Bayangan Resesi 2023, Kemenkeu Bakal Hemat Sisa Anggaran Tahun Ini

portalutama.com – Kementerian Keuangan bakal memprioritaskan belanja berkualitas dan merencanakan membentuk cash buffer alias kas cadangan untuk menghadapi situasi yang sulit tahun depan. Banyak lembaga internasional yang memperkirakan terjadi resesi ekonomi global 2023 yang akan membuat ekonomi Indonesia melambat.

Hingga saat ini, anggaran belanja negara tersisa sebesar Rp 1.193 triliun. Pemerintah hanya punya waktu tiga bulan untuk merealisasikan anggaran ribuan triliun tersebut.

“Outlook kita arahnya biasanya cukup banyak tingkat penyerapannnya, tapi memang cukup tantangan sekitar Rp 1.200 triliun ini dalam tiga bulan,” kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Febrio Kacaribu dalam seminar Strategi Capai Ekonomi Kuat dan Berkelanjutan di Tengah Risiko, Jumat (28/10).

Febrio tidak secara gamblang membeberkan outlook belanja sampai akhir tahun. Namun ia menyebut defisit anggaran akan menyusut mendekati 3%, dari perkiraan terakhir pada 3,92%. Perkiraan defisit ini bahkan jauh di bawah target tahun ini 4,5%.

BACA JUGA

Sri Mulyani: Suramnya Global Akan Terasa ke Ekonomi RI Akhir Tahun Ini

Defisit anggaran mencerminkan realisasi pendapatan dikurangi belanja. Artinya jika belanja semakin kecil sedangkan pendapatan diperkirakan mencapai target berarti defisit makin kecil.

Perkiraan terhadap defisit yang menyusut tersebut menghitung kemungkinan belanja jumbo untuk membayar subsidi dan kompensasi energi yang mencapai Rp 502 triliun tahun ini. Realiasi subsidi energi sampai akhir bulan lalu sebesar Rp 124 triliun, serta pemerintah berencana membayar sekitar Rp 163 triliun kompensasi untuk Pertamina dan PLN dalam waktu dekat.

Lebih lanjut, Kemenkeu merencanakan anggaran yang belum terserap hampir Rp 1.200 triliun tahun ini akan dipakai untuk belanja berkualitas. Dana tidak akan dibelanjakan ‘jor-joran’ hanya karena ingin mengejar realisasi 100% di akhir tahun.

BACA JUGA

Pendapatan Negara Nyaris Tembus Rp 2.000 T, APBN Surplus di September

“Penghematan belanja itu bisa jadi cash tambahan bagi pemerintah untuk tahun depan yang perlu diantisipasi karena ketidakpastiannya tinggi. Kami pastikan akan punya cash buffer yang cukup dari 2022,” kata Febrio.

Cash buffer dari penghematan belanja tahun ini dapat meminimalisir risiko pasar keuangan global yang mengetat tahun depan. Pemerintah menargetkan defisit anggaran tahun depan sebesar Rp 598 triliun.

Dengan cash buffer bisa mengurangi besaran penarikan utang yang dipakai untuk menutup defisit tersebut.

“Tapi kalau kita punya cash buffer yang cukup dari 2022, mungkin kita bisa pakai cash itu sehingga kita tidak akan terlalu terekspos terhadap risiko pasar yang memang kita duga akan cukup ketat,” kata Febrio.

BACA JUGA

Video: Jokowi Ingatkan Sri Mulyani Hati-Hati Kelola APBN

error: Content is protected !!