Jakarta: Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) Kristalina Georgieva menilai kemajuan luar biasa dalam reformasi selama beberapa tahun terakhir telah membuat Indonesia menjadi lebih tahan terhadap guncangan.
 
“Ketika covid-19 melanda, kekuatan fundamental makro Indonesia berhasil mencegah penurunan yang signifikan. Ada penurunan output ekonomi tetapi tidak sedalam di banyak negara lain,” ujar Georgieva, saat mengunjungi Sarinah bersama Menteri BUMN Erick Thohir dan Menparekraf Sandiaga Uno, di Jakarta, dilansir dari Antara, Senin, 18 Juli 2022.
 
Georgieva menyampaikan sangat penting untuk mencegah peningkatan kemiskinan dengan menargetkan bantuan sosial di tempat yang paling dibutuhkan. Meski dunia menghadapi dampak kondisi geopolitik akibat perang Rusia-Ukraina, namun pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tergolong kuat di atas lima persen dengan nilai inflasi relatif rendah sekitar empat persen.





Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia menyampaikan ada dua kebijakan yang penting untuk dilakukan guna melindungi Indonesia dari dampak eksternal akibat pandemi maupun geopolitik. Pertama, kebijakan fiskal harus berfokus pada bantuan yang tepat sasaran, bukan memberikan subsidi kepada semua orang, termasuk orang kaya, tetapi menargetkan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Menurut Georgieva, jika kebijakan fiskal menghabiskan terlalu banyak anggaran, hal itu dapat mendorong inflasi naik yang bisa menjadi masalah bagi kebijakan moneter. Langkah kedua, selama krisis akibat pandemi Bank Indonesia (BI) telah memberikan beberapa dukungan moneter bekerja sama dengan pemerintah yang akan selesai akhir 2022.
 
“Kami sangat menyarankan agar keputusan ini dihormati untuk melindungi ekonomi dari guncangan,” kata Georgieva.
 
Petinggi IMF itu mengunjungi Indonesia dalam rangka menghadiri pertemuan dengan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral G20, yang salah satu topik pembahasan mengenai tantangan ekonomi dunia. Selain menghadiri pertemuan G20, Georgieva juga bertemu dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) berbincang tentang strategi memperkuat ekonomi Indonesia.
 
Menparekraf Sandiaga Uno menyampaikan agenda IMF datang ke Indonesia sekarang berbeda dengan 25 tahun lalu, sesaat sebelum krisis moneter, di mana Indonesia menghadapi situasi yang betul-betul memprihatinkan dan IMF hadir dengan beberapa program kebijakan.
 
“Kalau kita bandingkan dengan sekarang, mereka datang bukan dengan program kebijakan justru ingin belajar tentang apa yang telah kita lakukan,” kata Sandiaga Uno.
 
“Indonesia sudah dianggap ada dalam suatu pembangunan yang betul-betul membuka peluang usaha terutama kepada UMKM dan lapangan kerja. Kebijakan kita membantu masyarakat yang membutuhkan sangat diapresiasi (IMF),” pungkasnya.
 

(ABD)

Artikel ini bersumber dari www.medcom.id.