Bima Arya akan Relokasi Permanen Warga di Zona Merah Tanah Longsor

Merdeka.com – Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto mengatakan warga yang berada di zona merah tanah longsor akan direlokasi. Bima memerintahkan seluruh camat dan lurah melakukan pendataan dan harus selesai dalam satu pekan.

Pemerintah Kota Bogor mulai memikirkan penanganan pasca-bencana, setelah seluruh korban tertimbun longsor di Gang Barjo, Kelurahan Kebon Kalapa, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, telah berhasil dievakuasi. Korban terakhir atas nama Cici (57) ditemukan pada Minggu (17/10) sekitar pukul 15.00 WIB.

Begitu pun dengan dua orang terseret banjir yang sempat hilang, yakni Adzra Nabila (20) yang ditemukan di Banjir Kanal Barat, Jakarta Barat, dan Komar warga Kelurahan Tegallega yang ditemukan di Sungai Ciliwung, Kecamatan Beji, Kota Depok.

Bima Arya menilai, ada dua titik longsor cukup parah hingga menimbulkan korban jiwa. Yakni di Gang Kepatihan dan Gang Barjo, Kelurahan Kebon Kalapa. Kemungkinan besar, warga yang tinggal di sana terutama tinggal di titik rawan akan dipindahkan.

“Harus ada solusi permanen. Kami akan koordinasi dengan ahli geologi sejauh mana kondisi titik rawan di Kota Bogor. Akan kita relokasi permanen. Saya beri waktu camat dan lurah satu pekan untuk pendataan,” kata Bima Arya, Senin (17/10).

Menurutnya, jika tidak ada solusi permanen, maka permasalahan seperti pekan lalu akan terus terjadi. Menurutnya, relokasi harus dilakukan demi keselamatan warga, terutama mereka yang tinggal di lokasi rawan, meskipun mereka menolak untuk pindah.

“Setelah dilakukan pendataan, nanti kita carikan lahan, anggaran. Gubernur siap membantu, saya kira Kementerian juga akan membantu. Karena jika tidak ada solusi permanen akan menjadi beban wali kota berikutnya, kalau saya hanya tinggal 14 bulan lagi,” beber Bima.

Meski begitu, relokasi hanya dilakukan untuk tempat tinggal warga yang berada di lokasi tanah genting atau sangat rawan dan darurat. Bima pun berharap warga mengikuti instruksi pemerintah.

“Harus ada solusi, meski warga menolak. Satu minggu data harus ada, kita koordinasi supaya ada relokasi untuk rumah yang betul-betul darurat,” tegasnya.

Di Gang Barjo, sedikitnya 139 orang dari 53 kepala keluarga harus mengungsi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, seperti longsor susulan dan dapat menimbulkan korban jiwa.

Para pengungsi pun merasa tidak kerasan tinggal di pengungsian. Namun pemerintah melarang mereka untuk kembali ke rumah sementara waktu, hingga kondisi benar-benar aman.

Sementara itu, Menteri Sosial Tri Rismaharini pun mengimbau masyarakat untuk bersabar. Pasalnya, cuaca ekstrem diprediksi masih akan terus terjadi Bogor dan sekitarnya. Kemensos juga berupaya membantu dengan menyiapkan kebutuhan dasar warga.

“Jika lihat kondisinya secara kasat mata, memang membahayakan sekali. Kami sudah siapkan pengungsian yang paling aman. Saya bukan ahli geologi, kita koordinasi terus dengan BMKG terkait cuaca. Kalau belum aman jangan pulang dulu,” kata Risma saat berkunjung ke Gang Barjo, Senin (17/10).

Cuaca ekstrem yang terjadi dua hari di Kota Bogor pada pekan lalu, menewaskan tujuh orang. Yakni Adzra Nabila (20) terseret banjir lintasan di Jalan Dadali. Kemudian Komar, terseret air bah di Sungai Ciliwung.

Sementara lima orang lainnya tewas tertimbun longsor. Yakni Bhabinkamtibmas Cibogor, Polsek Bogor Tengah, Jefry Butar-Butar. Dia tewas tertimbun longsor di Gang Kepatihan, Kelurahan Kebon Kalapa.

Kemudian empat orang tewas tertimbun longsor di Gang Barjo, Kelurahan Kebon Kalapa. Mereka adalah Saimah (75), Iwan (24), Dini (54) dan Cici.

[cob]


Artikel ini bersumber dari www.merdeka.com.