APPSI Dorong ID Food Percepat Kinerja Demi Wujudkan Stabilitas Harga

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Fluktuasi harga pangan di pasar sering terjadi di dalam negeri, dan bahkan saat memasuki hari besar seperti hari raya keagamaan, harga pangan bisa naik berlipat-lipat.

Namun, jika musim panen tiba, harga pangan mengalami penurunan yang cukup drastis.

Ketua Umum Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Sudaryono menilai, hal ini terjadi karena belum ada tata kelola pangan yang memadai. Karena itu, harga pangan di pasar bisa berubah dengan cepat.

Menurut Sudaryono, masalah ini bisa diatasi oleh pemerintah. Caranya, kata dia, mempercepat kinerja Holding BUMN Pangan dengan nama ID FOOD yang telah diresmikan Menteri BUMN Erick Thohir pada Januari 2022 lalu. Holding BUMN Pangan diharapkan menghadirkan eksosistem sektor pangan yang solid.

Baca juga: Sri Mulyani: Harga Pangan Dunia Masih Akan Naik hingga 20 Persen di Akhir 2022

“Sektor pangan Indonesia masih menyisakan berbagai macam tantangan yang membuat RI tertinggal dari sejumlah negara tetangga, mulai dari masalah pasokan dan permintaan sampai keberpihakan pada petani yang perlu ditingkatkan. Hal ini tentu akan berdampak pada pedagang pasar,” kata Sudaryono di Jakarta, Selasa (9/8/2022).

Sudaryono menjelaskan, percepatan kinerja Holding BUMN klaster pangan diperlukan untuk mengatasi anjloknya harga pangan ketika barang oversupply, dan menjual serta mendistribusikan komoditas pangan tersebut ketika harga mengalami kenaikan guna menstabilkan harga.

Kemudian, kata dia, dengan adanya Holding BUMN Klaster Pangan ini sebenarnya akan mempermudah pemerintah dalam mengintervensi sejumlah harga pangan di pasar. Dengan begitu, harga pangan tidak akan mengalami kenaikan atau penurunan yang drastis.

“Masih banyak produk pangan yang belum diintervensi pada pasar pangan oleh pemerintah seperti daging sapi, daging ayam, telur, dan tepung. Harga komoditas sangat volatile di pasar,” ujarnya.

Dalam kesempatan ini Sudaryono mencotohkan Bulog saat ini tidak hanya ditugasi menjaga stabilitas harga beras. Melainkan komoditas pangan lainnya seperti kedelai, minyak goreng, gula, dan daging.

Kemudian, inovasi Perum Bulog mengeluarkan merek dagang produk pangan “KITA”. Langkah Perum Bulog ini patut diapresiasi. “Namun, kapasitasnya terbatas, sehingga tidak mampu menjangkau semua segmen pasar pangan,” katanya.

Menurut Sudaryono, agar inovasi Perum Bulog ini bisa menyentuh semua masyarakat maka diperlukan dukungan dan integrasi BUMN untuk memproduksi bahan pangan.

“Karena itulah, percepatan kinerja holding BUMN sektor pangan sangat mendesak untuk diwujudkan,” tutur Sudaryono.


Artikel ini bersumber dari www.tribunnews.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *