Fairatmos Bantu Akses Pasar Karbon Lewat Teknologi

Data Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi tahun 2022 mengungkapkan, saat ini Indonesia memiliki hutan tropis seluas 125,9 juta hektare dan menjadi urutan ketiga terbesar di dunia. Dengan adanya keanekaragaman hayati yang dimiliki ini, Indonesia berperan penting untuk mengendalikan perubahan iklim secara signifikan dengan potensi penyerapan karbon emisi gas rumah kaca sebesar 113,18 gigaton.

Kesempatan ini juga terbuka luas kepada komunitas dan masyarakat untuk berkontribusi dalam melakukan penyerapan emisi gas rumah kaca. Namun dalam implementasinya, terdapat tantangan tersendiri yang dihadapi dalam peningkatan proyek penyerapan gas karbon. Pasalnya kebanyakan dari masyarakat memiliki keterbatasan kapabilitas teknis untuk memenuhi standar penghitungan potensi penyerapan karbon yang diperlukan.

Memahami kebutuhan tersebut, startup teknologi iklim Fairatmos mengembangkan suatu platform untuk mendukung pengembangan proyek penyerapan karbon bagi komunitas, korporasi, dan pihak lain yang berminat. Selain pengembangan proyek, Fairatmos juga membantu pengembang proyek dalam aspek pendanaan bersama entitas komersial dan individu.

CEO Fairatmos Natalia Rialucky Marsudi mengatakan, pihaknya ingin memudahkan komunitas dan masyarakat untuk mengakses pasar karbon. Ia menggarisbawahi komitmen Fairatmos dalam menyediakan akses yang merata bagi seluruh partisipan pasar karbon, seperti pengembang proyek, para tenaga ahli, donatur, dan penyeimbang, untuk secara kolektif membatasi kenaikan suhu global.

Salah satunya dengan meluncurkan kampanye #PulihkanAtmosfer. Inisiatif ini merupakan kampanye kolaboratif antara organisasi, universitas dan bisnis yang memiliki keinginan untuk berkontribusi aktif dalam mengembalikan keseimbangan pada atmosfer Bumi.

“Komunitas tapak, petani dan masyarakat merupakan kelompok yang sangat rentan terhadap efek dari perubahan iklim. Mekanisme pasar karbon hadir sebagai satu solusi, tetapi seringkali kita kesulitan dalam menyusun proyek penyerapan karbon karena adanya hambatan teknologi dan kebutuhan finansial. Disinilah Fairatmos menggunakan teknologi untuk menyediakan masyarakat terhadap akses yang lebih mudah kepada pasar karbon,” Natalia menjelaskan.

Fairatmos telah meluncurkan produk pertamanya yaitu Digital Pre-Feasibility Study (Pre-FS) untuk penyerapan karbon melalui konservasi mangrove. Platform digital ini membantu proses verifikasi karbon dengan ringkas yang mencakup identifikasi, standardisasi dan pemilihan metodologi, hingga pengecekan kelayakan proyek berdasarkan kriteria metodologis.

Halaman Selanjutnya

“Dengan proses biasa dapat memakan waktu 60 hari…


Artikel ini bersumber dari swa.co.id.