Ini Alasan Polisi Belum Naikkan Status Kasus Kekerasan Mahasiswa UIN Palembang

Merdeka.com – Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Sumatera Selatan belum menaikkan status laporan dugaan kekerasan yang dialami mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, ALP (19).

Dirkrimum Polda Sumsel Kombes Pol Anwar Reksowidjoyo mengungkapkan, penyidik masih mempelajari laporan korban terlebih dahulu. Hal ini membuatnya belum bisa menjelaskan secara gamblang kasus tersebut.

“Akan kami lengkapi dulu berkasnya. Baru kami proses tindak lanjutnya,” ungkap ungkap Anwar, Jumat (7/10).

Dikatakan, sejauh ini penyidik belum memeriksa para terlapor dan saksi-saksi lainnya. Sementara barang bukti belum juga dikumpulkan sehingga laporannya masih pada tahap penyelidikan.

“Kan baru pemeriksaan awal, saya belum bisa sampaikan LP-nya ke mana-mana dulu, ini lagi proses nanti kalau sudah ada perkembangan baru kami kasih tahu,” ujarnya.

Meski demikian, Anwar berjanji akan menuntaskan kasus ini dan mengungkap siapa pun yang terlibat. Jika ditemukan barang bukti yang cukup akan dinaikkan menjadi penyidikan dan terlapor dijadikan tersangka.

“Tetap diproses sampai tuntas,” tegasnya.

Diketahui, korban melapor ke polisi setelah dikeroyok sejumlah seniornya didampingi keluarga dan kuasa hukumnya ke Mapolda Sumsel, Selasa (4/10) malam. Keluarga berharap para pelaku diberikan sanksi sesuai hukum yang berlaku.

Kuasa hukum korban, Sigit Muhaimin mengungkapkan, pengeroyokan dan perundungan berawal dari pengumuman pendaftaran calon anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Khusus Penelitian dan Pengembangan (UKMK Litbang). Calon peserta diminta uang pendaftaran sebesar Rp300 ribu karena pelatihan dasar akan digelar di Bangka Belitung.

Nyatanya, diksar berlangsung di Palembang, namun calon anggota tetap harus membayar uang pendaftaran yang ditetapkan. Bahkan, sehari sebelum diksar dimulai, peserta harus membawa bekal sendiri, seperti sembako.

Tak terima dengan pungutan itu, korban yang merupakan panitia konsumsi diksar membocorkan kepada para calon anggota terkait dugaan pungli ketika menyetorkan uang pendaftaran dengan dalih sebagai biaya konsumsi. Padahal, mereka telah menyiapkan keperluan logistik sebelumnya.

“Karena korban membocorkan informasi itu, seniornya marah dan mengeroyok korban sampai disundut api rokok dan ditelanjangi,” ungkap Muhaimin.

Dari keterangan kliennya, terduga pelaku berjumlah 10 orang. Korban mengalami banyak luka memar sehingga harus dilarikan ke rumah sakit.

“Secara hukum pidana sudah kami laporkan, tapi kampus harus bertindak tegas, berhentikan mereka sebagai mahasiswa, jangan hanya sanksi administrasi saja,” tegasnya.

[cob]


Artikel ini bersumber dari www.merdeka.com.