eFishery Dapat Pinjaman Rp 500 Miliar dari DBS Indonesia, untuk Apa Saja?

Co-Founder & CEO eFishery, Gibran Huzaifah dan Director of Institutional Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Kunardy Lie hadir pada acara penandatanganan nota kesepahaman pemberian pinjaman sebesar Rp500 miliar dari Bank DBS Indonesia kepada eFishery di Jakarta, Jumat (7/10/2022).

Bank DBS Indonesia dan eFishery  mengumumkan kerja sama dalam bentuk pinjaman jangka pendek (loan) senilai Rp500 miliar. Dana ini akan digunakan oleh eFishery sebagai modal kerja untuk meningkatkan pelayanannya di Tanah Air. Ini merupakan pendanaan pertama Bank DBS Indonesia pada sektor aquatech sekaligus pinjaman pertama bagi eFishery sejak didirikan pada tahun 2013 silam.

Data Food and Agriculture Organization (FAO) menunjukkan bahwa akuakultur merupakan salah satu sektor dengan pertumbuhan paling pesat selama 40 tahun terakhir dengan pertumbuhan rata-rata tahunan (CAGR) sebesar 18,7%. Sebagai negara dengan sumber daya alam yang mumpuni, Indonesia memiliki peluang untuk menjadi pemimpin di sektor akuakultur dalam skala global.

Direktur Institutional Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Kunardy Lie, menyatakan senang bisa memberikan pinjaman modal kerja kepada eFishery yang sangat visioner dalam memanfaatkan inovasi teknologi untuk memodernisasi ekosistem akuakultur dengan berfokus pada tambak udang dan ikan. 

“Kerja sama pertama Bank DBS Indonesia dengan perusahaan aquatech ini berupaya memajukan sektor akuakultur di Indonesia. Kami berharap pendanaan ini dapat mempercepat ekspansi bisnis eFishery, meningkatkan kualitas dan produktivitas pembudidaya ikan dan udang, serta menciptakan ketahanan pangan yang berkelanjutan. Komitmen Bank DBS Indonesia untuk bermitra dengan eFishery merupakan salah satu fokus kami untuk menumbuhkan industri ekonomi digital di Indonesia dan juga bagian dari keseriusan kami dalam mengelola bisnis dengan memerhatikan isu environment, social, dan governance (ESG),” tutur Kunardy Lie. 

eFishery memiliki fokus pada pembudidayaan ikan nila, gurame, patin, lele, mas, bandeng, bawal, dan beberapa jenis ikan air tawar lainnya, serta udang. Selain itu, eFishery kini menaungi puluhan ribu pembudidaya ikan dan udang di seluruh Indonesia. eFishery berhasil memanfaatkan inovasi teknologi untuk mentransformasikan model bisnis yang tradisional menjadi lebih modern dan terjangkau bagi pembudidaya ikan dan udang.

Melalui produk dan layanannya, baik teknologi budidaya, penyediaan pakan, pembiayaan, maupun jual beli ikan melalui ekosistem digital, eFishery berharap dapat meningkatkan produksi dan jangkauan hingga 300% di beberapa waktu ke depan. Selain itu, sektor ini berpotensi mengatasi masalah ketahanan pangan nasional dengan mengandalkan sumber pangan protein hewani yang berkelanjutan atau sustainable.

“Dana pinjaman ini untuk merealisasikan rencana strategis untuk merevolusi sektor akuakultur dan meningkatkan kesejahteraan pembudidaya ikan dan udang di Indonesia. Pembiayaan ini akan membantu mengakselerasi proses tersebut. Dengan adanya dukungan ini, kami akan mengembangkan produk dan layanan kami ke kancah internasional dan memberikan dampak yang lebih besar lagi ke sektor pangan,” ujar Co-Founder & CEO eFishery, Gibran Huzaifah. 

Berkomitmen untuk mencapai emisi nol bersih pada tahun 2050, DBS Bank Ltd (DBS) menggencarkan aksi dan advokasi yang berfokus pada isu keberlanjutan. DBS memiliki tiga pilar keberlanjutan sebagai dasar pemikiran, yakni Responsible Banking, Responsible Business Practice, dan Impact Beyond Banking. Sebagai realisasi dari pilar Impact Beyond Banking, Bank DBS Indonesia telah melakukan berbagai kegiatan untuk mengurangi limbah makanan melalui kampanye #MakanTanpaSisa yang sudah menyumbangkan 43 ton food impact sejak diluncurkan pada tahun 2020.

eFishery juga menerapkan hal sama, mengurangi pencemaran air dengan mengembangkan produk dan layanan, seperti automatic feeder yang bisa mengontrol pakan yang keluar agar semua pakan bisa dikonsumsi oleh ikan yang sedang dibudidayakan. Pemberian pakan konvensional berpotensi mencemari lingkungan karena pakan yang lama terlarut dalam air akan memicu kemunculan zat yang beracun bagi ikan. Selain itu, dalam praktik bisnisnya, eFishery juga sudah mengacu pada standar-standar sistem manajemen sosial dan lingkungan hidup.


Artikel ini bersumber dari swa.co.id.