Apresiasi APBN 2022 Sehat, DPR Usulkan 6 Langkah Hadapi 2023

portalutama.com – JAKARTA, Investor.id – Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR Said Abdullah mengapresiasi langkah Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang memastikan tata kelola APBN 2022 tetap sehat.

Menurut Said, kondisi APBN tersebut menjadi modal yang baik menghadapi tahun 2023 yang ditengarai beradal dalam situasi tak menentu. “Selaku mitra kerja Menteri Keuangan dan Kementerian/Lembaga saya memberikan apresiasi yang setinggi tingginya atas kedisiplinan pemerintah mengelola keuangan negara dengan baik, sehat dan kredibel,” ujar Said saat diwawancara di Jakarta, Kamis (22/12/2022)

Meskipun demikian, kata Said, pemerintah khususnya Kementerian Keuangan perlu mengantisipasi dampak situasi global yang serba tidak menentu di Tahun 2023. Said mengusulkan 6 langkah persiapan dalam menghadapi risiko global dan domestik yang meningkat dibandingkan pada tahun 2022 ini.

“Pertama, sangat penting memaksimalkan realisasi APBN 2022 sebagai modal fiskal yang sehat menghadapi ketidakmenentuan ekonomi global ke depan, agar peran APBN tahun 2023 sebagai kekuatan shock absorber dapat bekerja secara maksimal, sehingga tidak mengganggu kelangsungan berbagai program strategis yang telah kita rencanakan pada tahun depan,” ujar Said.

Kedua, kata Said, harga harga komoditas strategis penopang komoditas ekspor cendrung mengalami penurunan. Menurut Said, situasi ini akan menjadi tantangan bagi pemerintah pada tahun 2023 untuk mengejar target penerimaan perpajakan dan PNPB. Karena itu, diperlukan effort dan contigancy plan yang memadai untuk mencapai target-target yang ditentukan.

“Ketiga, sinyalir berlanjutnya kebijakan suku bunga tinggi oleh sejumlah bank sentral berbagai negara terus menciptakan biaya dana bertahan pada posisi tinggi, meskipun yield SBN cukup moderat dibanding sejumlah negara, di level 6 persen-an pada sepanjang tahun ini,” tutur Said.

“Posisi ini menjadi modal yang sangat baik. Namun kita tidak boleh lengah, biaya dana bisa lebih tinggi ditengah situasi yang tidak menentu. Penting bagi pemerintah memitigasi dalam menyerap pembiayaan utang di tahun depan,” ungkap dia menambahkan.

Keempat, kata Said, kebijakan pembiayaan investasi melalui APBN harus lebih seleaktif dengan penekanan terhadap sektor-sektor produktif yang memiliki dampak multiplayer dan infrastruktur dasar untuk menopang target sumber daya manusia Indonesia yang unggul.

Kelima, percepatan transformasi energi nasional yang selama ini bertumpu dari Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk mengurangi resiko ketergantungan impor. Langkah ini untuk memantapkan ruang fiskal pada tahun depan dalam menghadapi gonjang ganjing ekonomi eksternal.

“Kelima, memperbaiki tata kelola subsidi baik energi maupun non energi agar dukungan anggaran subsidi dari APBN pada tahun depan lebih tepat sasaran dan punya dampak signifikan sebagai kekuatan penopang daya beli dan produktivitas rumah tangga miskin,” jelas dia.

Ekonomi Tumbuh

Lebih lanjut, Said mengatakan Indonesia sudah mendapatkan manfaat yang berlipat-lipat dengan tata Kelola APBN 2022 yang sehat dan implementasi kebijakan yang tepat. Inflasi Indonesia, tutur dia, terkelola dengan baik, jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan banyak negara, bahkan jika dibandingkan dengan negara negara maju.

“Hingga November 2022, inflasi kita mencapai 5,4 persen, jauh lebih rendah dibanding zona eropa mencapai 10,1 persen, Inggris 10,7 persen, Perancis 6,2 persen, Jerman 10 persen, Kanada 6,9 persen. Bahkan dengan negara negara di ASEAN, inflasi Indonesia masih lebih baik dibandingkan dengan Thailand 5,6 persen, Filipina 8 persen, Singapura 7,5 persen,” papar dia.

Selain itu, tambah Said, kinerja ekspor yang terjaga dengan baik mencatatkan surplus perdagangan hingga 31 bulan terakhir. Surplus neraca perdagangan Indonesia secara kumulatif dari Januari-November 2022 mencapai US$ 50,59 miliar, jauh lebih besar dibanding rentang Januari-November 2021 yang mencapai US$ 34,41 miliar.

“Berbagai insentif kebijakan dan kelanjutan program pemulihan ekonomi yang ditopang oleh APBN 2022 juga membuahkan terjaganya ekonomi nasional. Berbagai lembaga rating internasional seperti Fitch Rating, JRC, Moodys, dan lain-lain memberikan apresiasi yang sangat baik bagi peringkat kredit Indonesia, mulai dari BBB hingga BBB+,” tukas dia.

Bahkan, kata Said, sejumlah lembaga internasional juga menempatkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2022 ini sangat baik. IMF, tutur dia, memperkirakan ekonomi kita tumbuh 5,3 persen (yoy), Bank Dunia 5,2 persen (yoy), ADB 5,4 persen (yoy), Bloomber 5,3 persen (yoy).

“Artinya kita optimis ekonomi kita tahun ini tumbuh di atas 5 persen (yoy). Pertumbuhan ekonomi yang sangat baik telah mendorong penyerapan lapangan kerja baru yang bisa kita ciptakan pada tahun ini. Lebih dari 4 juta lapangan kerja baru tercipta pada tahun ini,” terang dia.

Disebutkan juga, tingkat pendapatan perpajakan melampaui target. Realisasi penerimaan perpajakan secara year to date mencapai Rp 1.634,36 triliun atau tembus 110 persen atau tumbuh 41,93 persen dibanding tahun lalu. Begitu juga penerimaan PNBP secara year to date mencapai Rp. 551,1 triliun atau 114,4 persen dari target. Dengan pendapatan negara yang sangat baik, maka Indonesia bisa ‘mengerem’ ketergantungan pada pembiayaan utang.

“Realisasi pembiayaan utang secara year to date mencapai Rp 540,3 triliun atau 57,25 persen dari target. Realisasi belanja negara juga terkelola dengan baik, secara year to date mencapai Rp 2.717, 6 triliun, atau 87,4 persen. Posisi ini membuahkan hasil tingkat defisit APBN 2022 terhadap PDB jauh lebih rendah dari yang kita rencanakan. Target APBN 2022 defisit kita rencanakan maksimal 4,5 persen PDB, namun realisasinya 1,22 persen PDB,” pungkas Said.

error: Content is protected !!