Jelang Pengumuman BI Rate, IHSG Lesu! Ada Apa?

portalutama.com – Jakarta Setelah sempat dibuka menguat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tipis pada penutupan sesi I perdagangan kali ini (22/12/22). Sentimen utama pendorong pelemahan IHSG masih dari penantian pengumuman suku bunga acuan BI rate.

IHSG ditutup pada level 6.808,57 atau turun tipis sebesar 0,18%. Terdapat 288 saham menguat, 215 saham mengalami koreksi dan 188 lainnya konsisten tidak berubah.

Berdasarkan data statistik RTI business, tercatat sebanyak 11 miliar saham diperdagangkan dengan frekuensi perpindahan tangan sebanyak 592 ribu kali serta nilai perdagangan mencapai 4 triliun rupiah serta kapitalisasi pasar mencapai 9426 triliun.

Dilansir dari Bursa Efek Indonesia (BEI) via refinitiv, salah satu faktor pendorong pelemahan IHSG sesi I berasal dari turunnya indeks sektor energi. Sektor energi tergerus 1,10% dan menjadi sektor dengan kinerja paling lemah. Adapun saham andalan di sektor ini yang merosot antara lain saham dengan kode BYAN, AIMS, KKGI, BSSR, dan GEMS

Menarik untuk diulas, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi pemberat (laggard) paling besar IHSG pada hari ini. Diakhir perdagangan BYAN turun 3,12% menjadi Rp.17.950, padahal BYAN termasuk penahan koreksi IHSG selama empat hari perdagangan sebelumnya. Kendati demikian, jika dilihat dari performa indeks mingguan, BYAN masih menguat 36,24% dan 93,01% dalam sebulan.

Equity Analyst Samuel Sekuritas, Farras Farhan dalam Squawk Box, CNBC Indonesia (Kamis, 22/12/2022) mengatakan bahwa pengumuman suku bunga BI yang dijadwalkan pada pukul 14.30 nanti akan menjadi tren pada beberapa sektor seperti perbankan dan properti.

“Menjelang rilis suku bunga ini memang ini akan menjadi tren ya terutama bagi sektor perbankan, karena kalau kita lihat secara statistik memang ketika rilis suku bunga ini keluar, sektor perbankan biasanya yang akan memiliki dampaknya seperti dampak secara market maupun bisnis” ulas Farras.

Sejauh ini, dari deretan bank big cap, saham milik PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terpantau memimpin pelemahan yakni 1,15%. Disusul PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang turun 0,25%. BBRI dan BBNI sebaliknya, menguat masing-masing 1,02% dan 0,27%.

Farras lebih lanjut melaporkan adanya pelemahan dari sektor properti yang juga terdampak oleh pengumuman BI rate.

“Kita juga bisa melihat adanya pelemahan dari sektor property dimana mereka saat ini masih terdampak oleh pengumuman BI rate. Jadi memang menjelang pengumuman suku bunga nanti mungkin akan ada potensi koreksi sedikit”

“Namun apabila sektor perbankan kita masih relatif lebih kuat itu akan menjadi katalis pendorong IHSG untuk kedepan” tambahnya.

Sebagai informasi tambahan, pada perdagangan sesi I ini, PT Summarecon Agung Tbk dan PT Alam Sutera Realty Tbk menjadi bottom movers di sektor properti yang turun masing-masing sebesar 0,83% dan 0,60%.

Saat ini investor sedang dalam posisi berhati-hati terutama jelang pengumuman kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI) yang diperkirakan akan kembali menaikkan suku bunga acuannya pada hari ini.

Hasil survei Reuters menunjukkan BI akan mengendurkan suku bunga acuan dengan menaikkan 25 basis poin (bp) menjadi 5,5%. Konsensus yang dihimpun Trading Economics pun sama.

Sedangkan menurut Konsensus yang dihimpun Tim Riset CNBC Indonesia juga menunjukkan suku bunga akan dikerek 25 bp. Dari 14 institusi yang terlibat dalam pembentukan konsensus tersebut, 12 lembaga/institusi memperkirakan hal tersebut, sementara dua lainnya melihat suku bunga akan dinaikkan 50 bp.

Memiliki perspektif berbeda, Bank Danamon dan Bahana Sekuritas malah memproyeksi BI masih akan agresif dengan mengerek suku bunga acuan sebesar 50 bp menjadi 5,75%.

error: Content is protected !!