan layanan streaming diluncurkan di perangkat seluler. Pengalaman menonton khusus anak-anak yang pertama memulai debutnya lewat streaming.

2011 : Netflix membagi bisnis streaming dan bisnis persewaan DVD menjadi dua paket berlangganan yang berbeda: Netflix untuk streaming dan Qwikster untuk persewaan DVD.

2012 : Netflix mulai membuat acara orisinal. Pertunjukan pertamanya adalah Lilyhammer , diikuti oleh House of Cards pada 2013. Sejak itu, telah menghasilkan lebih dari 1.900 orisinal (menjadi salah satu layanan streaming terbaik untuk konten orisinal ), banyak di antaranya, seperti Squid Game dan The Crown, telah berlanjut. menjadi sangat populer dan memenangkan banyak penghargaan.

2013 : Netflix memperkenalkan profil pengguna dan meluncurkan fitur ini ke semua pelanggan Netflix di bulan Agustus.

2015 : Netflix hadir di 50 negara.

2016 : Netflix ditayangkan di 130 negara secara bersamaan dan menambahkan bahasa lokal ke antarmuka pengguna, subtitle, dan sulih suara.

2017 : Netflix resmi mencapai 100 juta pelanggan di seluruh dunia.

2021 : Netflix mencapai 209 juta pelanggan di lebih dari 190 negara.

2022 : Netflix kehilangan 200.000 pelanggan pada kuartal pertama, ini menjadi insiden pertama kalinya dalam jangka waktu lebih dari sepuluh tahun.

Masa Depan Netflix

Meski, Netflix secara agresif membuat konten orisinal untuk pemirsa lokal. Namun, selama bertahun-tahun, Netflix telah mendapatkan pesaing, termasuk Disney+, Hulu, ESPN+, Prime Video, HBO Max, dan YouTube TV.

Pesaing ini banyak berinvestasi dalam berbagai cara untuk menghibur audiens mereka. Untuk tetap menjadi yang terdepan, Netflix mungkin harus merangkul teknologi baru yang muncul dan mencoba menjaga kontennya tetap segar.

error: Content is protected !!