Jerry Ng, Jadi Taipan Lalu Hartanya Lenyap Rp 39 T Tahun Ini

portalutama.comJakarta, CNBC Indonesia – Nama Jerry Ng mulai dikenal masyarakat luas setelah aksinya mencaplok bank digital menarik perhatian investor pasar modal. Harga sahamnya yang menggelembung ikut membuat eks Bankir BTPN mendapati kekayaannya naik berlipat ganda dan sempat masuk jajaran tujuh orang terkaya di Indonesia. Lalu bagaimana sepak terjang Jery Ng memperoleh kekayaan dari pasar modal dan apa yang terjadi hingga hartanya bisa lenyap Rp 39 triliun tahun ini?

Nama Jerry Ng sejatinya telah lama harum di kalangan pelaku industri perbankan. Pria 54 tahun ini telah berkarier sebagai bankir lebih dari setengah umurnya. Kariernya dimulai setelah memperoleh gelar sarjana dari Universitas Washington, Amerika Serikat.

Selama lebih dari 30 tahun malang melintang di sektor finansial, Jerry Ng sempat berkali-kali pindah tempat kerja, mengisi banyak posisi berbeda hingga jabatan tertinggi yang dapat diperoleh bankir di tangga karier korporat.

Sejumlah jabatan penting yang pernah diisi termasuk Jerry Wakil Direktur Utama Bank Danamon Indonesia (BDMN) dan Bank Central Asia (BBCA). Deputi Ketua Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), President Director di Federal International Finance, Senior Advisor di TPG Capital, dan terakhir menjabat sebagai Direktur Utama Bank BTPN (BTPN).

Karier terakhir tersebut menjadi salah satu milestone paling penting dalam perjalanan Jerry Ng menjadi salah satu taipan RI. Di bawah Nakhoda Jerry, BTPN tidak lagi sekadar dikenal sebagai bank pensiunan. Dirinya membawa BTPN menjadi bank mass market yang inovatif dalam mengadopsi teknologi digital untuk meningkatkan pelayanan nasabah. BTPN menjadi bank terbaik di kelasnya dan berhasil meningkatkan kinerja keuangan BTPN dengan positif.

Selama menjadi direktur utama perusahaan – akhir 2007 hingga 31 Januari 2019 – aset, kredit dan dana pihak ketiga BTPN naik sekitar 10 kali lipat. Peningkatan kinerja BTPN ditopang dari sejumlah bisnis baru, termasuk perbankan digital. Di bawah kendalinya, BTPN meluncurkan Jenius yang merupakan salah satu pemain paling awal dan cetak biru bank digital Tanah Air.

Kesuksesan ini ternyata tak membuat dirinya puas. Sebaliknya, Jerry malah merasa tertantang untuk mengembangkan bank digital miliknya sendiri. Lalu muncul Bank Jago.

Akuisisi ARTO Hingga Jadi Taipan

Jerry Ng dan koleganya resmi mengakuisisi Bank Jago (sebelumnya bernama Bank Artos Indonesia) dari keluarga Arto Hardy sehari setelah natal tiga tahun lalu.

Keluarga Arti melego saham yang semula hanya bank mini di harga Rp 395 per saham atas 615,18 juta saham atau mewakili 51% kepemilikan, MEI sebesar 37,65% dan WTT 13,35%. Artinya secara total hanya merogoh kocek Rp 242,99 miliar.

Selain Jerry, koleganya, Patrick Walujo juga masuk ke ARTO melalui kendaraan investasi lain yakni Wealth Track Technology Ltd (WTT) yang berbasis di Hong Kong.

Per 26 Desember 2022, MEI dan WTT tercatat sebagai pengendali Bank Jago masing-masing menguasai 29,806% dan 11,686% saham ARTO. Berdasarkan prospektus rights issue ARTO awal tahun lalu, Jerry Ng diketahui menguasai 76,36% saham MEI, sedangkan WTT 100% dimiliki oleh Sugito Waluyo.

Saham ARTO melonjak signifikan setelah berpindah tangan ke Jerry Ng. Dalam upaya melancarkan adopsi bank baru miliknya ia bekerja sama dengan sejumlah pihak, termasuk salah satu penguasa ekosistem digital terbesar RI, Gojek.

Raksasa ride hailing RI ini masuk ke ARTO melalui PT Dompet Karya Anak Bangsa (GoPay), dan saat ini menggenggam sebesar 21,404% saham ARTO. Selain itu investor strategis yang ikut diajak masuk adalah kendaraan investasi dana kekayaan abadi Singapura, GIC Private Limited.

Sejak diakuisisi dan membawa pemodal baru, investor ritel bullish akan saham ARTO dan ramai-ramai mengantre ingin menjadi pemegang saham, pemilik bisnis bank masa depan. Dari harga akuisisi oleh Jerry Ng hingga akhir tahun lalu, saham ARTO mengalami kenaikan hingga 3.950%. Akhir tahun lalu saham ARTO parkir di level Rp 16.000 dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 221 triliun.

Alhasil kekayaan ikut menggelembung dan tercatat sebagai orang terkaya ketujuh RI tahun 2021 yang oleh Forbes hartanya diestimasi mencapai US$ 2,5 miliar atau setara Rp 35 triliun menggunakan asumsi kurs kala itu. Pada posisi puncak, kekayaan Jerry Ng dari kepemilikan saham ARTO sempat nyaris mencapai Rp 60 triliun, berdasarkan perhitungan Tim Riset CNBC Indonesia.

Kinerja Saham Buruk, Kekayaan Lenyap Rp 39 T

Saham ARTO sempat menyentuh level tertinggi pada akhir Januari tahun ini dan kala itu mampu membuat perusahaan ini masuk sebagai 5 besar emiten dengan kapitalisasi pasar (market cap) terbesar, yakni mencapai lebih dari Rp 260 triliun. Namun sejak menyentuh harga tertinggi saham ARTO rontok hingga 81%.

Pelemahan ini terjadi karena banyak investor yang mulai mengukur langkah akan potensi Bank Jago untuk melakukan ekspansi cepat sembari secara cermat memperbaiki kinerja bottom line. Selain itu, faktor eksternal ikut mempengaruhi seperti kerekan suku bunga The Fed yang diikuti bank sentral global lain yang pada akhirnya turut membebani pasar modal RI.

Faktor eksternal lain yang ikut mengayunkan saham ARTO ke bawah datang dari partner yang semula menjadi malaikat. Kerja sama dengan Gojek merupakan salah satu alasan utama investor bullish di saham Bank Jago tahun lalu. Sebaliknya tahun ini kondisi malah berbaik, kinerja buruk GoTo Gojek Tokopedia (GOTO) ikut menyeret saham ARTO tenggelam di zona merah.

Menurut estimasi Tim Riset CNBC Indonesia, sepanjang tahun ini kekayaan Jerry Ng dari kepemilikan saham di Bank Jago lenyap Rp 39 triliun. Bank Jago sendiri saat ini memiliki valuasi Rp 48,64 triliun, mengerdil dari Rp 221 triliun yang dicatatkan awal tahun ini.

TIM RISET CNBC INDONESIA

error: Content is protected !!