Cegah Kekerasan Seksual, Havy Maahayaa Ajak Perempuan di Sidoarjo Lebih Berdaya

SURYA.CO.ID, SIDOARJO – Kasus kekerasan seksual dan pelecehan terhadap perempuan semakin marak terjadi beberapa waktu belakangan. Untuk mencegah agar peristiwa itu tidak terus terulang, perempuan harus lebih berdaya.

Demikian disampaikan oleh Ahaddiini Hayyu Maahayaati, founder Havy Maahayaa dalam kegiatan pemberdayaan perempuan bertajuk “Jejak Berantai Perempuan Bergerak By Havy Maahayaa” yang digelar di Desa Kedungkembang, Kecamatan Prambon, Sidoarjo, Senin (8/8/2022).

Kepada para ibu dan remaja perempuan yang ikut dalam kegiatan itu, Havy menyampaikan beberapa hal terkait pemberdayaan perempuan, kesetaraan gander, kekerasan seksual, pelecehan seksual serta bagaimana pencegahan sebagai upaya perlindungan diri pada perempuan.

“Warga Sidoarjo sangat penting untuk memahaminya. Karena angka kekerasan perempuan dan pelecehan seksual di Sidoarjo tergolong tinggi beberapa waktu belakangan,” kata perempuan yang akrab disapa Havy Mahaya tersebut.

Dia berpendapat, kesetaraan gender diharapkan dapat meredam segala kekerasan dan pelecehan seksual. Adanya paham kesetaraan antara perempuan dan laki-laki merupakan salah satu prinsip untuk menghentikan kasus kekerasan dan pelecehan berbasis gender.

“Karena itu, perempuan maupun laki-laki harus terlibat bekerja sama, ambil andil dalam berkontribusi bersama untuk menciptakan rasa saling aman dan saling menghargai satu sama lain,” ungkapnya.

Ketika kesadaran mengenai kesetaraan gender telah diterapkan, rasa saling menghargai antara perempuan dan laki-laki akan semakin tinggi. Hal ini akan menghindarkan segala kasus kekerasan dan pelecehan seksual.

“Intinya kekerasan dan pelecehan seksual itu dapat ditiadakan ketika kesetaraan gender sudah ditanamkan. Sehingga kaum perempuan akan dapat maksimal dalam meraih keberdayaannya, meskipun masih butuh perjuangan sampai pada tahap ini,” imbuh lulusan Magister Sosiologi Universitas Airlangga angkatan 2014 ini.

Di sela kegiatan itu, ibu-ibu dan para remaja putri juga diberi pembekalan pelatihan membuat hiasan dekorasi kue dan sejumlah pemberdayaan lain. Harapannya, agar para perempuan itu mampu berdaya dengan produk UMKM yang dibuat secara mandiri,  agar dapat berperan serta dalam membantu perekonomian keluarga.

“Perempuan seringkali dianggap lemah sebagai sosok pelengkap saja. Ada juga yang beranggapan bahwa peran perempuan hanya sebatas kelas kedua dengan segala tugas rumah tangga yang dianggap sebagai sebuah kewajiban mutlak. Ini sangat bertentangan sekali dengan paham kesetaraan gender yang mengajarkan kesetaraan dalam pencapaian hak asasi kita,” jelas Havy Mahaya.

“Makanya perempuan harus berdaya, mandiri dalam ekonomi dan beberapa hal lain, serta perlu saling memberi dukungan kepada sesama perempuan,” tandasnya.


Artikel ini bersumber dari surabaya.tribunnews.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *