Jalan Pedang Tiga Puan | merdeka.com

Merdeka.com – Ribuan perempuan dalam satu ruang besar. Dalam irama dan gerak sama. Kepala tertunduk, jemari tangan bergerak cepat. Melinting tembakau bercampur cengkeh. Dari kedua tangan ribuan kaum perempuan itulah sigaret kretek tangan dihasilkan. Lalu dipasarkan. Mendatangkan pundi uang bagi pemilik perusahaan.

Para perempuan itu bekerja sebagai buruh PT Agric Amarga Jaya. Sebuah pabrik sigaret kretek di Salatiga, Jawa Tengah. Sejauh mata memandang, buruh di pabrik itu kebanyakan kaum perempuan.

Perempuan direpresentasikan dengan keuletan, cekatan, memiliki kesabaran, dan ketelitian. Sederet alasan yang menjadi pertimbangan, mempekerjakan kaum perempuan.

“Pekerjaan yang memang lebih maksimal dilakukan oleh perempuan,” ujar supervisor yang mendampingi merdeka.com saat berkunjung, Sabtu (1/10).

infografis pekerja perempuan indonesia

©2022 Merdeka.com/Grafis : Amar Choiruddin

Buruh Perempuan

Sri Sunarti (48) sudah 22 tahun melinting tembakau di pabrik itu. Faktor ekonomi yang menguatkan hati Sri untuk bertahan sebagai buruh dengan gaji tak seberapa. Namun dari keringatnya, Sri mampu membiayai dua anaknya bersekolah hingga ke jenjang pendidikan tinggi.

Tak hanya itu, roda ekonomi keluarga pun bisa berputar. Meskipun tidak bergerak cepat. “Dari sini saya bisa menafkahi keluarga saya, menyekolahkan anak saya sampai tuntas, dan merenovasi rumah,” ungkap Sri.

Setiap hari Sri menempuh jarak sekitar 6 kilometer dari kediamannya, menuju pabrik. Dia harus sampai sebelum matahari beranjak tinggi. Pukul tujuh pagi, Sri dan buruh di pabrik itu sudah mulai melinting tembakau dan cengkeh.

Buruh di pabrik itu harus bekerja selama tujuh jam. Setiap buruh ditargetkan menyelesaikan 500 batang sigaret kretek per jam. Dengan hitungan itu, dalam satu hari mereka harus melinting 35.000 batang sigaret kretek.

buruh pabrik rokok kretek di salatiga

Rasa lelah kerap tak bisa disembunyikan. Seiring bertambah usia Sri menuju senja. Namun rasa syukur lebih diutamakan. Dari pabrik ini, Sri mendapatkan banyak pelajaran penting dalam hidup. Soal ketekunan dan keikhlasan.

Ketangguhan Sri dan seluruh buruh perempuan yang bekerja di industri rokok tak diragukan. Menjalankan peran ganda perempuan. Terlihat jelas, indentitas mereka sebagai buruh rokok. Dan di sisi lain, urusan domestik saat mereka kembali ke rumah. Dua peran yang ditempuh seiring sejalan.

“Kami mohon lindungi kami sebagai pekerja,” harap dia.

Perempuan Penjaga Alam

Jika Sri berjuang untuk menghidupi keluarga, Deti Kurnia juga punya peran menjaga kehidupan. Deti adalah penjaga kelestarian alam, modal bagi kehidupan masa depan.

Usia muda dan perempuan. Dua hal yang sempat membuat Deti khawatir. Dipandang sebelah mata untuk mengemban tugas sebagai penjaga taman nasional di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Kompetensinya dalam menjaga kelestarian alam kerap dipandang tak utuh oleh masyarakat setempat. Beraktivitas sejak pagi hingga petang, tak cukup ampuh membuka celah bagi Deti untuk membuktikan kemampuannya.

Premis “perempuan merepotkan” itu sempat datang dari kaum lelaki. Deti bergeming. Mengabdi untuk alam terus dilakukan dengan beragam pendekatan. Di sinilah ‘naluri’ perempuan, menjadi jalan masuk terhadap masyarakat setempat. Dia memilih bercengkerama dengan anak-anak dan ibu-ibu sebagai bentuk pendekatan.

Pendekatan itu kemudian menyentuh emosi para bapak di sana, hingga akhirnya membuka pintu bagi Deti dan rekannya memberikan edukasi.

“Kita pun akhirnya diundang ke forum-forum diskusi masyarakat,” ujarnya.

deti kurnia srikandi penjaga hutan perbatasan

Perempuan dan penjaga alam, tidak bisa diremehkan. Perlu mendapat apresiasi sesuai perannya. Bagi perempuan berdarah Sumatera itu, alam memberi kesempatan dan porsi yang sama bagi laki-laki ataupun perempuan. Dia mencontohkan, tidak semua medan di hutan ataupun sungai mampu ditaklukan perempuan. Sebaliknya, ada sisi yang membutuhkan kekuatan emosional perempuan untuk menyelesaikannya.

“Perempuan itu juga dibutuhkan cara berpikirnya, cara pelaksanaan di lapangan bagaimana yang logis, semuanya bisa dikombinasikan,” tuturnya.

Di saat remaja lain menyandarkan diri pada kemewahan kota dan seisinya, Deti justru memilih menyatu dengan alam. Dua tahu terakhir dia berusaha memastikan agar alam hijau dan langit biru masih bisa menjadi tempat layak untuk anak cucu Adam. Pilihan hidupnya telah memberi makna besar bagi Deti sebagai kaum perempuan.

Menjunjung tinggi peran perempuan bukan sebagai upaya menegasikan peran laki-laki. Perempuan perlu diberi kesempatan yang sama dengan kaum lelaki. Sebab, ‘ibu bumi’ juga membutuhkan sentuhan tangan dan pemikiran perempuan.

“Jadi sebenarnya alam itu ramah untuk laki-laki atau perempuan. Dan sekarang sepertinya sudah banyak perempuan tertarik menjaga alam, di Kementerian Lingkungan Hidup sudah banyak perempuan yang mendaftar hingga diterima,” katanya bangga.

Perempuan dan Kesetaraan

Kisah ketiga dalam cerita ini datang dari Angkie Yudistia. Dia memberi gambaran nyata peran strategis perempuan dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Angkie adalah juru bicara Presiden RI Joko Widodo.

Dia berjuang mengangkat persoalan yang berkaitan dengan pemberdayaan kaum difabel. Angkie meyakini, peran perempuan dalam mengambil kebijakan sudah berada pada titik yang paling sentral.

Tengok saja jajaran kursi menteri yang diisi para puan. Peran mereka beragam. Ada di setiap sendi kebijakan negeri. Mulai dari ekonomi, diplomasi antarnegara, masalah sosial, ketenagakerjaan, hingga pemberdayaan manusia. Peran perempuan sudah terwakilkan.

“Kehadiran sejumlah menteri perempuan juga merupakan indikasi, bahwa perempuan memiliki peran sangat strategis untuk mengambil kebijakan yang berdampak langsung kepada masyarakat,” ucap Angkie.

stafsus angkie yudistia bertemu sultan hb x

Angkie masih ingat betul jalan berkerikil tajam yang harus dilalui sebelum sampai di titik ini. Dia pernah merasa minder dan rendah diri. Belum lagi hantu bernama ‘diskriminasi’ terhadap perempuan tuna rungu.

Dia memupuk tekatnya. Mengubur segala kekhawatiran yang bersemayam dalam pikiran. Sekuat tenaga mengeluarkan segala kemampuan diri agar tak tergerus stereotipe bahwa perempuan lebih mengutamakan emosi dibanding nalar dan logika berpikir.

“Sebagai Staf Khusus Presiden yang tidak hanya perempuan namun juga disabilitas, memang pada awalnya saya merasa ini sebagai hambatan serius yang akan saya temui selama saya menjalankan amanah,” ucap Angkie.

Bagi Angkie, perempuan tidak harus membuktikan diri memiliki kekuatan yang sama seperti laki-laki. Namun, hal yang perlu diperjuangkan dan dijaga adalah kesempatan yang sama bagi perempuan maupun laki-laki.

“Sehingga kita tidak hanya mengisi ruang tapi memberi warna positif atas bidang yang kita lakoni,” tutupnya.

[noe]


Artikel ini bersumber dari www.merdeka.com.